Aib dan Kesan Saling Bertemu

Dalam sebuah lingkungan rumah, ada saja faktor yang tidak dapat kita rasakan nikmatnya bertetangga atau sebaliknya. Baik dalam kondisi orang tua dengan tetangga, anak-anak kecil yang berinteraksi dengan sebayanya, kemudian pemuda dengan segala pergaulannya. Dosen agama saya pernah berkata dalam sebuah khutbah jum’at, “sepintar dan sebaik apapun orang tua mendidik anaknya jika lingkungan rumah dan perkampungannya jauh dari nilai-nilai baik dan tidak ada norma sosial yang lekat maka akan ada sebuah penjerumusan anak kita pada lingkungan yang tidak baik tersebut” ucapnya.

Saya selalu mengamati hal-hal yang sedang terjadi di sekitar saya, disadari atau tidak. Saya selalu membandingkan anak-anak kecil pada zaman ini dengan saat saya kecil pada zaman saya. Kemudian ada dua pengalaman menarik yang saya dapatkan dalam pola interaksi di masyarakat. Pertama, seperti halnya berdagang biasanya penjualan dan marketing terbaik dimulai dari penilaian mulut ke mulut. Ini juga berlaku bagi interaksi universal, dimana aib seorang tetangga akan tersebar dimulai dari mulut satu ke mulut yang lain. Hidup memang drama, orang-orang yang membuka aib dan bersebrangan pendapat ketika saling bertemu seperti tidak ada hal yang pernah dilakukannya, saling simpan keadaan dan simpan amunisi.

Kedua, pola interaksi bergaul dengan orang yang lebih dewasa. Menjadi anak “bawang” dalam komunitas yang tak sebaya membuat saya banyak berpikir dua kali, ya dua kali. Hal ini bisa didasari pada aspek psikologi diri saya karena saya tidak memiliki kakak laki-laki dan ini mempengaruhi pada sosok yang dekat dengan saya dengan umur yang lebih dewasa. Dengan tidak memiliki kakak laki-laki kandung di lingkungan keluarga saya, nampaknya secara alamiah saya mencari sosok tersebut.

    Dua pengalaman tadi yang membentuk sebuah pola pikir saya ditambah prinsip-prinsip yang diberikan orang tua terhadap saya. Dalam pengalaman tersebut terdapat sebuah perenungan yang mendalam pada diri saya.

Pada pengalaman yang pertama, perpecahan timbul dari informasi yang diberikan berlebihan pada sumber informasi yang pertama. Mungkin sudah kodrat manusia, membicarakan orang lain adalah topik yang sangat menarik untuk dikupas. Sadar atau tidak, ada banyak watak terlihat dari cara mereka berbicara. Ada yang biasa saja menanggapi ala kadarnya, sampai perubahan mimik dan intonasi suara memeragakan informasi yang pertama. Saya sempat berfikir kalau orang yang dibicarakan tau, bagaimana sakit hatinya orang tersebut serta menimbulkan perpecahan dan dendam jika yang dibicarakan aib bukan hal lain yang lebih positif. Mungkin akan pecah “perang dunia ketiga”.

Pengalaman kedua membuat saya seperti mengikuti waktu mereka, cara mereka memperlakukan dan menimbulkan kesan terhadap saya. Kalau dalam psikologi, bukan seberapa sering kita bertemu tapi seberapa berkesan pertemuan yang diberikan. Kesan-kesan ini bukan hanya kesan positif, kesan-kesan negatif tak kalah banyaknya. Kesan-kesan yang diberikan tersebut masih membekas sampai sekarang, entahlah seperti apa rasanya. Tapi ketika bertemu seseorang yang membuat kesan terhadap kita, jika kesan itu positif maka kebahagiaan yang datang namun sebaliknya jika kesan itu negatif yang ada hanya rasa canggung yang ada meski orang tersebut telah lupa memperlakukan apa terhadap saya.

Kedua pengalaman tadi pada akhirnya membentuk sebuah pola pikir saya beberapa diantaranya, berbahaya jika membuka aib orang dengan lawan bicara yang tak dipercaya.

Kedua, berkomunikasi dengan orang dewasa membuat kita mengikuti pemikiran mereka yang terlihat “dewasa” meski saya tidak tahu penilaian orang terhadap saya tentang kedewasaan ini.

Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung siapapun, hanya melemparkan pesan pada sang pembaca. Mudah-mudahan ada manfaat di dalamnya. Terima kasih, salam damai.

Oleh : Muhamad Fadli, saat ini aktif bergiat di Lembaga Sosial Kebijakan Publik, terkhusus Advokasi Pendidikan.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama