YOUTHINDONESIAN.COM | Perang Dunia II yang dimulai pada September 1939 dan berakhir pada September 1945 merupakan salah satu periode paling kelam dalam sejarah umat manusia. Konflik global tersebut melibatkan banyak negara dan menyebabkan kerusakan serta korban jiwa dalam jumlah besar.
Perang ini ditandai dengan berbagai peristiwa besar, termasuk pengeboman Hiroshima dan Nagasaki oleh Sekutu (Blok Barat) yang dimotori oleh Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis. Di sisi lain, kekalahan Nazi Jerman oleh Uni Soviet bersama kekuatan Blok Timur seperti Rusia, Republik Rakyat Tiongkok, dan Korea Utara menjadi salah satu penanda berakhirnya perang tersebut.
Di tengah situasi global tersebut, Indonesia memanfaatkan momentum kekalahan Jepang atas Sekutu untuk memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 melalui pembacaan teks Proklamasi oleh Soekarno dan Mohammad Hatta.
Secara historis, terdapat persekutuan antara Blok Barat dan Blok Timur dalam menghadapi kekuatan besar Nazi Jerman. Namun setelah perang berakhir, hubungan kedua blok tersebut berubah menjadi rivalitas yang memicu Perang Dingin. Konflik ideologis ini berlangsung selama puluhan tahun hingga akhirnya mereda dengan munculnya kebijakan Glasnost dan Perestroika pada tahun 1991 yang diperkenalkan oleh Mikhail Gorbachev.
Meski demikian, praktik kolonialisme dan imperialisme tidak serta-merta berhenti. Di Indonesia, upaya penjajahan kembali terjadi melalui agresi militer Sekutu yang dikenal dengan NICA (Nederlandsch-Indische Civiele Administratie). Organisasi semi-militer ini didirikan pada April 1944 dengan tujuan memulihkan administrasi sipil dan hukum kolonial Hindia Belanda.
NICA dipimpin oleh Van der Plas dan Van Mook, yang juga berupaya mempersenjatai kembali KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger), yaitu pasukan militer kerajaan Hindia Belanda yang sebelumnya ditahan oleh Jepang di Indonesia.
Pada periode 1945–1949, berbagai perundingan dilakukan antara Indonesia dan Kerajaan Belanda. Beberapa di antaranya adalah Perjanjian Linggarjati, Perjanjian Renville, hingga Perjanjian Roem–Royen yang kemudian berlanjut pada Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda.
Konferensi tersebut memiliki tujuan utama untuk mengembalikan perdamaian serta menjaga ketertiban dan keamanan. Keikutsertaan Indonesia dalam perundingan itu bertujuan mempercepat penyerahan kedaulatan secara penuh kepada Republik Indonesia Serikat tanpa syarat.
Jika ditelaah lebih dalam, rangkaian perjanjian dan perjuangan bangsa Indonesia pada masa itu merupakan proses yang sangat panjang dan melelahkan. Bukan hanya keringat yang tercurah, tetapi juga air mata dan darah yang tertumpah di seluruh penjuru Nusantara.
Peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan bahwa para pendiri bangsa Indonesia berupaya menegaskan posisi tawar Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat di tengah percaturan politik global.
Semangat persatuan dan solidaritas kemudian meluas hingga melahirkan kerja sama antarbangsa di kawasan Asia dan Afrika. Hal ini mencapai puncaknya dalam Konferensi Asia Afrika (KAA) yang diselenggarakan di Bandung pada 18–24 April 1955.
Konferensi tersebut melahirkan gagasan ideologis yang dikenal sebagai Dasa Sila Bandung, sebuah prinsip yang menegaskan penghormatan terhadap kedaulatan, kemerdekaan, dan perdamaian antarbangsa.
KAA diikuti oleh 29 negara yang mewakili sekitar 1,5 miliar penduduk dunia pada saat itu, atau sekitar 54 persen dari total populasi global. Negara-negara peserta antara lain:
Indonesia, Burma (Myanmar), India, Ceylon (Sri Lanka), Pakistan, Republik Rakyat Tiongkok, Aljazair, Tunisia, Maroko, Kongo, Afghanistan, Filipina, Kamboja, Irak, Iran, Arab Saudi, Sudan, Jepang, Yordania, Suriah, Laos, Thailand, Mesir, Lebanon, Turki, Ethiopia, Liberia, Vietnam, dan Libya.
Konferensi Asia Afrika melahirkan konsep kebangsaan dan kemanusiaan universal yang tertuang dalam Dasa Sila Bandung. Prinsip ini menjadi tonggak sejarah dunia dalam upaya membebaskan bangsa-bangsa dari penjajahan.
Indonesia dalam konferensi tersebut diwakili oleh Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo pada tahun 1954–1955. Sebelum KAA diselenggarakan, terlebih dahulu diadakan Konferensi Kolombo di Sri Lanka yang dihadiri oleh beberapa pemimpin negara, antara lain Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, Perdana Menteri Pakistan Mohammed Ali, U Nu dari Burma, serta Sir John Kotelawala dari Sri Lanka sebagai tuan rumah.
Selain itu, sebelum KAA berlangsung, juga diadakan pertemuan pendahuluan di Bogor yang melibatkan negara-negara peserta Konferensi Kolombo sebagai bagian dari persiapan konferensi besar tersebut.
Konteks Kekinian
Semangat Dasa Sila Bandung yang dideklarasikan dalam Konferensi Asia Afrika 1955 menjadi fondasi penting bagi gagasan politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Spirit inilah yang kemudian melahirkan Gerakan Non-Blok, sebuah inisiatif yang dipelopori oleh para pemimpin dunia untuk menjaga kemandirian negara-negara berkembang di tengah persaingan Blok Barat dan Blok Timur.
Gerakan Non-Blok menekankan pentingnya setiap negara untuk fokus membangun stabilitas internalnya tanpa harus terjebak dalam konflik kekuatan besar dunia. Pendekatan ini terbukti mampu menahan eskalasi konflik terbuka setelah Perang Dunia II.
Dalam konteks tersebut, Indonesia memiliki peran strategis sebagai negara yang mampu menjembatani hubungan antarbangsa, khususnya di antara negara-negara berkembang di kawasan Asia, Afrika, dan dunia ketiga.
Spirit Dasa Sila Bandung menjadi salah satu kunci yang membentuk posisi tawar Indonesia di mata dunia. Jika semangat ini kembali diangkat dan disuarakan oleh kepemimpinan nasional Indonesia, bukan tidak mungkin kawasan Asia dan Afrika kembali menjadi ruang dialog global untuk meredakan konflik dan membangun perdamaian.
Momentum peringatan Konferensi Asia Afrika juga dapat menjadi kesempatan strategis bagi Indonesia untuk kembali memainkan peran diplomatiknya di tengah ketidakpastian geopolitik dunia saat ini.
Di saat banyak negara menghadapi kebingungan dalam menentukan arah geopolitik dan geostrategi global, Indonesia justru memiliki warisan historis yang dapat menjadi rujukan bagi upaya penyelesaian konflik dunia.
Bukan tidak mungkin, sebagaimana yang pernah terjadi dalam sejarah, Bandung kembali menjadi tempat lahirnya gagasan besar bagi perdamaian dunia. Indonesia punya jawabannya.

0Komentar