YOUTHINDONESIAN|Kota Serang - Kuadranesia Institute menggelar diskusi publik bertema “Mahasiswa dan Nalar Kritis Menjelang Momentum May Day & Hardiknas” yang berlangsung di Kota Serang pada Rabu, 29 April 2026. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus dialog terbuka bagi mahasiswa dalam menyikapi dinamika sosial menjelang dua momentum penting nasional, yakni May Day dan Hari Pendidikan Nasional.

Diskusi ini dimoderatori oleh Nazhwa Oktavia, seorang mahasiswa sekaligus pegiat media sosial, dengan menghadirkan narasumber utama Emar Muamar yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Kuadranesia Institute. Forum tersebut dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Banten, di antaranya Untirta, UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Universitas Pamulang, Poltekkes Kemenkes Banten, Universitas Primagraha, La Tansa Mashiro, dan STAI Nurul Hidayah.

Dalam suasana diskusi yang interaktif, para peserta diajak untuk memahami pentingnya posisi mahasiswa sebagai agen intelektual yang tidak hanya kritis, tetapi juga memiliki tanggung jawab kebangsaan. Menjelang momentum May Day dan Hardiknas, isu kebebasan berekspresi menjadi salah satu sorotan utama yang dibahas secara mendalam.

Emar Muamar dalam pemaparannya menegaskan bahwa kebebasan berpendapat harus tetap berada dalam koridor nilai-nilai kebangsaan.

“Mahasiswa harus tetap kritis, tetapi juga memiliki orientasi yang jelas terhadap kepentingan bangsa. Kebebasan berekspresi tidak boleh lepas dari tanggung jawab menjaga persatuan dan stabilitas nasional,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia juga menyoroti pentingnya kemampuan mahasiswa dalam menghadapi arus informasi yang semakin kompleks di era digital.

“Mahasiswa dituntut untuk mampu memilah informasi, menolak provokasi, dan tidak mudah terjebak dalam narasi yang berpotensi memecah belah. Peran intelektual itu bukan hanya soal kritik, tapi juga membangun,” tambahnya.

Diskusi ini juga menekankan bahwa ruang publik harus dijaga tetap sehat melalui dialog yang konstruktif. Para peserta didorong untuk tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika sosial, tetapi juga berperan aktif dalam menciptakan narasi yang menyejukkan dan solutif.

Dalam penutupnya, Emar Muamar menyampaikan pesan penting mengenai peran strategis mahasiswa sebagai motor perubahan.

“Mahasiswa harus mampu menjadi creative minority, kelompok kecil yang berpikir maju dan mampu melahirkan perubahan positif bagi bangsa dan negara,” tegasnya.


Melalui forum ini, Kuadranesia Institute berharap mahasiswa dapat terus mengembangkan nalar kritis yang berimbang tajam dalam analisis, namun tetap berpijak pada nilai persatuan dan kepentingan nasional.