Bolehkah Bekerja Tidak Sesuai Jurusan Kuliah?

(Sumber: pixabay)


SERANG, YOUTHINDONESIAN (17/2) - Bekerja adalah aktivitas primer bagi setiap manusia dewasa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga. Melalui jasa yang diberikan oleh para pekerja, mereka berhak atas gaji atau upah yang wajib diberikan oleh perusahaan. Dimasa yang semakin berkembang pesat seperti sekarang, banyak tersedia peluang kerja. Bahkan, dunia saat ini dikatakan sudah memasuki era baru Society 5.0, dimana kecanggihan teknologi dikembangkan dengan utamanya manusia sebagai pemegang kendali dan sebesar-besarnya untuk kebutuhan manusia itu sendiri.


Tapi apakah sobat youthies selalu bekerja sesuai jurusan yang di pelajari di bangku kuliah? Tentunya tidak. Kerap kali kita menemukan teman atau orang lain memilih pekerjaan yang bukan spesialisasinya saat kuliah dulu. Istilah asingnya ialah crossing atau nyebrang karir dari minat dan jurusan ketika kuliah. Misalnya kuliah jurusan Hukum namun saat memasuki dunia kerja, memilih menjadi guru. Seperti yang saya lakukan. Padahal seharusnya dilakukan oleh lulusan pendidikan.


Lantas apakah boleh seperti itu? Tentu boleh. Tidak ada yang melarang. Pilihan seperti ini (crossing) meski terlihat agak aneh, sebenarnya dapat membantu kita menambah kemampuan, relasi dan pengalaman yang berharga. Oh ya, sobat youthies juga perlu catat bahwa job seeker yang memiliki pengalaman kerja yang beragam berpeluang besar menjadi pilihan utama perusahaan atau badan usaha untuk dapat bekerja di tempat mereka.


Bukan tanpa pertimbangan, pilihan yang saya tetapkan tentunya berdasar pula pada pengukuran kemampuan diri dan pengalaman. Berbekal skill pengajaran hasil dari mengikuti berbagai training di berbagai organisasi dan komunitas, setidaknya saya mampu untuk sedikit banyak memberikan pengajaran di sekolah, baik menengah (SMP) maupun atas (SMA).


Sobat, kini perkembangan teknologi semakin cepat dan canggih. Fenomena crossing mungkin sekali akan lumrah terjadi. Ingat saja, dulu sekira tahun 90-an kita belum mengenal istilah freelance tapi kini cukup banyak orang-orang yang memilih jalan itu. Oke, mungkin istilah tersebut terdengar asing di telinga, bila ingin mudah memahami, sebut saja freelance itu layaknya kerja serabutan.


Namun, beda dengan konotasi serabutan yang terkesan hanya pekerjaan kasar dan membutuhkan tenaga ekstra. Freelance lebih luas, menurut saya itu adalah profesi lepas yang bertumpu pada daya kreatifitas pekerjanya. Apa aja sih contoh freelance? Ya, mereka diantaranya adalah youtuber, desainer grafis, copy writer dan masih banyak lagi.


Oke sobat youthies, balik lagi ke topik soal boleh atau ngga, bekerja tak sesuai jurusan kuliah. Secara normatif memang terkesan aneh. Tapi justru lebih aneh lagi bila tidak bekerja, alias nganggur. Zaman sudah canggih, kemampuan harus lebih banyak lagi. Sebagai modal utama, keberanian untuk beradaptasi dan semangat menjadi pembelajar, wajib dimiliki bagi kita yang melakukan crossing karier.


Kemampuan beradaptasi serta handal dalam belajar membantu kita dengan mudah untuk dapat berproses di dunia kerja yang baru. Namun ingat, memilih passion baru dalam bekerja juga wajib mempertimbangkan skill dan pengalaman diri. Tidak asal pilih karena nanti akhirnya hanya akan merugikan dirimu sendiri, sobat.


Saya memilih sementara waktu untuk menjadi guru setelah mengukur kemampuan diri. Sungguh beruntung bagi kita yang ketika dulu menjadi mahasiswa, ikut bergabung dengan organisasi atau komunitas, apapun itu. Dari pengalaman mengurus kepanitiaan, membuat rencana program, mengorganisir massa dan kegiatan lainnya. Kita mendapat pengalaman yang menambah wawasan dan self-skill. Setidaknya, saya pernah berproses di beberapa organisasi seperti KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), KMS30 (Komunitas Soedirman 30), HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan), PERMAHI (Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia), GP ANSHOR (Gerakan Pemuda Anshor) sampai Kelas Menulis Rumah Dunia milik Duta Baca Indonesia, Gol A Gong.


Di KAMMI, selama lima tahun kebelakang, berturut-turut saya pernah di amanahi sebagai Ketua Departemen hingga Ketua Umum di Komisariat KAMMI UIN SMH Banten. Setelahnya, kini masih berupaya menyelesaikan amanah menjadi Ketua Bidang Kebijakan Publik PD KAMMI Serang.


Sederet pengalaman itu sungguh sangat berharga. Aktivitas pekerjaan sekarang menjadi guru tentu tidak mungkin melupakan diri sebagai sarjana dan pembelajar hukum. Pada waktunya kelak ketika kesempatan terbuka, kembali berbelok arah menuju jalan yuris akan saya lakukan. Hal yang perlu di ingat oleh sobat youthies yang hendak melakukan crossing atau nyebrang karier dari jurusan kuliah adalah modal self-skill, kemampuan belajar dan adaptasi terhadap lingkungan baru. Jangan sampai salah pilih dan salah langkah karena jika tak kuat, yang ada hanya pusing dan rugi bagi pribadi. Namun bila memang sobat memiliki peluang kerja sesuai jurusan kuliah dan sobat menyukainya, jangan di lewatkan, eksekusi dengan baik. Jadi, yang tidak boleh itu, tidak bekerja alias nganggur.



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama