Full width home advertisement

Opini

Serba Serbi

Post Page Advertisement [Top]

 

(Jemmy ibnu Suardi, Peneliti Partikelir)


Pensiunan Profesor Nico Kaptein hadir diruang seminar gedung baru UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, beliau adalah guru besar dalam studi sejarah Islam Indonesia yang mengajar di Leiden University, Belanda. 


Salah satu destinasi 'rihlah' ilmiahnya di beberapa kota, di Indonesia, beliau singgah di Banten dan memberikan ceramah seputar biografi Snouck Hurgronje yang dipandu oleh Dr. Ade Jaya Suryani yang tak lain adalah anak didiknya selama menempuh program doktoral di Leiden University, Belanda. 


Penulis hadir dengan beberapa tokoh pejabat kampus, sebut saja Rektor UIN SMH Banten, Prof. Wawan Wahyudin beserta jajarannya, dan beberapa budayawan, cendikiawan dan para mahasiswa. 


Nico Kaptein menguraikan sejarah hidup Snouck Hurgronje sejak awal lahir sampai meninggalnya. Penulis merasa kurang puas, sedikit kecewa, karena pemaparan seorang pensiunan Guru Besar Leiden Belanda hanya "sebegitu saja." Namun hal itu terobati dengan hadirnya buku hadiah, tentang Biografi Snouck Hurgronje, dan di dalamnya saya mendapatkan data-data yang menarik. 


Sebelum mengulas tentang buku biografi Snouck yang ditulis oleh Wim Van Den Doel yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Nico Kaptein memaparkan tentang hubungan erat Sayyid Utsman dengan Snouck, serta hubungan baiknya dengan keluarga Banten, Djajadiningrat, Aboe Bakar Djajadiningrat. Snouck sangat bergantung kepada Aboe Bakar Djajadiningrat yang disebutnya sebagai penyuplai data, sumber rujukan dalam memberikan informasi seputar Islam selama di Mekkah. Konon Snouck telah masuk Islam dan memakai nama Abdul Ghaffar, dan keislaman Snouck tidak diragukan sampai akhir hayatnya. 


Selain Aboe Bakar Djajadiningrat, Snouck karib dengan Sayyid Utsman, Mufti Batavia, manuskrip surat-menyurat antara keduanya ditampilkan oleh Nico Kaptein dalam slide presentasinya. Nico menunjukan bahwa Sayyid Utsman juga menghormati Snouck dengan memanggilnya dengan gelaran 'Hoja.' Gelar ini biasa dipakai oleh ulama Turki. Di beberapa surat Sayyid Utsman memanggilnya dengan nama Islam Abdul Ghaffar. Keterangan Nico terkonfimasi dalam buku biografi Snouck Hurgroje, bahkan tidak hanya Sayyid Utsman, tapi muncul tokoh lain bernama Sayyid Ja'far. 


Nico meyakini bahwa Snouck masuk Islam saat berada di Jeddah, disana dia mengucapkan dua kalimat syahadat, juga berkhitan dan meninggal sebagai seorang muslim. Snouck menikah beberapa kali dengan wanita Sunda dan memiliki anak bernama Yusuf. 


Dalam buku Biografi Snouck Hurgronje, disebutkan bahkan Snouck pernah "mengaji" kepada Syeikh Abdul Karim Banten, kepadanya Snouck mengetahui tata cara beribadah dan zikir dalam tarekat Qadiriyah. Tidak diketahui pasti apakah Snouck menganut tarekat, namun dalam laporan yang ia buat, alih-alih Snouck menjadi murid yang baik, Snouck bahkan menganggap Syeikh Abdul Karim tidak layak disebut sebagai ulama, karena longgar dalam mengamalkan syariat. 


Snouck tidak lama di Mekkah, hanya lima bulan, sebelum akhirnya penyamarannya terbongkar, dan oleh otorita pemerintah setempat, yang saat itu dibawah kendali Khalifah Turki Utsmani, Snouck diusir dengan segera tanpa membawa barang apapun, kecuali sedikit saja. 


Sepulang dari tanah Arab, Snouck diangkat menjadi penasehat utama di Batavia tentang sosial keagamaan. Snouck marah besar ketika terjadi pemberontakan Banten 1888, di sebutnya, pegawai Belanda sebagai orang bodoh karena tidak menjalankan instruksinya. Snouck lalu pergi ke Aceh, untuk melakukan penelitian lebih lanjut, dan kemudian melahirkan magnum opusnya yang berjudul 'the Acheh.' 


Selain mendeskreditkan beberapa ulama besar asal Nusantara, Snouck juga benci kepada Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabau, yang saat itu karir keulamaannya di Mekkah sedang gemilang. Disebutnya Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau telah memberikan pengaruh buruk kepada muslim Nusantara dan melahirkan beberapa perlawanan. 


Apa yang dialami Snouck menunjukan bahwa, meskipun secara teologis mungkin dirinya adalah seorang "muslim", menikah punya anak, dan meninggal mungkin dalam keadaan muslim, tetapi pandangan politik dan pengetahuannya jelas sekular, yang hanya digunakaan untuk kepentingan negaranya, Belanda, dalam mengokohkan posisi kolonialisme di Nusantara, mungkin boleh juga kita sebut Snouck adalah seorang nasionalis. 


Taufik Abdullah, Begawan Intelektual Indonesia, dalam kata pengantarnya di buku biografi Snouck mengabarkan bahwa Snouck seorang ateis skeptis, sebuah keyakinan yang meragui akan kehadiran adanya Tuhan. Taufik Abdullah menulis, "Tetapi apakah agama Snouck sesungguhnya? Kepada seorang temannya ia pernah mengatakan (1908) bahwa ia bukanlah seorang yang percaya agama, karena itulah ia tidak merasa sulit untuk menampilkan diri sebagai seorang muslim." 


Snouck berjasa besar dalam bidang studi Islam di Asia Tenggara, koleganya orientalis ternama Ignaz Goldziher pun memuji usaha dan upaya Snouck tentang penelitian dan tulisannya di Asia Tenggara. Kepada Goldziher, Snouck banyak 'curhat' perihal kehidupannya di Nusantara, termasuk 'curhatan' Snouck yang galau ingin menikah untuk kedua kalinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini

Bottom Ad [Post Page]