YOUTHINDONESIAN - Derasnya arus informasi di media sosial menjadi perhatian Kuadranesia Institute melalui kegiatan Workshop Redaksi Digital dan Jurnalisme Media Sosial yang digelar secara daring pada Jumat (14/8). Kegiatan tersebut terbuka untuk umum dan diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Provinsi Banten.
Mengangkat tema “Student Care: Melawan Hoaks dan Membangun Media yang Kredibel”, workshop ini membahas tantangan pengelolaan informasi di tengah perkembangan media digital yang semakin cepat.
Kegiatan menghadirkan Rhezky Erlanda, Host Podcast sekaligus Script Writer Muda Bersuara, sebagai pemateri. Jalannya diskusi dipandu oleh Reza Cahya Ramdani yang dikenal sebagai aktivis media sosial. Dalam pemaparannya, Rhezky menyoroti pentingnya keterbukaan dan tanggung jawab dalam mengelola informasi. Menurutnya, ketika terjadi kesalahan pemberitaan, media maupun kreator konten perlu berani mengakui kesalahan, memberikan klarifikasi, dan melakukan koreksi secara terbuka.
Ia juga mengingatkan bahwa produksi konten tidak cukup hanya mengandalkan kecepatan. Setiap informasi perlu dilandasi pemahaman konteks, data, dan fakta agar tidak menyesatkan masyarakat maupun menimbulkan persoalan hukum.
Pesan “Saring Sebelum Sharing” dan “Verifikasi Sebelum Publikasi” menjadi salah satu pokok pembahasan. Peserta diajak membangun kebiasaan memeriksa sumber, membandingkan informasi, serta memastikan kebenaran data sebelum menyebarkannya.
Rhezky menegaskan bahwa kecepatan dalam menyampaikan informasi tidak boleh mengorbankan akurasi. Bagi pengelola media, menjaga kepercayaan publik dinilai jauh lebih penting daripada sekadar mengejar jumlah penonton, komentar, maupun popularitas.
Pada sesi diskusi, peserta bernama Anca Budi Sanjaya mengangkat persoalan mengenai cara menghadapi orang tua yang mudah percaya terhadap informasi hoaks. Rhezky menyarankan pendekatan yang sabar dan edukatif dengan menghadirkan data serta sumber yang dapat diverifikasi.
Sementara itu, Andin mempertanyakan sikap media ketika memiliki informasi yang benar tetapi berpotensi memicu kepanikan atau konflik. Menanggapi hal tersebut, Rhezky menjelaskan pentingnya mempertimbangkan kepentingan publik sekaligus dampak sosial dari informasi yang dipublikasikan.
Menurutnya, masyarakat tidak seharusnya bergantung pada satu sumber informasi. Membandingkan sejumlah media, memahami konteks pemberitaan, dan menilai kredibilitas sumber merupakan bagian dari kecakapan literasi digital.
Pembahasan juga menyinggung media atau akun yang menyebarkan informasi keliru tanpa melakukan koreksi. Rhezky menjelaskan bahwa media pers memiliki mekanisme pertanggungjawaban dalam ekosistem pers, sementara masyarakat dapat berkontribusi dengan melaporkan konten bermasalah kepada platform digital.
Ia menambahkan bahwa koreksi terhadap kesalahan bukanlah tanda kelemahan sebuah media. Sebaliknya, keberanian mengoreksi kesalahan merupakan bentuk integritas dan tanggung jawab kepada publik.
Workshop ini sekaligus menjadi ruang edukasi bagi mahasiswa agar memahami bahwa kebebasan berekspresi di ruang digital harus disertai etika dan tanggung jawab. Peserta didorong tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga mampu berperan sebagai produsen informasi yang kritis dan bertanggung jawab. Melalui kegiatan tersebut, Kuadranesia Institute mendorong lahirnya generasi muda yang mampu menghadapi banjir informasi dengan kemampuan verifikasi, berpikir kritis, dan menjaga etika jurnalistik.
Pada akhirnya, kredibilitas sebuah media tidak semata-mata diukur dari seberapa cepat sebuah berita menjadi viral. Kepercayaan publik justru dibangun melalui konsistensi dalam menjaga akurasi, transparansi, etika, dan tanggung jawab terhadap setiap informasi yang disampaikan. ***
0Komentar