Bahayanya personalisasi algoritma Google, Facebook Dkk, ini dampak buruknya


Di zaman ini, siapa yang gak kenal Google, Facebook, Instagram, Whatsapp dkk. Hampir 90% manusia di muka bumi mengenal raksasa teknologi  ini, kecuali untuk beberapa wilayah pedalaman dan suku-suku yang mengasingkan diri dari peradaban.


Tapi, sisanya, hampir rata-rata manusia di muka bumi semuanya mengenal raksasa teknologi tersebut, belum lagi para pemain lokal di negara masing-masing, seperti Baidu di China, Vkontakte dan Yandek di Rusia.


Namun, seperti tabiat biasanya para kapitalistik, selain untuk kemajuan peradaban, kepentingan dan laba juga menjadi tujuan utama. Hal itu bisa dilihat bagaimana mereka melakukan personalisasi menggunakan algoritma mesin kecerdasan terhadap para user atau pengguna aplikasi mereka.


Sebenarnya, apa sih personalisasi di dalam algoritma? Personalisasi algoritma adalah kumpulan data-data terkait perilaku, kebiasaan, demografi dan lain sebagainya, yang kemudian data yang diperoleh akan diolah untuk keperluan pemasaran. Mudahnya sih, kamu hanya akan disuguhkan tayangan, informasi dan lain sebagainya, sesuai behaviour yang kamu lakukan di dunia maya atau di aplikasi yang kamu pakai.


Misalnya gini nih, kamu sering search makanan ringan makaroni, maka Google, Instagram, Facebook akan menyuguhkan kamu dengan informasi yang berkaitan dengan makaroni. Atau kalau kamu sering searching tentang kucing, maka kamu akan disuguh informasi yang berkaitan dengan kucing, mulai dari makanan kucing, penjual kucing, adopsi kucing, pernak-pernik kucing dan seterusnya.


Lalu, bahayanya di mana, dampak buruknya di mana? Nah ini dia hal yang gak disadari, karena sifatnya adalah personalisasi, dan kita hanya akan disuguhkan sesuai apa yang kita inginkan, maka akan terjadi ketimpangan informasi.


Misalnya, ada orang yang dia itu punya sikap yang rasis, atau benci terhadap golongan tertentu atau agama tertentu, atau benci terhadap tokoh tertentu, maka orang tersebut hanya akan mendapatkan berita negatif terkait agama tersebut, hanya akan mendapatkan berita buruk terhadap ras tersebut. Atau ada orang yang dia benci Yahudi, maka di isi instagram, Facebook dan Googlenya, akan muncul informasi terkait hal-hal buruk yang berkaitan dengan Yahudi. Ataupun sebaliknya, jika ada orang yang benci Islam, dan memiliki kebiasaan untuk like, tap love, atau save konten yang berkaitan dengan hal negatif tentang Islam, maka ia hanya akan mendapatkan berita dan konten negatif terhadap Islam.


Inilah yang kemudian menyebabkan kita semua mengalami ketimpangan informasi, tidak mendapatkan informasi secara utuh dan tidak berimbang, kita hanya disuguhkan informasi dan konten dari apa yang sering kita lihat. Dan, hal ini sangatlah berbahaya, bisa menyebabkan tindakan rasisme dan kebencian, perpecahan dan disharmoni.


Oleh karena itu, kadang kala, saya sering menjahili si algoritma, dengan membuat random berbagai konten yang sering dilihat, sehingga algoritma bingung, sebenernya apa sih yang mau kita lihat. Saatnya cerdas bersosial media, jangan mau didikte oleh algoritma.

1 Komentar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama