YOUTHINDONESIAN.COM | JAKARTA – Lula Lahfah, 24 tahun, ditemukan tidak bernyawa di Apartemen Essence Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Jumat (23/1/2026) pukul 18.44 WIB. Ditemukan petugas keamanan setelah asisten rumah tangga (ART) khawatir karena tidak ada respons dari dalam kamar . Kini, polisi tengah melakukan investigasi menyeluruh untuk memastikan penyebab pasti kematian selebgram yang juga merupakan kekasih Reza Arap itu.
Kronologi: Dari Curiga hingga Ditemukan ART tiba-tiba khawatir karena Lula tidak merespons panggilan dan tidak keluar dari kamarnya sejak siang. Ia kemudian melaporkan kepada petugas keamanan apartemen yang akhirnya membuka pintu dan menemukan Lula sudah meninggal .
"Prosedur Operasional Standar (SOP) mengharuskan kami turun tangan dalam kasus kematian yang tidak wajar," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto, Sabtu (24/1/2026) .
Spekulasi vs Fakta: Autopsi Jadi Kunci Sejak kematian Lula tersebar, spekulasi beredar luas di media sosial – termasuk rumor overdosis (OD). Polisi menegaskan belum bisa memastikan apapun sebelum autopsi selesai.
"Penyebab dugaan kematian harus dilakukan autopsi kalau untuk memastikan," tegas Budi Hermanto . Tim kepolisian Sat Reskrim Jakarta Selatan masih melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan berkoordinasi dengan keluarga.
Riwayat Kesehatan: GERD hingga Usus Bengkak Lula memang memiliki riwayat kesehatan yang sempat ia ungkapkan sendiri. Pada awal 2026, ia pernah curhat soal penyakit Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) dan usus bengkak yang membuatnya sering merasa sakit.
Polisi juga menemukan obat-obatan dan surat rawat jalan rumah sakit di apartemennya. Surat kematian sementara yang beredar menyebutkan penyebab "henti jantung henti napas" (sudden cardiac arrest) . Namun, kombinasi obat dan kondisi medis tertentu tetap perlu diverifikasi lewat pemeriksaan forensik.
Duka di Dunia Maya Kematian Lula menuai belasungkawa dari warganet dan rekan-rekan artis. Banyak yang mengingatnya sebagai sosok ceria dan produktif . Namun sebagian juga ikut menyebarkan spekulasi tanpa verifikasi.
"Diharapkan publik tidak ikut menyebarkan dugaan tak berdasar. Biarkan proses hukum bekerja," imbau Budi Hermanto .
Pesan untuk Gen Z: Stop Opini, Mulai Faktual Kasus Lula adalah case study betapa media sosial bisa menjadi ranah spekulasi liar. Bagi Gen Z yang dominan di platform digital, ini panggilan untuk lebih critical: Pause before share: Berita belum resmi? Jangan forward. Trust forensik: Autopsi, bukan opini Twitter, yang punya otoritas medis-hukum. Respek keluarga: Mereka punya hak atas privasi di saat berduka. Investigasi Polda Metro Jaya masih berlangsung. Hasil autopsi diperkirakan akan selesai dalam hitungan hari. Hingga saat itu, semua spekulasi tetap spekulasi – dan kenyataan hanya bisa ditegakkan melalui proses legal-medis.
Update terakhir: Polisi masih menunggu hasil lab forensik untuk menentukan apakah ada indikasi tindak pidana atau kematian wajar akibat komplikasi kesehatan .

0Komentar