YOUTHINDONESIAN.COM | Jakarta — Mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar kembali membuat pernyataan penting terkait ketahanan energi nasional. Dalam persidangan kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat, Arcandra menyampaikan bahwa Indonesia tetap membutuhkan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Masih Ada Kekurangan Produksi BBM Domestik
Arcandra menjelaskan bahwa kapasitas produksi BBM Indonesia belum cukup untuk menutupi permintaan domestik. Menurutnya, kilang di dalam negeri hanya mampu memproses sebagian dari kebutuhan total, sementara sisanya harus dipenuhi melalui impor.
Contohnya, untuk kebutuhan BBM harian sekitar 1,4 juta barel per hari, kapasitas kilang Pertamina diperkirakan hanya mampu menghasilkan sekitar 800 ribu barel per hari. Artinya, sekitar 600 ribu barel BBM per hari masih harus diimpor dari luar negeri.
Implikasi Kebijakan Kilang Minyak
Dalam kesaksiannya, Arcandra juga membahas tentang optimasi pengelolaan minyak mentah di dalam negeri. Ia mengatakan bahwa meskipun ada peraturan yang mengatur pemanfaatan minyak mentah untuk kebutuhan nasional, peraturan tersebut tidak serta merta menghilangkan kebutuhan impor. Hal ini karena kapasitas pengolahan domestik belum mencukupi.
Arcandra turut menyebut bahwa impor minyak mentah juga diperlukan untuk memastikan suplai bahan baku kilang tetap stabil agar proses produksi BBM domestik berjalan lancar.
Konteks Tantangan Energi Nasional
Pernyataan Arcandra ini muncul di tengah upaya pemerintah Indonesia untuk meningkatkan swasembada energi, termasuk melalui pembangunan dan peningkatan kapasitas kilang minyak di dalam negeri. Meski begitu, hingga kapasitas tersebut mampu memenuhi seluruh kebutuhan nasional, impor BBM tetap dianggap sebagai bagian dari strategi pemenuhan pasokan energi.
Pakar energi sebelumnya juga mencatat bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM masih tergolong tinggi karena rasio produksi dalam negeri belum mampu menyamai konsumsi domestik.
Walau berbagai upaya dilakukan untuk memperkuat produksi energi dalam negeri, mantan Wamen ESDM Arcandra Tahar menegaskan bahwa impor BBM masih perlu dilakukan oleh Indonesia. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan kapasitas kilang domestik yang belum dapat memenuhi kebutuhan BBM nasional secara keseluruhan.

0Komentar