YOUTHINDONESIAN – Organisasi kepemudaan YOUTHINDONESIAN menyelenggarakan kegiatan nonton bareng (nobar) dan bedah film Pesta Babi pada Kamis (4/6/2026) di Kota Serang, Banten. Kegiatan yang dimulai pukul 15.00 WIB tersebut diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Provinsi Banten sebagai ruang diskusi kritis mengenai isu sosial, budaya, serta etika dalam produksi film dokumenter.
Acara dilanjutkan dengan sesi bedah film yang menghadirkan Yudi Laksana sebagai pembedah. Dalam pemaparannya, Yudi mengajak peserta untuk melihat film secara kritis, tidak hanya dari sisi narasi yang dibangun, tetapi juga dari aspek etika, akurasi informasi, serta dampaknya terhadap masyarakat yang menjadi objek dalam film tersebut.
Menurut Yudi Laksana, salah satu hal yang menjadi perhatian peserta diskusi adalah munculnya kritik terkait aspek etika dan perlindungan data pribadi. Ia menilai dokumentasi, rekaman wawancara, serta pengambilan gambar yang menampilkan masyarakat dan tokoh lokal perlu memperhatikan secara serius prinsip persetujuan dan hak privasi setiap individu yang terlibat.
"Publik berhak mempertanyakan sejauh mana proses persetujuan dilakukan terhadap pihak-pihak yang ditampilkan dalam film. Isu ini penting karena menyangkut penghormatan terhadap hak privasi dan martabat masyarakat yang menjadi bagian dari dokumentasi," ujar Yudi dalam diskusi.
Selain itu, Yudi juga menyoroti penggunaan tradisi sakral *Pesta Babi* yang selama ini dikenal sebagai simbol persaudaraan, kebersamaan, dan ikatan spiritual masyarakat Papua. Menurutnya, terdapat pandangan dari sejumlah kalangan yang menilai bahwa penggunaan simbol budaya tersebut untuk membangun narasi politik tertentu berpotensi menggeser makna asli yang hidup dalam masyarakat adat.
"Tradisi budaya memiliki nilai yang sangat penting bagi masyarakat adat. Karena itu, representasinya dalam sebuah karya harus dilakukan secara hati-hati dan penuh tanggung jawab agar tidak mengaburkan makna yang sesungguhnya," jelasnya.
Dalam sesi diskusi yang berlangsung interaktif, para mahasiswa juga membahas bagaimana sebuah film dokumenter idealnya mampu menghadirkan perspektif yang berimbang dan memberikan ruang yang setara bagi berbagai pihak. Beberapa peserta menilai bahwa karya yang mengangkat isu-isu sensitif seharusnya tidak hanya menampilkan persoalan, tetapi juga mendorong hadirnya solusi, dialog, dan pemahaman yang lebih konstruktif.
Yudi menegaskan bahwa jurnalisme dan karya dokumenter memiliki peran penting dalam kehidupan demokrasi. Namun demikian, kebebasan berekspresi harus berjalan seiring dengan tanggung jawab etis, penghormatan terhadap hak privasi, serta komitmen terhadap prinsip keberimbangan informasi.
"Kita perlu terus mendukung jurnalisme yang profesional, menghormati hak-hak setiap warga negara, dan memberikan ruang yang adil bagi seluruh pihak untuk menyampaikan pandangannya. Kebenaran tidak membutuhkan manipulasi. Papua membutuhkan keadilan, dialog, dan penghormatan terhadap martabat manusia, bukan narasi yang berpotensi memperlebar perbedaan," tutup Yudi.
Kegiatan nobar dan bedah film ini diharapkan menjadi ruang edukasi bagi mahasiswa untuk meningkatkan literasi media, kemampuan berpikir kritis, serta kesadaran akan pentingnya etika dalam produksi dan konsumsi informasi di era digital. ***
0Komentar