Transformasi Pemikiran dan Spiritual R.A Kartini Dengan Al-Qur'an Sebagai Titik Tolak Perjuangan -->

Transformasi Pemikiran dan Spiritual R.A Kartini Dengan Al-Qur'an Sebagai Titik Tolak Perjuangan

Yoga
Jumat, 21 April 2023


YOUTHINDONESIAN - Tepat pada tanggal 21 April masyarakat Indonesia memperingati hari Kartini. Berbagai macam bentuk perayaan dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Mungkin rasanya memang tidak berlebihan, sebab beliau adalah salah satu tokoh pejuang nasional.

Selama ini kita mengenal sosok Kartini itu seperti apa sih? 

Raden Adjeng Kartini (21 April 1879 – 17 September 1904) atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini adalah seorang pejuang kemerdekaan bagi kedudukan kaumnya, pada saat itu terutama wanita Jawa. Ia mempunyai tanggal lahir yang sama seperti dr. Radjiman Wedyodiningrat, yakni sama-sama lahir pada 21 April 1879.

Ia dilahirkan dalam keluarga bangsawan Jawa di Hindia Belanda. Setelah bersekolah di sekolah dasar berbahasa Belanda, ia ingin melanjutkan pendidikan lebih lanjut, tetapi perempuan Jawa saat itu dilarang mengenyam pendidikan tinggi. Ia bertemu dengan berbagai pejabat dan orang berpengaruh, termasuk J.H. Abendanon, yang bertugas melaksanakan Kebijakan Etis Belanda.

Raden Adjeng Kartini berasal dari kalangan priayi atau kelas bangsawan Jawa. Ia merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara segera setelah Kartini lahir.

Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.

Garis keturunan Bupati Sosroningrat bahkan dapat ditilik kembali ke istana Kerajaan Majapahit. Semenjak Pangeran Dangirin menjadi bupati Surabaya pada abad ke-18, nenek moyang Sosroningrat mengisi banyak posisi penting di Pangreh Praja.

Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi,[5] maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.

Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari semua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati di usia 25 tahun dan dikenal pada pertengahan abad ke-19 sebagai salah satu bupati pertama yang memberi pendidikan Barat kepada anak-anaknya.

Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS). Disini Kartini belajar bahasa Belanda. Namun, setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena harus dipingit.

Karena kondisinya dipingit, tak banyak kegiatan yang bisa dilakukan Kartini di luar rumah.  Namun, bukan berarti dia berdiam diri. Aktivitas surat-menyurat Kartini menjadi senjata perjuangannya. Surat-surat yang ditulisnya lebih banyak berisi keluhan-keluhan tentang kehidupan wanita pribumi khususnya Jawa yang sulit untuk maju. Salah satunya seperti kebiasaan wanita harus dipingit, tidak bebas menuntut ilmu, dan juga adat yang mengekang kebebasan perempuan.

Kartini menginginkan emansipasi, seorang perempuan harus memperoleh kebebasan dan kesetaraan baik dalam kehidupan maupun di mata hukum. 

Kartini juga mengungkit isu agama seperti poligami dan alasan mengapa kitab suci harus dihapal dan dibaca tapi tidak perlu dipahami. Bahkan, ada kutipan dari Kartini yang berkata, “Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu.” Daya nalar Kartini makin matang. Ketika ia menginjak usia 20 tahun, Kartini membaca buku-buku karya Louis Coperus (De Stille Kraacht), Van Eeden, Augusta de Witt, Multatuli (Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta) serta berbagai roman-roman beraliran feminis. Semuanya menggunakan bahasa Belanda.

Mungkin ada yang mengenal bahwa Kartini adalah tokoh pejuang emansipasi perempuan? Ada juga yang mengenal sebagai orang yang menentang adat istiadat? 

Atau seorang yang pro Belanda dan pembangkang terhadap agama? 

Atau jangan-jangan bisa jadi ada yang mengenal sebagai tokoh yang memperjuangkan bangsa dengan ruh Islam?

Dalam sebuah buku "Tragedi Kartini : sebuah pertarungan ideologi" yang di tulis oleh Asma Karimah. Dimana dalam buku tersebut kita bisa klasifikasikan bahwa R.A Kartini mengalami 3 masa transformasi pemikiran. 

Pertama, masa adat : kritik terhadap adat dan hak pendidikan bagi perempuan.

Pada masa ini, Kartini yang memang keturunan keluarga cerdas banyak mengkritisi kehidupan adat Jawa di lingkungan keningratannya. Pada masa ini Ia fokus pada perjuangan di bidang pendidikan dan peraturan adat. Di masa adat, 18 Agustus 1899. Kartini menulis surat kepada Nona Zehander "bagi saya ada 2 macam bangsawan, ialah bangsawan pikiran dan bangsawan Budi. Tidaklah yang lebih gila dan bodoh menurut pendapat saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya".

Kedua, masa Barat : pengaruh dan kedudukan masyarakat Eropa yang menganggap bahwa agama adalah keterkungkungan.

Aktivitas surat-menyurat Kartini hampir keseluruhannya ditujukan pada teman baratnya. Sebut saja, Mr. Abendanon, Nyonya Abendanon, Annie Glesser, Stella, dan Ir. H. Van Kol dan Nyonya Van Kol. Dalam buku "Tragedi Kartini", tokoh-tokoh tersebut dinyatakan membawa misi terselubung terhadap Kartini.

Politik Asosiasi, mereka gunakan untuk memasukkan peradaban Barat dalam masyarakat pribumi. Dan melalui Kartini yang merupakan priyayilah misi tersebut dapat terlaksana. 

Pada masa itu, Kartini menjadi terpengaruh oleh pemikiran Barat.

 “Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik; Orang baik-baik itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi lagi, dan mereka itu meniru yang tertinggi pula ialah orang Eropa,” demikian surat Kartini kepada Stella, 25 Mei 1899.

Selain itu pada 6 November 1899 Kartini menulis " Duh tuhan, kadang aku ingin, hendaknya tidak ada satu agama pun di dunia ini. Karena agama-agama ini yang harusnya persatukan semua orang. Sepanjang abad abad telah lewat menjadi biang keladi peperangan dan perpecahan, dari drama drama pembunuhan yang paling kejam.

Ketiga, Masa pencerahan: kesadaran hakikat diri, yaitu dari gelap menuju cahaya. 

Surat-surat yang ditulis sebelum Kartini wafat, banyak mengulang kata Door Duisternis Tot Licht. Kata-kata tersebut kini kita kenal dengan istilah "Habis Gelap Terbitlah Terang". Namun sekali lagi, terdapat konspirasi sejarah yang urung mengemukakan makna sebenarnya dari kata tersebut. Kartini memunculkan kata itu, terinspirasi oleh potongan Ayat 257 Surat Al Baqarah.

"minadz-dzulumati ilannur" ( dari kegelapan menuju cahaya petunjuk). Sayangnya oleh Armijn Pane ungkapan ini di terjemahkan menjadi " habis gelap terbitlah terang". Sehingga kata-kata tersebut kehilangan makna aslinya.

Masa pencerahan tersebut berawal terjadi ketika Kartini menghadiri acara pengajian di rumah pamannya yaitu bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat. Pada saat itu kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah.

Kartini pun tertegun mendengar ceramah sang kyai, karena selama ini dia hanya membaca Al-fatihah tanpa tahu makna dan arti dari ayat tersebut. Sebab pada saat itu Al-Qur'an dilarang di terjemahkan oleh kolonial Belanda.

Setelah itu Kartini mendesak sang kyai yang juga menjadi guru nya untuk menerjemahkan Al-Qur'an. Sang kyai pun akhirnya menerjemahkan Al-Qur'an dan melanggar larangan dari Belanda, sang kyai menerjemahkan dengan bahasa Pegon ( Arab gundul) agar tidak dicurigai.

Sebanyak 13 juz terjemahan kyiai berikan pada saat pernikahan Kartini sebagai hadiah pernikahan. Kartini pun menganggap bahwa hadiah tersebut sebagai kado yang tak ternilai harganya.  Sang guru hanya menerjemahkan sampai surat Ibrahim saja, karena ia sudah berpulang terlebih dahulu kepangkuan yang maha kuasa. Kyai Sholeh Darat membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual.

Pandangan Kartini tentang Barat berubah. Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon.

"Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban".

Tidak, sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan.

Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis; Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.

Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis; “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.

Tibalah kita pada sebuah kesimpulan, terkait dengan pertanyaan apakah benar bahwa Kartini adalah orang yang menentang adat istiadat, atau sosok yang pro Belanda dan pembangkang terhadap agama? Jawabannya adalah ya, karena Kartini mengalami transformasi pemikiran di 2 masa tersebut yakni masa adat dan masa barat. Tetapi, pada akhirnya mengalami masa pencerahan sampai menjelang wafatnya, dengan menjadikan Al-Qur'an sebagai titik tolak perjuangan. "Minadz-dzulumati ilannur" dari kegelapan menuju cahaya. Yakni cahayanya Allah.

Lalu mengenai Kartini yang terkenal sebagai tokoh yang memperjuangkan emansipasi perempuan memang tidak sepenuhnya salah. Mungkin banyak yang berpemahaman bahwasanya Emansipasi yang umum diketahui yaitu yang mengurus pada usaha kesetaraan wanita terhadap laki-laki dalam segala bidang.

Padahal, yang dimaksud dengan emansipasi dari pemikiran Kartini bisa kita lihat pada sebuah penggalan surat Kartini pada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902, mematahkan itu semua.

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi, karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Jelas rasanya jika kartini melakukan perjuangan agar para perempuan mendapatkan hak pendidikan yang sama untuk mempersiapkan generasi selanjutnya menuju  sebuah peradaban yang lebih baik. Sebab, perempuan adalah tiang negara dan peradaban.

Maka di hari Kartini ini mari kita jadikan perjuangan R.A Kartini ini sebagai momentum untuk menjadi Perempuan yang senantiasa meningkatkan kapasitas diri dan menjadikan Al-Qur'an sebagai inspirasi perjuangan  layaknya Kartini agar mampu menciptakan tatanan peradaban yang mulia. 

Serta senantiasa mengajak manusia untuk bersama-sama minadz-dzulumati ilannur"  membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya, cahanya Allah. Sehingga cahaya tersebut mampu menyalakan semesta alam.

Oleh : Lisdiana, Ketua Bidang Perempuan PD KAMMI Serang

Sumber :
- Buku Tragedi kartini: sebuah pertarungan ideologi
- Instagram @kartinifastuti
- Republika.co.id. (2012, 22 April). Inilah Hakikat Sebenarnya Emansipasi Kartini. Diakses pada 19 April 2023, dari https://news.republika.co.id/berita/m2tq3f/inilah-hakikat-sebenarnya-dari-emansipasi-kartini