Menganalisa Era Baru 5.0, Socialedu Center Adakan Webinar

(Imam Maulana, Direktur Socialedu, kotak paling kiri barisan pertama. Dr. Abdul Rohman Hafid, Kotak ketiga dari kiri baris pertama)


SERANG (8/01) Socialedu Center menyelenggarakan webinar awal tahun 2022 pada Jum'at malam (7/01/). Lembaga edukasi dan sosial di Kota Serang itu menghadirkan narasumber Dosen dari Binus University, Dr. Abdul Rohman Hafid. Webinar yang dilakukan secara daring melalui media Aplikasi Zoom itu membahas tema tentang bagaimana dunia bekerja hari ini, "How The Worlds Works Today".


Dalam pembahasan yang berlangsung dinamis itu, topik tentang era society 5.0 yang dicetuskan Jepang dalam forum ekonomi dunia di Swiss pada 2019 menjadi fenomena baru yang di analisa sedemikan rupa.


Imam Maulana, Direktur Socialedu, dalam pengantarnya menjelaskan tentang kenapa webinar ini digagas. Tidak lain adalah bahwa ada perubahan yang mungkin tidak kita sadari secara kasat mata. Sedangkan kemajuan teknologi benar-benar berkembang cepat.


"Bagaimana ada perubahan yang tidak kasat mata, ada perubahan yang memang sedang terjadi. Bahwa perkembangan teknologi berkembang sangat cepat. Barangkali kita tidak pernah membayangkan sebelumnya, kalau ada perusahaan transportasi yang tidak ada kendaraannya. Tapi hari ini betul-betul ada". Jelas Imam Maulana di Serang (7/01).


Sementara dunia mengalami perkembangan yang begitu cepat. Sedangkan kemampuan manusia harus disiapkan untuk mampu menghadapi kemajuan teknologi. Oleh karena itu, ia mengajak kita menganalisa keadaan dunia terkini agar dapat beradaptasi dengan baik.


"Kalau kita melihat dan mengulas beberapa tahun sebelumnya. Dan kita melihat wajah dunia hari ini bergerak begitu cepat berarti itu tanda bahwasanya kedepan pun perkembangan dunia juga akan semakin cepat. Nah bagaimana kita melihat itu, bagaimana kita menyadari perubahan-perubahan itu, supaya kita juga bisa beradaptasi dengannya". Katanya.


Terkait tema webinar tentang bagaimana dunia bekerja hari ini, Dr. Abdul Rohman Hafid menjelaskan revolusi industri adalah proses ekonomi agraris menuju ekonomi manufaktur mesin.


"Revolusi industri itu dalam sejarah dunia modern adalah proses perubahan dari ekonomi agraris dan kerajinan menjadi ekonomi yang di dominasi oleh industri manufaktur mesin". Jelasnya dalam Webinar Jum'at malam (7/01).




Dirinya juga mengatakan fase berikutnya dari era kehidupan umat manusia setelah globalisasi dan digitalisasi adalah personalisasi. Itulah yang akan terjadi di era society 5.0.


"Kenapa revolusi industri? Maka keyword nya adalah industri. Bahwa industri mengalami revolusi yang besar, dari mulai yang manual, elektrifikasi, otomasi, globalisasi, digitalisasi, sampai nanti personalisasi. Itu semua perubahan industri. Perubahan teknologi ini memperkenalkan cara baru untuk bekerja dan hidup dan mengubah masyarakat secara mendasar". Tutur Dr. Abdul Rohman Hafid.


Oleh karena manusia masuk ke dalam era personalisasi, dimana kecanggihan teknologi diarahkan komponen utama dan fungsinya adalah untuk kebutuhan manusia. Ia memberikan contoh apa yang terjadi di Jepang.


"Pada era society 5.0 contoh misalkan dirumah-rumah kebutuhan manusia sudah tergantikan oleh mesin. Makanya mohon maaf, Jepang punya sex dolls (boneka sex-red), boneka pemuas nafsu. Itu mirip sekali, fungsinya manusia, mirip manusia, digantikan oleh mesin. Dan itu bukan mainan, robot yang mereka punya sangat sensitif, memiliki sentuhan yang sangat sama, mereka bisa bersentuhan dan macam-macam. Nah ini contoh era personalisasi". Ungkapnya.


Dr. Abdul Rohman Hafid pun menerangkan fenomena kebutuhan hidup manusia masa kini sudah berubah. Bukan lagi kebutuhan fisik seperti sandang dan pangan. Melainkan paling dasar, manusia kini butuh pada ketersediaan baterai dan jaringan.


"Dulu kebutuhan dasar manusia adalah hal fisik, seperti makan sebagai kebutuhan pokok. Namun, sekarang semua telah berubah, kebutuhan manusia bukan lagi yang paling dasar adalah kebutuhan psichological. Tapi kebutuhan akan baterai, kebutuhan akan sumber energi. Setelah itu adalah jaringan, terhubung kepada wifi". Terang Dosen lulusan University of Wismar, German itu.


Selain ekses fenomena yang janggal terjadi di era society 5.0 seperti terjadi di Jepang. Era personalisasi itu juga hadir di sektor lain misalnya kebutuhan pelayanan kesehatan. Jika dulu kita harus pergi ke klinik atau rumah sakit untuk mengetahui gejala penyakit yang sedang menjangkiti tubuh, kini sudah mulai ada media aplikasi yang memfasilitasi hal itu. Konsultasi dapat dilakukan secara online dengan dokter-dokter spesialis. Lalu pengiriman obat akan diantar oleh kurir menuju rumah.


Pada webinar yang di moderatori oleh Iman Musa, narasumber mengakhiri paparannya dengan mengajak peserta untuk bersama-sama terus meningkatkan kapasitas dan kualitas diri di era modern yang berkembang cepat ini.


"Kita ada di era yang mendorong diri untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas setinggi-tingginya, sebesar-besarnya, seluas-luasnya. Pasang level target yang tinggi, kalau tidak, kita tidak akan jauh berbicara tentang perubahan ini. Untuk bisa maju ke tantangan kehidupan di masa depan itu kadang-kadang croser itu dibutuhkan. Misalkan anda tadinya jurusan apa, mau belajar ini, itu udh crossing (mencoba hal baru) aja. Jaman sekarang tuh udah gak model begitu (tidak terpaku pada satu konsen skill) kalau dulu misalnya, kamu kan bidan ko kenapa sekarang jadi guru?".


"Jaman sekarang ngga begitu. Mungkin dunia sudah berubah jauh. Jadi kadang-kadang sometimes kita bisa butuh untuk croser dan keberanian menghadapi tantangan kedepan".


"Tapi yang terpenting adalah poin kapasitas kita. Bangun kapasitas pendidikan dan kemampuan kita. Skill komunikasi, adaptability, kemampuan bahasa asing. Yang seperti itu harus sudah mulai dimasukan satu persatu ke dalam diri kita agar kita tidak ketinggalan. Itu yang paling penting. Pokonya siapkan dahulu diri kita karena jika sudah siap, mau revolusi nya sampai 100.0 kita akan tetap bertahan". Pungkasnya di akhir acara webinar.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama