Ketua Umum PP HIMA PERSIS, Sholahudin Hasan, menyampaikan bahwa kritik merupakan bagian penting dalam demokrasi, namun harus diarahkan untuk memperbaiki keadaan, bukan justru menimbulkan kegaduhan atau tindakan yang merugikan masyarakat luas.
Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa ruang demokrasi harus dijaga agar tetap sehat, produktif, dan tidak berubah menjadi ruang yang memicu instabilitas sosial maupun politik.
“Kritik harus memperbaiki keadaan, bukan membuka ruang anarkisme yang merugikan masyarakat.” ujar Sholahudin Hasan dalam keterangannya, sebagaimana disampaikan dalam agenda komunikasi publik HIMA PERSIS.
Lebih lanjut, HIMA PERSIS menyoroti pentingnya peran mahasiswa sebagai kekuatan sipil yang tidak hanya kritis, tetapi juga solutif. Menurut organisasi tersebut, dinamika politik dan sosial yang terjadi saat ini menuntut kedewasaan seluruh elemen bangsa agar tidak mudah terjebak dalam polarisasi.
HIMA PERSIS juga menegaskan bahwa stabilitas nasional merupakan fondasi utama yang tidak boleh dikorbankan oleh kepentingan jangka pendek maupun tindakan yang bersifat provokatif. Stabilitas tersebut dinilai penting agar pelayanan publik, roda pemerintahan, serta aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan dengan baik.
“Stabilitas nasional perlu dijaga agar pelayanan publik dan aktivitas ekonomi tidak terganggu,” demikian salah satu poin sikap HIMA PERSIS yang disampaikan dalam materi publikasi organisasi tersebut.
Dalam pandangan HIMA PERSIS, mahasiswa memiliki peran strategis dalam menjaga arah demokrasi agar tetap berada pada jalur yang sehat. Mahasiswa didorong untuk menjadi kelompok yang kritis terhadap kebijakan publik, namun tetap menjunjung tinggi etika, data, dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Organisasi ini juga menekankan bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam sistem demokrasi. Namun, perbedaan tersebut harus dikelola melalui dialog yang terbuka, bukan melalui tindakan yang dapat memperuncing konflik di tengah masyarakat.
“Mahasiswa didorong menjadi kekuatan sipil yang kritis, tertib, dan solutif,” lanjut HIMA PERSIS dalam pernyataan sikapnya.
Di tengah meningkatnya dinamika sosial dan politik, HIMA PERSIS mengingatkan agar seluruh pihak tetap menjadikan dialog sebagai jalan utama dalam menyelesaikan perbedaan. Pendekatan berbasis emosi dan provokasi dinilai hanya akan memperlebar jarak antar kelompok masyarakat.
Sebagai penutup, HIMA PERSIS menegaskan komitmennya untuk terus mengawal ruang demokrasi yang sehat di Indonesia, dengan tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman, kebangsaan, serta tanggung jawab intelektual mahasiswa.
Dengan demikian, HIMA PERSIS berharap agar seluruh elemen bangsa dapat bersama-sama menjaga Indonesia tetap kondusif, kritis, namun tetap dalam bingkai persatuan nasional.

0Komentar