BERITA24IND.COM | Belakangan ini, publik kembali disuguhkan dua gaya berbeda dalam menyuarakan kritik terhadap pemerintah dan kebijakan publik. Di satu sisi ada Fathimah Azzahra, Wakil Ketua BEM UI yang dikenal dengan pendekatan intelektual, data-driven, dan penyampaian yang elegan. Di sisi lain ada Tiyo Ardianto, eks Ketua BEM UGM lulusan Paket C, yang lebih dikenal dengan gaya blak-blakan, emosional, dan kerap disertai kata-kata kasar serta hinaan langsung.
Kedua figur ini kini menjadi simbol “dua wajah mahasiswa kritis” di Indonesia. Pertanyaannya: manakah yang lebih membawa kemajuan bagi gerakan mahasiswa dan masyarakat?Fathimah Azzahra: Kritis yang BermartabatFathimah Azzahra, mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia angkatan 2023, saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI. Penampilannya dalam berbagai forum publik, termasuk saat menyampaikan aspirasi mahasiswa kepada pemerintah, mendapat perhatian luas.
Ia dikenal tidak hanya vokal, tetapi juga mampu menyusun argumen yang terstruktur. Kritiknya biasanya didukung data, fakta, dan analisis mendalam. Bahasanya tegas, namun tetap sopan dan elegan. Bahkan ketika menyentil kebijakan pemerintah seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau respons terhadap aspirasi mahasiswa, Fathimah tetap menjaga etika komunikasi.
Pendekatan ini menuai apresiasi dari banyak kalangan. Bagi pendukungnya, Fathimah merepresentasikan generasi mahasiswa intelektual yang mampu menjadi “suara akal sehat” di tengah hiruk-pikuk politik. Ia membuktikan bahwa menjadi kritis tidak harus kasar, dan menjadi tegas tidak harus menghina.Tiyo Ardianto: Emosi yang Meledak-ledakDi kubu lain, Tiyo Ardianto muncul dengan gaya yang sangat kontras. Eks pemimpin BEM UGM ini kerap menggunakan bahasa vulgar, kata-kata kasar, dan hinaan langsung saat menyampaikan kritik. Video-video pidatonya yang penuh umpatan seperti “anjing”, “babi”, “goblok”, dan berbagai hinaan lainnya viral di media sosial.
Pendekatannya memang mampu menggugah emosi massa, terutama di kalangan anak muda yang frustrasi dengan situasi politik dan ekonomi. Namun, banyak yang menilai cara ini justru kontraproduktif. Alih-alih membangun argumentasi yang kuat, Tiyo lebih sering terjebak pada serangan personal dan retorika emosional semata.
Bagi kritikusnya, gaya Tiyo mencerminkan “kritis ala TikTok” — keras, viral, tapi dangkal dan tidak substantif. Bahkan sebagian kalangan mahasiswa sendiri merasa citra gerakan mahasiswa menjadi rusak karena ulah seperti ini.Mengapa Perbedaan Ini Penting?Perbandingan antara Fathimah dan Tiyo bukan sekadar soal gaya bicara, melainkan soal kualitas substansi dan martabat gerakan mahasiswa.
Gerakan mahasiswa Indonesia memiliki sejarah panjang yang penuh dengan intelektualitas dan keberanian. Dari era 1966, 1974, hingga Reformasi 1998, mahasiswa selalu menjadi kekuatan moral bangsa.
Hari ini, di tengah berbagai isu kompleks, bangsa ini membutuhkan lebih banyak suara seperti Fathimah Azzahra — kritis, berbasis data, elegan, dan membangun. Bukan suara yang hanya pandai berteriak dan menghina, melainkan suara yang mampu memberikan solusi dan pencerahan.
Dua wajah mahasiswa kritis ini menjadi cermin bagi generasi muda Indonesia: mau menjadi bagian dari solusi yang bermartabat, atau hanya menjadi bagian dari keributan yang sia-sia?
Kedua figur ini kini menjadi simbol “dua wajah mahasiswa kritis” di Indonesia. Pertanyaannya: manakah yang lebih membawa kemajuan bagi gerakan mahasiswa dan masyarakat?Fathimah Azzahra: Kritis yang BermartabatFathimah Azzahra, mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia angkatan 2023, saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI. Penampilannya dalam berbagai forum publik, termasuk saat menyampaikan aspirasi mahasiswa kepada pemerintah, mendapat perhatian luas.
Ia dikenal tidak hanya vokal, tetapi juga mampu menyusun argumen yang terstruktur. Kritiknya biasanya didukung data, fakta, dan analisis mendalam. Bahasanya tegas, namun tetap sopan dan elegan. Bahkan ketika menyentil kebijakan pemerintah seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau respons terhadap aspirasi mahasiswa, Fathimah tetap menjaga etika komunikasi.
Pendekatan ini menuai apresiasi dari banyak kalangan. Bagi pendukungnya, Fathimah merepresentasikan generasi mahasiswa intelektual yang mampu menjadi “suara akal sehat” di tengah hiruk-pikuk politik. Ia membuktikan bahwa menjadi kritis tidak harus kasar, dan menjadi tegas tidak harus menghina.Tiyo Ardianto: Emosi yang Meledak-ledakDi kubu lain, Tiyo Ardianto muncul dengan gaya yang sangat kontras. Eks pemimpin BEM UGM ini kerap menggunakan bahasa vulgar, kata-kata kasar, dan hinaan langsung saat menyampaikan kritik. Video-video pidatonya yang penuh umpatan seperti “anjing”, “babi”, “goblok”, dan berbagai hinaan lainnya viral di media sosial.
Pendekatannya memang mampu menggugah emosi massa, terutama di kalangan anak muda yang frustrasi dengan situasi politik dan ekonomi. Namun, banyak yang menilai cara ini justru kontraproduktif. Alih-alih membangun argumentasi yang kuat, Tiyo lebih sering terjebak pada serangan personal dan retorika emosional semata.
Bagi kritikusnya, gaya Tiyo mencerminkan “kritis ala TikTok” — keras, viral, tapi dangkal dan tidak substantif. Bahkan sebagian kalangan mahasiswa sendiri merasa citra gerakan mahasiswa menjadi rusak karena ulah seperti ini.Mengapa Perbedaan Ini Penting?Perbandingan antara Fathimah dan Tiyo bukan sekadar soal gaya bicara, melainkan soal kualitas substansi dan martabat gerakan mahasiswa.
- Fathimah menunjukkan bahwa mahasiswa bisa menjadi kekuatan intelektual yang dihormati lawan politik sekalipun berbeda pandangan.
- Tiyo menunjukkan risiko ketika kritik hanya mengandalkan emosi dan kata kasar, yang berpotensi menurunkan derajat pergerakan mahasiswa di mata publik.
Gerakan mahasiswa Indonesia memiliki sejarah panjang yang penuh dengan intelektualitas dan keberanian. Dari era 1966, 1974, hingga Reformasi 1998, mahasiswa selalu menjadi kekuatan moral bangsa.
Hari ini, di tengah berbagai isu kompleks, bangsa ini membutuhkan lebih banyak suara seperti Fathimah Azzahra — kritis, berbasis data, elegan, dan membangun. Bukan suara yang hanya pandai berteriak dan menghina, melainkan suara yang mampu memberikan solusi dan pencerahan.
Dua wajah mahasiswa kritis ini menjadi cermin bagi generasi muda Indonesia: mau menjadi bagian dari solusi yang bermartabat, atau hanya menjadi bagian dari keributan yang sia-sia?

0Komentar