YOUTHINDONESIAN - Ketua Ikatan Alumni (IKA) Pendidikan Kimia Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), Emar Muamar, yang juga merupakan sosok Alumni Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANAS) Republik Indonesia (RI) tersebut menjadi salah satu pengisi materi dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNTIRTA. 

Kegiatan yang dihadiri oleh Ketua IKA Pendidikan Kimia UNTIRTA tersebut diikuti sekitar 2.500 mahasiswa baru yang mulai memasuki lingkungan akademik dan kehidupan kampus.

Dalam kesempatan tersebut, Emar Muamar mengajak mahasiswa baru untuk tidak hanya menjadikan masa perkuliahan sebagai proses mengejar nilai akademik semata. Menurutnya, kampus merupakan ruang untuk membangun kapasitas, memperluas pengalaman, memperkuat karakter, serta mempersiapkan diri menghadapi perubahan dan tantangan masa depan.

Selain itu, ia menekankan bahwa mahasiswa memiliki peran penting sebagai kelompok intelektual yang harus mampu berpikir kritis, terbuka terhadap perkembangan zaman, serta memiliki tanggung jawab dalam menjaga kualitas ruang publik, termasuk di dunia digital.

"Mahasiswa hari ini hidup di tengah arus informasi yang bergerak sangat cepat. Karena itu, jangan hanya menjadi pengguna media sosial yang aktif, tetapi jadilah generasi yang mampu berpikir kritis, memeriksa sumber informasi, memahami konteks, dan tidak mudah terpancing oleh narasi yang belum tentu benar," ujar Emar Muamar di Kota Serang.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital telah membuka ruang yang sangat luas bagi masyarakat untuk memproduksi dan menyebarkan informasi. 

Akan tetapi, di sisi lain, kondisi tersebut juga menghadirkan tantangan berupa maraknya hoaks, disinformasi, fitnah, serta konten provokatif yang dapat memengaruhi cara masyarakat memahami sebuah persoalan.

Karena hal tersebut, sosok Ketua IKA Pendidikan Kimia UNTIRTA mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang hanya berdasarkan judul, potongan video, atau unggahan viral tanpa mengetahui konteks secara utuh.

"Jangan sampai kita menjadi generasi yang cepat membaca, tetapi lambat berpikir. Jangan pula menjadi orang yang cepat membagikan informasi, tetapi malas melakukan verifikasi. Sebelum percaya, periksa sumbernya. Sebelum menyimpulkan, pahami konteksnya. Dan sebelum membagikan, pikirkan dampaknya," ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa upaya melawan hoaks tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, media, maupun lembaga tertentu, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat, terutama generasi muda dan mahasiswa yang memiliki akses luas terhadap teknologi serta informasi.

"Melawan hoaks bisa dimulai dari langkah sederhana, yaitu tidak ikut menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Mahasiswa harus mampu menjadi penyaring informasi, bukan justru menjadi bagian dari rantai penyebaran hoaks dan disinformasi," katanya.

Selain menyoroti pentingnya literasi digital, Emar Muamar juga mendorong mahasiswa baru FKIP UNTIRTA untuk dapat memanfaatkan masa perkuliahan sebagai proses membangun kemampuan di luar ruang kelas. 

Emar kemudian mengajak mahasiswa untuk aktif berdiskusi, mengikuti organisasi, memperluas jaringan, serta mengembangkan kemampuan komunikasi dan kepemimpinan.

Menurutnya, latar belakang pendidikan tidak boleh menjadi batasan untuk menentukan masa depan seseorang. Pengalaman, kompetensi, karakter, kemampuan beradaptasi, serta integritas merupakan modal penting yang harus terus dibangun selama berada di lingkungan kampus.

“Jurusan adalah titik awal, bukan batas akhir. Selama memiliki kemauan untuk belajar dan terus meningkatkan kapasitas diri, mahasiswa bisa berkembang di berbagai bidang. Yang terpenting adalah membangun kompetensi, menjaga integritas, serta menjadikan kebermanfaatan sebagai tujuan dalam setiap perjalanan,” ungkapnya.

Dalam sesi sharing tersebut, Emar juga mengajak mahasiswa untuk memahami makna berpikir kritis secara lebih konstruktif. Menurutnya, mahasiswa memang harus memiliki keberanian untuk menyampaikan pendapat dan melakukan kritik, tetapi kritik harus dibangun berdasarkan data, fakta, serta orientasi terhadap solusi.

“Kritis bukan berarti selalu menyalahkan. Mahasiswa harus mampu melihat persoalan secara objektif, memahami akar masalah, kemudian menawarkan gagasan dan solusi. Bangsa ini membutuhkan generasi yang bukan hanya pandai menunjukkan kesalahan, tetapi juga mampu memberikan kontribusi untuk perbaikan,” tuturnya.

Melalui kegiatan PKKMB yang diikuti sekitar 2.500 mahasiswa baru tersebut, Emar berharap mahasiswa FKIP Untirta dapat tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, wawasan kebangsaan, kemampuan literasi digital, serta kepedulian terhadap persoalan masyarakat.

Ia menutup materinya dengan pesan agar mahasiswa baru tidak takut menghadapi masa depan dan terus membuka diri terhadap berbagai pengalaman selama menjalani kehidupan kampus.

“Jangan batasi masa depan hanya dengan jurusan yang kalian ambil hari ini. Jadikan pendidikan sebagai fondasi, pengalaman sebagai sekolah, integritas sebagai pegangan, dan kebermanfaatan sebagai tujuan. Di tengah derasnya informasi, tetaplah kritis, cerdas, dan jangan pernah berhenti melawan hoaks dengan fakta, pengetahuan, dan kesadaran," tutup Emar Muamar. ***