Ajak Masyarakat Untuk Menambah Nilai Guna dan Daya Manfaat Sampah

Desa Sukajadi secara geografis dan letaknya yang strategis membuatnya memiliki pesona dan keunikan tersendiri.

Namun, garis pantai sepanjang 2,37km yang  membentang di Desa Sukajadi rentan tercemar sampah yang berasal dari pemukiman yang cukup padat, berupa limbah rumah tangga dan juga dari wisatawan yang datang. Terdapat sungai yang melewati desa tersebut dan bermuara langsung ke laut, turut serta mempengaruhi volume sedimentasi dan sampah yang terbawa dari hulu sampai ke area pantai.

Permasalahan ini terus menjadi ancaman bagi sektor pariwisata dan perikanan tangkap di daerah tersebut. Sebagian masyarakat adalah pegiat pariwisata yang sangat bergantung pada pantai, dan sebagian yang lain merupakan nelayan yang mengandalkan sungai dan muara untuk lalu lintas kapal. 

Data yang didapat oleh Kulon Bestari selama Januari dan Februari 2021 menunjukkan bahwa sampah yang ada di pantai 30% merupakan plastik sekali pakai, dan 60% merupakan popok dan pembalut.

Sedangkan, untuk sampah rumah tangga didapatkan sekitar 70% merupakan sampah organik dan 20% sampah plastik. Dibutuhkan upaya untuk mengurangi bobot timbulan sampah baik dari rumah tangga maupun di pantai itu sendiri.

Kulon Bestari berkolaborasi dengan masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Masyarakat Penggiat Konservasi (Kompak) dan komunitas Rehabilitasi Pandeglang, menyelenggarakan workshop bertemakan pengelolaan sampah secara berkelanjutan, pada Jum’at tanggal 26 Maret 2021. 

Workshop dilaksanakan di basecamp Kompak yang berada di pantai dekat Kampung Pagedongan. Pembicara pertama disampaikan oleh Lukmanul Hakim selaku PKSM (Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat) DLHK (Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan) Provinsi Banten.

Beliau menanggapi permasalahan sampah yang ada di Desa Sukajadi, dan menyampaikan rencana tindak lanjut serta arahan untuk peserta agar dapat tetap konsisten dalam melakukan kegiatan yang berkenaan dengan menjaga lingkungan terutama tentang sampah. Kemudian juga sedikit disampaikan bagaimana cara memulai pembentukkan Bank Sampah yang dapat dikelola secara mandiri oleh kelompok masyarakat khususnya pemuda.

Workshop dilanjutkan dengan pemateri kedua yaitu dari komunitas Rehabilitasi Pandeglang, Fikri Al Jufri selaku ketua dan penggagas komunitas tersebut, menyampaikan kiprahnya dalam menangani permasalahan sampah yang ada di kecamatan Labuan Kabupaten Pandeglang khusunya di daerah Teluk, Rehabilitasi memulai debutnya di tahun 2017 karena berangkat dari keresahan Fikri melihat daerah pesisir Teluk yang dipenuhi sampah.

Mereka menginisiasi bersih-bersih pantai, selain itu ecobrick merupakan salah satu produk yang telah mereka hasilkan dari upaya untuk mengurangi sampah di daerah tersebut. Kemudian materi dilanjut dengan memperlihatkan dan mngajarkan peserta untuk membuat ecobrick. Perlu keseriusan dan keberlanjutan dalam upaya mengatasi permasalan sampah.

Kolaborasi dan sinergisitas antar komunitas dan stakeholder perlu dilakukan. Tidak hanya seremonial saja, namun kita harus mempunyai visi yang jelas dalam jangka waktu tertentu. Dalam hal ini kita terlebih dahulu mencoba menumbuhkan public awareness akan dampak sampah yang berbahaya untuk lingkungan.

Mengubah pola hidup menjadi zero waste merupakan salah satu hal yang harus ditanamkan pada diri kita sendiri. Edukasi kepada masyarkat harus terus dilakukan agar masyarakat dapat mempersiapkan diri untuk selanjutnya dapat membentuk Bank Sampah dan TPS (Tempat Pengelolaan Sampah) 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle), sehingga masyarakat dapat dengan mandiri meneglola sampah, serta ikut menjaga kelestarian lingkungan.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama