YOUTHINDONESIAN - Mahasiswa dari Universitas Primagraha (UPG) Serang, Universitas Bina Bangsa (UNIBA), dan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten menggelar konsolidasi sekaligus diskusi kebangsaan di salah satu angkringan di Kota Serang, Minggu (28/6/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang bertukar gagasan mengenai berbagai dinamika politik nasional, termasuk isu yang berkembang terkait wacana pemakzulan presiden serta peran mahasiswa dalam menjaga stabilitas kehidupan demokrasi.
Diskusi dipimpin oleh Dede Setiawan yang mengajak para peserta untuk menempatkan mahasiswa sebagai kekuatan intelektual dan moral dalam menyikapi berbagai persoalan bangsa. Menurutnya, setiap dinamika politik perlu dipahami melalui kajian yang komprehensif sehingga mahasiswa tidak mudah terbawa arus informasi ataupun narasi yang berkembang tanpa melakukan analisis terlebih dahulu.
Dalam pemaparannya, Dede menyampaikan keprihatinannya terhadap munculnya berbagai informasi di ruang publik mengenai dugaan adanya pihak-pihak yang berupaya memengaruhi gerakan mahasiswa melalui kepentingan politik tertentu.
Dirinya menilai, apabila benar terjadi, hal tersebut bertentangan dengan nilai dasar gerakan mahasiswa yang selama ini dikenal sebagai gerakan moral yang independen.
"Gerakan mahasiswa sejak dahulu dibangun di atas idealisme dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat. Apabila ada upaya pihak tertentu memanfaatkan gerakan mahasiswa untuk kepentingan politik praktis, tentu hal itu harus menjadi perhatian bersama dan, jika ada dugaan, harus dibuktikan melalui mekanisme hukum dan fakta yang dapat diverifikasi," ujar Dede Setiawan.
Ia juga mengingatkan bahwa mahasiswa tidak boleh menjadi kelompok yang mudah bereaksi tanpa memahami substansi persoalan yang sedang dihadapi bangsa. Menurutnya, tradisi akademik harus tetap menjadi landasan utama sebelum mahasiswa mengambil sikap ataupun melakukan aksi penyampaian pendapat di muka umum.
"Mahasiswa harus memperkuat kajian terlebih dahulu sebelum menentukan sikap. Jangan sampai kita menjadi mahasiswa yang hanya ikut-ikutan tanpa memahami secara utuh isu yang sedang diperjuangkan. Kekuatan mahasiswa ada pada kemampuan berpikir kritis, bukan sekadar bereaksi," katanya.
Dalam forum tersebut, para peserta juga berdiskusi mengenai pentingnya menjaga ruang demokrasi yang sehat melalui dialog, penelitian, diskusi ilmiah, dan penyampaian aspirasi yang bertanggung jawab. Mereka menilai kritik terhadap pemerintah merupakan bagian yang sah dalam sistem demokrasi, namun hendaknya disampaikan secara damai, argumentatif, dan disertai rekomendasi yang dapat menjadi bahan evaluasi bagi para pengambil kebijakan.
Dede turut menyinggung pentingnya menjaga budaya dialog di lingkungan akademik. Menurutnya, kampus merupakan ruang untuk bertukar pikiran dan menguji gagasan secara terbuka, sehingga perbedaan pandangan seharusnya dijawab melalui argumentasi, bukan dengan tindakan yang menghambat berlangsungnya forum diskusi.
"Kampus adalah rumah bagi dialektika. Ketika ada perbedaan pendapat, jawabannya adalah diskusi, adu argumentasi, dan penyampaian data maupun fakta. Budaya akademik akan tumbuh apabila setiap orang menghormati hak orang lain untuk menyampaikan pandangannya secara damai," ungkap Dede.
Lebih lanjut, ia mendorong mahasiswa agar terus menghadirkan gagasan-gagasan baru yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional. Menurutnya, tantangan bangsa saat ini memerlukan pemikiran yang kreatif dan solutif dari kalangan akademisi, bukan sekadar polarisasi yang memperuncing perbedaan.
"Bangsa ini membutuhkan ide-ide segar dari mahasiswa. Kritik tetap penting sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial, tetapi akan lebih bermakna apabila dibarengi dengan solusi yang realistis dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik," tambahnya.
Diskusi berlangsung secara interaktif dengan berbagai pandangan dari peserta mengenai peran mahasiswa dalam menjaga demokrasi, memperkuat literasi politik, serta mendorong budaya dialog yang sehat di tengah meningkatnya polarisasi di ruang publik.
Para peserta sepakat bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk tetap independen, kritis, dan menjunjung tinggi tradisi ilmiah dalam menyikapi setiap isu kebangsaan, sehingga aspirasi yang disampaikan dapat memberikan kontribusi positif bagi kehidupan demokrasi dan kemajuan Indonesia. ***
0Komentar