YOUTHINDONESIAN— Delapan puluh satu tahun Indonesia lepas dari penjajahan. Tapi di tengah gempuran teknologi dan media sosial hari ini, muncul pertanyaan: sudahkah anak-anak kita benar-benar merdeka?
Pertanyaan itulah yang coba dijawab KKN Kelompok 37 UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten lewat Semarak Lomba Kemerdekaan di Desa Cimanuk, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang.
Berbeda dari perayaan 17-an yang identik dengan lomba hiburan, KKN 37 memilih mengisi kemerdekaan dengan kegiatan yang menyentuh pendidikan karakter dan nilai keagamaan. Ada tiga lomba yang digelar: Pildacil, lomba adzan, dan hafalan Juz 30. Tujuannya sederhana: memberi panggung bagi anak-anak untuk berani tampil, belajar, dan berkompetisi secara sehat.
“Semarak kemerdekaan bukan cuma hura-hura. Setiap lomba harus ada maknanya. Kami ingin anak-anak bukan hanya senang-senang, tapi juga belajar, berani tampil, dekat dengan Al-Qur’an, dan punya karakter,". Kata Ilham, Ketua KKN 37 UIN SMH Banten.
Ilham menilai tantangan generasi sekarang jauh berbeda dengan masa para pejuang. Dulu musuhnya penjajah. Sekarang musuhnya arus informasi, gadget, dan media sosial yang kalau tidak diarahkan bisa menjauhkan anak dari aktivitas positif.
"Kami tidak anti gadget. Teknologi jelas bermanfaat. Tapi anak-anak juga butuh ruang untuk bermain, mengaji, berinteraksi langsung, dan mengembangkan diri tanpa harus terus-terusan pegang HP," ujarnya.
Bagi KKN 37, mengisi kemerdekaan berarti memastikan anak-anak tumbuh di lingkungan yang sehat, dapat pendidikan layak, dan punya kesempatan menyalurkan potensi.
Pemilihan lomba bernuansa Islam bukan tanpa alasan. Sejarah mencatat, kemerdekaan Indonesia juga diraih berkat peran ulama, kiai, santri, dan pesantren.
Melalui Pildacil, anak-anak dilatih berani bicara dan menyampaikan kebaikan. Lomba adzan menumbuhkan kecintaan pada syiar Islam. Sementara hafalan Juz 30 jadi cara mendekatkan mereka dengan Al-Qur’an sejak dini.
“Dulu para kiai dan santri berjuang mengusir penjajah. Sekarang giliran kita mengisi kemerdekaan. Caranya dengan menyiapkan generasi yang berilmu, berakhlak, cinta agama dan cinta tanah air," kata Ilham.
Kegiatan ini juga bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Selama KKN, mahasiswa tidak hanya menerapkan ilmu di kelas, tapi juga turun langsung bersentuhan dengan warga Desa Cimanuk.
Harapannya, Semarak Lomba Kemerdekaan tidak berhenti di panggung lomba. Tapi bisa jadi pemantik kesadaran bahwa setiap momentum 17 Agustus bisa dipakai untuk mendidik dan menyiapkan generasi penerus.
Bagi KKN 37, Indonesia merdeka bukan hanya soal lepas dari penjajah. Tapi juga soal lahirnya generasi yang cerdas, berakhlak, produktif, dan bijak memakai teknologi.
“Kalau kita mau Indonesia benar-benar merdeka, siapkan generasinya dari sekarang. Anak-anak hari ini adalah pemimpin masa depan. Mereka harus tumbuh dengan ilmu, akhlak, keberanian, dan cinta pada bangsa serta agama," pungkas Ilham.
Melalui kegiatan ini, KKN 37 UIN SMH Banten ingin menegaskan: kemerdekaan bukan hanya untuk dirayakan, tapi untuk diisi.

0Komentar