Esai : Sederhana -->

Esai : Sederhana

Admin
Selasa, 25 Februari 2020

source image : Great Edu

[S e d e r h a n a .] 

Beberapa dasawarsa silam; ketika era keterbukaan informasi belum begitu merebak, ketika gang-gang jalan dipenuhi oleh interaksi tetangga satu dengan yang lainnya, ketika beranda-beranda rumah jadi tempat berbagi, atau ketika aplikasi TikT*k masih terkesan tabu dikhalayak, kondisi sosio-kultural masyarakat kebanyakan adalah kesederhanaan.

Atau kita mengenal entitas bangsa kita sebagai bangsa yang mengedepankan Gotong-Royong. Hal tersebut dengan alasan apapun tidak bisa dinafikan, kita adalah anak-anak yang dilahirkan dari rahim-rahim yang sejatinya dibalut kesederhanaan.

Memang, ukuran setiap orang tentang kesederhaan akan berbeda. Tapi, pasti kita akan bersepakat bahwa kecukupan adalah kunci dari kesederhanaan. Tidak kurang dan tidak lebih, juga tidak ribet; cukup. Atau menurut istilah pengarang Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka dalam Falsafah Hidup, orang yang sederhana adalah orang yang tidak terlalu condong, tidak juga terlalu rebah.

Sederhana tidak bisa digambarkan, atau lantas dipublikasikan via apapun dan dimanapun. Sederhana adalah bentuk abstrak dari kehidupan, tapi sifatnya jelas dan tegas. Maka, kesederhanaan yang dimunculkan untuk memenuhi harapan orang lain, belum bisa dikatakan sebagai kesederhanaan. Bisa jadi, itu adalah kesombongan yang tersembunyi.

Kesederhanaan tidak butuh validasi, apalagi dengan segala persiapan verifikasi. Kesederhanaan adalah manifestasi dari cinta dan ilmu. Kesederhanaan bukan hanya soal harta ataupun tahta. Seperti sabda Rasulullah saw., “agama ini mudah. Siapapun yang mempersulit diri dalam menjalankan agama ini, pasti akan kalah”.

Berbahagialah jika saat ini disekeliling kita masih banyak orang-orang yang sederhana, yang tidak pernah menuntut kemewahan dalam hal apapun. Yang selalu lebih mementingkan isi daripada bentuknya, mementingkan hikmah daripada kontennya, mementingkan rasa kemudian packagingnya. Berbahagialah.

Yang terlihat ‘luntang-lantung’, ternyata hidupnya habis bolak-balik ke desa untuk memperjuangkan hak kaum-kaum mustadh’afin. Yang terlihat sering ‘rebahan’, ternyata waktunya tersita untuk membuka taman-taman bacaan di kampung-kampung. Yang terlihat ‘melongo’ dan hampir selalu tidak menanyakan ini-itu, ternyata malam-malamnya dikawal oleh banyak buku yang habis dibacanya. Banyak lagi. Sederhana itu tidak bisa diduga-duga, tidak bisa diterka-terka. Tiba-tiba kita mendecak kagum dan sekelebat mereka masuk dalam daftar idola.

Maka, memang kesederhanaan di hari-hari belakangan ini, seperti lautan, hanya terlihat biru dipermukaan, tapi kaya dikedalaman. Kemewahan yang tersembunyi.

Kerangka hematnya, sederhana adalah bahagia.


Aldi Agus Setiawan. (Aktivis Penggerak Literasi)