Full width home advertisement

Opini

Serba Serbi

Post Page Advertisement [Top]

(Jemmy Ibnu Suardi, Peneliti Partikelir Institute)


Acara puncak bedah nasab Sayyid Jumadil Qubra dan Imam Ubaidillah yang secara marathon tiga hari di laksanakan di Pesantren Masaratul Muhtajin, Banten Lama berakhir dengan rungkadnya tesis Ki Imad. 


Menurut Google yang saya akses beberapa saat sebelum tulisan ini dibuat, secara bahasa, rungkad artinya runtuh, tumbang, hancur lebur, atau roboh. Konon kata ini berasal dari bahasa Sunda. Terminologi ini semakin viral ketika dijadikan reff lagu oleh penyanyi lagu pantura, Happy Asmara. 


Syahdan Ki Imad maupun Rabithah Alawiyah (R.A) tidak hadir dalam acara fenomenal di akhir bulan Agustus ini. Namun dua kelompok yang bersiteru satu sama lain ini, berhasil mengirimkan utusan yang secara diametral saling berseberangan. 


Tim pendukung Ki Imad yang di Komandoi Sayyid Teungku Muda Qari dan beberapa hulubalangnya, dan tim lawannya yang berseberangan di komandoi Abuya Qurtubhi Jaelani, beserta jajarannya, yang namanya sudah tidak asing di telinga netizen yang konsern dengan tema nasab Ba Alawi, seperti Habib Hanif Al Attas, Gus Wafi, Gus Rumail Abbas. 


Dialetika berlangsung seru, disiarkan secara live di Youtube, secara seksama saya menyimaknya, dimana sampai menghabiskan durasi 4 jam. Jalannya kajian ini berlangsung seru, namun terasa tidak imbang, berat sebelah, diakui sendiri oleh Teungku Muda Qari, "saya di keroyok 4 orang," keluhnya. Memang nampak narasi tim yang mendukung teori Ki Imad tentang nasab Ba Alawi di hajar bulan-bulanan sampai "bonyok". Tertatih-tatih Teungku Muda Qari membalas argumentasi dari tim yang di pimpin Abuya Qurthubi. Terlihat jelas hulubalangnya tidak menguasai materi, apa lagi diakui oleh Teungku Muda Qari sendiri beliau belum membaca tulisan Ki Imad, menarik. 


Karya tulis atau makalah Ki Imad di telanjangi habis-habisan oleh Abuya Qurtubhi, sebagaimana seorang professor, guru besar yang mengoreksi makalah seorang mahasiswa semester awal. Memang dalam dunia penulisan, apatah lagi jika karya tulis tersebut di sebut dengan "tesis", maka haram hukumnya untuk melakukan kesalahan mendasar dalam teknis kepenulisan. Karena tesis adalah sebuah karya ilmiah setingkat magister atau S2 di perguruan tinggi. Tentu yang pernah menulis tesis merasakan betul payahnya. 


Siapapun yang pernah kuliah dan mengerjakan skripsi, tesis ataupun disertasi, ketika sidang awal proposal bahkan, yang paling awal di koreksi adalah teknis penulisan, baik salah kata, salah ketik, atau bahkan salah dalam mengambil rujukan dan membuat kutipan. 


Abuya Qurtubhi dengan ringan menunjukan kesalahan-kesalahan mendasar dalam beberapa karya tulis Ki Imad, beliau membagi dalam tiga kriteria; kecil, sedang dan berat, bahkan sampai mengkalkulasi jumlah kesalahan penulisan Ki Imad lebih dari 100 kesalahan, jelas ini sangat problematis. 


Narasi Ki Imad yang coba mendekonstruksi nasab Ba Alawi tidak mampu dipertahankan oleh Teungku Muda Qari, yang nampak kewalahan, mungkin akan lain cerita jika Ki Imad yang langsung hadir dalam sidang "tesis" yang dibuatnya sendiri. Alih-alih narasi yang coba mendekonstruksi nasab Ba Alawi berhasil, justru gagal total, bahkan di sesi terakhir, Habib Hanif Al Attas, merasa berterima kasih atas data baru yang di sampaikan Teungku Muda Qari yang malah menguatkan keberadaan nasab Ba Alawi. 


"Tesis Ki Imad Rungkad." Celoteh Gus Wafi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini

Bottom Ad [Post Page]