Riuh, Bising dan Kelelahan Mental Sosial Manusia Pasca Modern -->

Riuh, Bising dan Kelelahan Mental Sosial Manusia Pasca Modern

Admin
Minggu, 21 Agustus 2022



YOUTHINDONESIAN - Hai sahabat pembaca semua, bagaimana kabarnya di bulan dan pekan ini, ada hal seru atau bagaimana kah?

Kami harap, semoga sahabat semua senantiasa dalam keadaan sehat dan baik ya. Oh iya sahabat, mohon maaf nih sebelumnya, kami baru bisa membersamai Journian lagi setelah sekian purnama berlalu heheh.

Sebab, kemarin terasa sangat lelah sekali, banyak hal yang mesti diselesaikan di dunia nyata, bohong jika ada manusia yang tak memiliki masalah dan selalu baik-baik saja. Semua manusia di dunia ini pasti memiliki masalah dan tantangan hidupnya masing-masing.


Tapi, justru itu, dari problem dan beberapa hal yang kami lalui kemarin, membuat kami mendapatkan inspirasi untuk menulis tema ini
"Riuh, Bising dan Kelelahan Sosial Manusia Pasca Modern".

Dunia saat ini begitu penuh sesak, riuh dan bising, sudah tak ada lagi sekat yang membatasi antara manusia yang satu dengan manusia lainnya, sekat yang ada sekarang sungguh amat tipis dan semu. Itu semua berkat internet dan media sosial.

Jika sahabat mengikuti perkembangan berbagai kasus dan kejadian di dunia maya, maka kita akan menemukan benang merah dari pembahasan tema ini.

Baca juga : Rahasiakan Hidupmu

Jadi, bagaimana maksudnya? Baik, jadi begini penjelasannya, kita sebagai manusia dikaruniai perangkat keras bernama otak, dan di otak tersebut ada software-nya serta hardisk penyimpanan, dan kita sebut itu sebagai akal.

Namun, tidak hanya itu, manusia juga diberkati berbagai macam hardware lainnya yang berfungsi sebagai reseptor, kalau di komputer disebut sebagai perangkat input dan output, seperti mouse, keyboard, monitor, sound dan lain sebagainya.

Kita sebagai manusia dikarunia, pendengaran, penglihatan, perasaan, pengecapan, penciuman dan beberapa hal lainnya.


Lalu, apa kaitannya dengan "Riuh, Bising dan Kelelahan Sosial Manusia Pasca Modern", 

Dikutip dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, hampir satu miliar orang di seluruh dunia mengalami beberapa bentuk gangguan kesehatan mental.

Di tahun 2020, diperkirakan gangguan kecemasan meningkat secara signifikan menjadi 26 persen, dan depresi sebanyak 28 persen akibat pandemi Covid-19.

Sementara di tahun 2019, sebanyak 970 juta orang di seluruh dunia dilaporkan hidup dengan gangguan mental, paling umum yang dialami adalah gangguan kecemasan dan depresi.

WHO mendefinisikan gangguan mental sebagai gangguan secara klinis terkait fungsi kognisi, regulasi emosi, atau perilaku seseorang.


Beberapa gangguan mental yang dapat dialami seseorang antara lain gangguan kecemasan, bipolar, depresi, post-traumatic stress disorder (PTSD), schizophrenia, hingga gangguan makan.

Salah satu penyebab dari berbagai ganguan kesehatan mental tersebut adalah berkaitan dengan perkembangan sosial media dan internet.

Dahulu, yang awalnya internet dan sosial media diperuntukkan untuk membantu komunikasi dan mempermudah informasi bagi manusia, kini hal itu semua telah berubah, bukan lagi sebagai penunjang dan membantu sarana komunikasi. Tapi, lebih untuk unjuk sosial dan eksistensi, bahkan flexing atau pamer.


Karena kita memiliki indra reseptor atau penerima informasi, seperti mata, telinga dan lain sebagainya, maka hal tersebut akan sangat mempengaruhi beban memori otak atau akal.

Zaman sekarang, kita dibanjiri dengan berbagai informasi, bahkan saking banyaknya informasi, kita kesulitan untuk mengetahui mana informasi yang berkualitas dan mana informasi sampah atau hoaks.

Dengan banjirnya informasi, hal tersebut amat sangat membebani isi pikiran kita, hal ini yang kemudian membuat banyak generasi saat ini mengalami gangguan kesehatan mental.


Sebab, dengan banyaknya kebisingan dari viralitas, fyp dan berbagai hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting, atau mungkin melihat bagaimana rekan atau tetangga terlihat begitu maju pesat di sosial media (walau pun kenyataan bisa saja tidak demikian).

Keriuhan dan kebisingan media sosial kerap kali memenuhi memori otak kita, sehingga timbul apa yang kemudian disebut dengan overthinking. Karena, secara otomatis, walaupun kita tidak memerintahkan otak kita untuk memikirkan hal tersebut, tapi secara alamiah ia akan tetap memprosesnya.

Hal itulah yang kemudian menjadi penyebab kelelahan mental sosial manusia pasca modern. Karena, media komunikasi saat ini bukan lagi diperuntukkan untuk sekedar komunikasi, tapi juga eksistensi, pamer dan unjuk berbagai hal.

Itu sebabnya, beberapa pekan yang lalu, dan sampai saat ini, kami sedikit hiatus dari dunia sosial media. Karena, ingin hidup lebih banyak di dunia nyata, serta mengurangi beban memori otak dari hal-hal yang tidak penting.***