Pengalaman Belajar dari Desa


Dua hari sebelumnya saat artikel ini ditulis, yaitu pada (29 September 2020) adalah tepat satu tahun yang lalu saya mendapat kesempatan untuk membersamai kalangan akar rumput (masyarakat kelas bawah), dengan menjadi pendamping desa di masyarakat pedesaan. Saya melihat dan belajar bagaimana hidup ternyata begitu sederhana bagi mereka, tidak ribet dan merepotkan seperti yang sering kali kita pikirkan. Bagi mereka kebahagiaan bukan terletak pada materi yang melimpah ruah, saat pulang dari kebun dan membawa pulang ubi atau hasil bumi yang mereka tanam sendiri, hal sudah begitu cukup membahagiakan bagi mereka, karena mereka tidak menganggap dan mengukur harta materi sebagai kebanggaan dan valuasi bagi diri mereka. Bukan rumah megah, bukan kendaraan gagah, bukan itu bahagia bagi mereka. Tapi feeling dan cara mereka berpikirlah yang membuat mereka selalu bahagia walaupun minim dengan harta atau materil.


Lalu saat bakda magrib anak-anak mereka pergi ke surau dan pengajian, suara-suara tawa dan candaan mereka seringkali terngiang di telinga. Melihat mereka berangkat ke sawah dan kebun saat pagi dan pulang saat sore, saat malam menjelang biasanya mereka akan berkumpul dengan keluarga sembari ditemani kopi, teh dan beberapa panganan khas perkampungan, seperti singkong goreng dan ubi rebus. Lalu berdiskusi dan berbagi cerita tentang kehidupan sehari-hari, biasanya yang lebih tua, semisal kakek ataupun nenek akan memberikan nasehat dan wejangan-wejangan tentang hidup.


Mereka begitu luar biasa, karena lebih berpikir tentang bagaimana komunitas mereka bisa bekerjasama untuk kemajuan bersama, agar semua bisa merasakan kesejahteraan. Tapi hal ini akan kesulitan untuk kita temui lagi di saat ini, saat Kapitalisme dan liberalisme terus merongrong dan mengubah pola pikir masyarakat, mereka malah jadi berlomba untuk memperkaya diri sendiri dan bahkan bernafsu dan tamak untuk memperkaya diri sendiri.


Rasa persaudaraan, solidaritas, egaliter dan equality sudah mulai terkikis, maka apa yang harus kita lakukan? Tentu saja kita harus mengimbangi Kapitalisme dengan menyebarkan pemikiran yang progresif revolusioner, yang mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan melalui rasa solidaritas persaudaraan yang penuh dengan kesetaraan dan menjadikan kesederhaan sebagai panutan hidup. Sosialisme Progresif

1 Komentar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama