Writing Competition 2019 : Sebelum Nur dan Mas


(Ilustrasi dari Google images)

Kalian tahu Nurmas? Cahaya dan emas. Begitulah perumpamaan seorang wanita yang sangat ku sayangi. Ia adalah ibuku, Saniar Nur Alma.
Aku Hildan. Saniar Hildan Nurullah. Saniar adalah nama keturunan dari buyut-buyut sebelum ibu. Sedangkan nama Hildan, ayah dan ibu sudah sepakat memberi nama ku begitu. Kakekku Hiliyanto, ayah ku Dani. Hil-Dan. Begitu, sedangkan Nurullah berarti Cahaya-Cahaya Allah.
Dari aku berumur 7 tahun, ayah telah pergi. Sakit kanker paru-paru itu, membuatku menjadi kehilangan sosok seorang ayah. Allah memanggilnya terlebih dahulu.

“ibu, kenapa Tuhan memanggil ayah terlebih dahulu? Apakah Hildan sudah membuat ayah sedih?” tanyaku pada ibu, sembari menahan air mata berjatuhan, ibu menjawab.
“Karena ayah orang yang baik, nak.” Ibu memelukku sembari tanpa henti mendo’a kan aku. Setelah ayah meninggalkan kami, ibu menjadi sosok seorang ibu dan juga ayah untuk kedua anaknya. Apalagi ditambah aku yang memiliki adik perempuan yang menggemaskan, Saniar Asmaul Husna. Ayah pergi ketika Husna berumur 8 bulan.

Husna sekarang baru berumur 5 tahun, tapi ia sangat pintar. Ia sudah mengerti kenapa seorang Ayah yang seharusnya ia miliki, telah pergi.
“Hildan, tolong ambilkan air di sumur, ibu mau masak air.” Setelah mendengar perintah ibu aku bergegas mengambil ember di depan rumah kecil kami. Jarak dari rumah ke sumur hanya beberapa meter dari rumah. Aku melewati jalan setapak, dan menemui sumur yang bersih, kampung tempat ku tinggal masih asri. Walaupun sudah dari dulu-dulu sekali.
Satu ember terisi penuh, aku kembali berlari ke rumah. Air bergoyang-goyang hingga keluar dari ember kecil.

“ibu, ini air nya!” ibu segera keluar rumah membantuku mengangkat ember. “terima kasih, nak!” ibu memelukku hangat.
“ibu Alma,” Bu Santi, teman ibu, mengetuk pintu. “eh, bu Santi. Ada apa?” ibu mengelap tangannya di lap yang tergantung di dinding.
“ini bu, Malda, anak Pak Yayan, mau nikah, ini udangannya.” Setelah memberikan undangan Bu Santi cerita banyak sama ibu. Aku pergi main, Husna juga aku ajak. Kami bermain air, hingga terdengar adzan,
Allahuakbar… Allahuakbar…

“Husna! Adzan, pulang yuk!” Husna mengangguk setelah memakai handuk kami balapan lari ke rumah. Aku lupa satu aturan ibu.
Didepan rumah, ibu menyilangkan tangan di dada.

“ibu bilang apa Hildan, Husna, pulang sebelum adzan maghrib, kalian selalu melanggar.” Ibu berkata pelan tetapi tajam, “cepat ganti baju, lalu shalat.”
Ibu selalu mengajari kami disiplin, tegas, dan tahu waktu. Karena itulah ibu sering berkata tentang menepati aturan, dan tepat waktu.

Walaupun ibu GaTul, Galak Betul, ibu memiliki hati yang baik. Tidak pernah sekalipun ibu lupa dengan orang-orang yang kurang mampu, anak yatim, dan orang-orang lansia.
“hari ini, kalian kena hukuman. Tidak ada yang tidur dikasur.” kami hanya mengangguk. Malam begitu sunyi. Dingin, menusuk kulit. Ditambah kami tidur di lantai. Husna sudah tidur pulas. Ibu selalu seenaknya. Selalu menghukum, menghukum, menghukum. Salah dikit, di hukum. Ibu tidak punya perasaan.

“HILDAN! HUSNA! LIHAT INI JAM BERAPA! KALIAN BELUM SHALAT SUBUH!” setelah mendengar bentakan ibu, kami berlari ke kamar mandi. Setelah berwudhu, kami shalat.
“Hildan, Husna. Kalian mau sampai kapan seperti ini, hah? Kalian memang harus selalu di hukum. Baru nurut. Kenapa sih? Pusing ibu!” Husna menitikkan air mata. “terserah kalian sekarang.” Ibu kembali ke dapur.

“sudah, Husna.” Aku mengajak Husna kembali. Setiap hari pasti selalu seperti ini. Ibu selalu marah marah.  Sekarang waktunya sekolah.
Setelah belajar berjam-jam, waktu yang kami tunggu pun, datang.
TING! TING! Bell pulang berdenting, “begitu anak-anak. Sekarang waktunya pulang.” Ah, aku harus bertemu ibu lagi. Tapi tiba-tiba temanku, Malli, bertanya.

“Bu Ririn, memangnya orangtua harus disayang, ya?”, Bu  Ririn menjawab cepat, “Ya ampun, Malli, kamu ini bagaimana? Kelas 5 SD, masih bertanya seperti itu. Jawabannya tentu lah. Malli, tanpa  orang tua kita, kita bukan apa apa lho. Orang tua juga harus disayang, terutama ibu. Karena saat Rasulullah ditanya, siapa yang harus diutamakan dari ayah atau ibu, beliau menjawab ibu sebanyak 3 kali.” kami ber Oh bersamaan. Terkecuali aku.
“Assalamualaikum, ibu, Husna, Hildan pulang.” Aku membuka pintu. Langsung tiduran di kasur ruang tengah. “kebiasaan, Hildan. Seragam, tas, kaos kaki, simpen dulu. Terus cuci seragamnya. Kalau ada PR simpen meja, kerjain.” Ibu berkacak pinggang. Dimarahin lagi, dimarahin lagi.
Karena aku ngga mau kena marah lagi, aku bergegas melakukan yang ibu suruh.
“lamanya, Hil. Ibu aja udah selesai nyuci tuh.” Ibu menunjuk gunungan baju yang selesai dicuci. Terserah ibu lah… aku menyikat seragam, rendam dengan pewangi, jemur. PR, oh iya, PR Bu Ririn. “aduh Hildan, bukan gitu jemurnya.” Aduh, Ibu. Baru mau ngerjain PR. Eh, PR dari Bu Ririn apo yo?Oh iya, tuliskan pekerjaan ibumu dirumah! Marah-Marah.
“apa Bu? Itu udah bener, kok!” aku mencoba membela diri. “itu masa, numpuk sih!? Gini, lho!” ibu menunjukan caranya. Terserah aku sih, Bu!

“udah sana! Kerjain PR nya, kalau kamu ketauan main-main…” ibu menunjuk kayu yang ada di sebelah pintu. Ya, kalau aku belajar main-main, kayu itu tega mengenai betisku.
Aku segera menulis apa saja yang aku tahu, tentang kerjaan ibu di rumah. Beres-beres rumah, nyuci baju, ngurus aku sama Husna. Masak, nyiapin minum, ngerapihin kamar, ngepel lantai. Tunggu, setelah sekian lama aku baru sadar. Pekerjaan ibuitu… banyak. Numpuk, tapi… ibu bisa ngerjain semuanya. Dengan ikhlas, demi… aku dan Husna. Tanpa terasa air mataku terjatuh.

“Hildan?” saat aku menyadari ibu datang, aku menghapus air mataku. “i.. ibu… kenapa? Hildan lagi ngerjain PR, kok!” ibu mengangguk pelan. “PR apa?”,
“matematika,” aku berbohong. “oh, kerjain yang bener.” Ibu melangkah pergi. Sebenarnya yang harus marah itu, ibu. Yang harusnya kecapekan itu… ibu. Seharusnya aku bersyukur, ibu telah menjadi ibu sekaligus ayah untukku dan Husna.

Husna terkena demam. Sudah dua hari ia tidak beranjak dari tempat tidur. Ibu mengurus Husna sembari melakukan tugasnya. Ibu tidak pernah mengeluh, Ibu dengan ikhlas mengurus segalanya. Untuk kedua anaknya. Ibu… adalah segalanya, ia perempuan yang hebat. Ibu selalu berharap kepada Allah, agar selalu dimudahkan pekerjaanku. Agar aku menjadi anak yang sukses. Agar aku dan Husna selalu diberi kemudahan dalam segala hal. Aku baru menyadarinya sekarang. Ibu.., satu-satunya wanita yang sangat teguh dalam hidupku. Ibu… Terima Kasih…
“Hildan, ibu hampir lupa. Minggu besok kamu liburan kan? Kita ke Kampung Allakia ya? Pernikahan anak Pa Yayan. Jadi siap-siap, bawa baju sama yang diperluin aja. Semoga besok Husna udah sembuh.”

Do’a ibu memang mengalahkan Do’a siapapun ya, hari ini… Husna sudah sembuh, Husna udah bisa jalan lagi, ke kamar mandi sendiri dan sebagainya. Kami pun memeluk Husna senang, kata Bidan, Husna kena fase awalTipus. Alhamdulillah, sekarang Husna sudah sembuh. Ibu memang pahlawan yang sesungguhnya. Ibu bisa tabah, walau bagaimana pun juga. Aku sayang Ibu. Selesai mengerjakan PR, aku membereskan baju-baju yang ingin dibawa. Selesai semua baju, aku mandi sebentar, lalu pergi ke Masjid Al-Fath. Shalat Maghrib, mengaji dengan Ustadz Ali.
“anak-anak, tahu tidak? Siapa orang yang paling berjasa ke hidup kita?” semua mengangguk. “siapa?” Tanyanya lagi.
“Ayah dan Ibu!” Ustadz Ali tersenyum. “itu benar anak-anak..” aku hampir menitikkan air mata kembali. Mengingat jasa Ibu yang begitu besar, dan mengganti peran Ayah yang telah dipanggil Allah Swt.


Hari kepergian ke Malang pun tiba, kami telah rapi menggunakan baju pergi. “HILDAN! PAKAI BAJU KEMEJA!” aku menggeleng, “enakan kaos, Ibu..”.
“tidak, KEMEJA.” Ibu memaksaku menggunakan kemeja. Dengan helaan nafas berat, aku menurut. Lagi dan lagi.

Kami sampai di Stasiun Garbangga, pukul 1 siang, di stasiun sudah ramai. Maklum, hari libur. Setelah membeli tiket kereta, lalu menunggu dipanggil. Pukul setengah 2 siang, kereta jurusan Kampung Liraga-Allakia datang. Kami ada di gerbong satu. Di kelas ekonomi ini lumayan berdesakan, tetapi Nyaman. Barisan A nomer 1-2-3, kami di barisan paling depan. Ibu dan Husna melihat sekitar, Husna terlihat antusias menaiki Kereta.

PONG!!!  Kereta jurusan Kampung Liraga-Malang mulai mendesir, lalu berjalan. Kami berdo’a. perjalanan ini memerlukan waktu 5 jam. Aku membaca buku, Mesir, Negara dimana Semua Berakhir. Buku ini mengisahkan dimana Rijal, berpisah dengan ibunya di Negara Mesir.
“ibu.. dengar aku ibu,” Rijal menangis sejadi-jadinya.
“Rijal, ingatlah, dimanapun kamu berada kamu bersama Allah.” Setelah mengatakan itu Ibu Rijal meninggalkannya selamanya. “IBU!!”.

Aku menangis. Ibu.. tanpa ibu, aku jadi apa? Aku mungkin bagaikan Ikan tanpa air. Aku mengingat semua dosa yang telah kulakukan kepada ibu, banyak. Menggunung. Jika ada tingkat pemilik Dosa terbanyak di dunia, itu adalah Saniar Hildan Nurullah. Aku bukan Nurullah. Aku bukan cahaya. Aku kegelapan! Aku Kegelapan. KEGELAPAN. Ibu… maafkan aku.
3 jam berlalu, aku menamatkan 2 buah buku.  Ibu Maafkan Aku, dan Dalam Dunia Mimpi Buruk. Kedua buku ini mengingatkan aku jasa seorang ibu. Ibu itu ibaratnya Matahari. Tanpa adanya matahari, dunia ini gelap gulita. Ibu, tiada manusia yang dapat menggantikannya. Dia adalah perempuan yang hebat!

PONG!!! Bunyi peringatan memasuki jembatan terdengar. “ibu sebentar lagi kita kejembatan Tarasungai ya?” aku bertanya, Ibu tersenyum, lalu mengangguk. Dalam hitungan detik aku melihat hamparan luas Sungai Siwluk. Sangat indah, Subhanallah…

JGAR!!! Saat kami sedang melihat keindahan Sungai Siwluk, jembatan terhancur. Bagian depan jembatan runtuh. Kami semua terperanjat. Runtuhan itu tenggelam ditelan sungai Siwluk. Terkejut bukan main. Gerbong kami miring 180 derajat. Syukurnya masih tertambal dengan gerbong dua,

“ASTAGFIRULLAH!” ibu berseru, terperanjat. Pintu belakang gerbong dibuka paksa.
“BAPAK IBU CEPAT!” Walau dalam keadaan genting itu ibu mempersilahkan yang lain lebih dulu. “ibu kenapa mendulukan yang lain!?” aku sedikit kaget dan kesal melihat ibu. “tenang Hildan, ada Allah tidak usah takut.” Ibu berkata pelan sambil tersenyum. Sekarang bagian kami. Gerbong sudah kosong, tidak ada orang, kecuali kami. JGGARR! Gerbong kembali goyang. Kami berlari, aku menggandeng Husna, berlari ke pintu. Alhamdulillah, dengan izin Allah, kaki ku sudah melompat dan mendarat di rel yang masih Kokoh. Saat ibu mau keluar, aku sudah senang. Tetapi Allah berkata lain. Gerbong itu tergoncang kembali, pertahanan itu rusak dan gerbong itu terjun, sebelum semua telat, ibu berkata.

“Hildan.. kau adalah sebelum Nur dan Mas, Matahari. Ibu menyayangi kalian, Hildan, Husna. Jadilah NURMAS YANG SESUNGGUHNYA. Selamat tinggal, cahaya-ku,” Ibu tersenyum. Senyuman terakhir yang kami lihat. Setelah itu, ibu tertelan Sungai Siwluk bersama Gerbong itu.
“IBUUUUUUUUUU!!!!” Aku dan Husna berteriak. Ibu tenggelam bersama puing puing jembatan dan Gerbong Satu. Kau adalah sebelum Nur dan Mas, Matahari. Aku terduduk lemas bersama Husna. Beberapa warga mengerubungi kami.
Kami kehilangan sosok penting dalam hidup kami sekali lagi.
Ayah Ibu. Berbahagialah disana.


Sekarang aku berumur 25 tahun. Ucapan ibu 13 tahun yang lalu menjadi kenyataan. Aku lulus kuliah dengan Cum Loude. Juga mendapat beberapa gelar yang saat itu aku sendiri yang mendapatkannya.  Salah satunya adalah gelar Cancellor Award. Setelah kejadian 13 tahun silam, 5 hari dicari, jasad ibu ditemukan dengan muka berseri dan bersih. Tanpa sayatan satu pun. Hanya Allah yang tahu. Tapi… terima kasih ibu. Aku dan Husna menziarah kuburan Ayah dan Ibu. Kami sujud dan menangis. Ayah Ibu, terima kasih… kami menyayangi kalian.

-SELESAI-


M. ALIF ARZADY






Post a Comment

Lebih baru Lebih lama