Muktamar ke-35 NU Ricuh: Catatan dari Pandangan NU Kultural
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama seharusnya menjadi momentum penting untuk merumuskan arah perjalanan organisasi ke depan. Namun ketika dinamika muktamar diwarnai kericuhan, tentu muncul kegelisahan, khususnya dari mereka yang memandang NU bukan sekadar sebagai organisasi struktural, melainkan sebagai tradisi dan rumah besar umat.
Dalam pandangan NU kultural, NU hidup bukan hanya di ruang rapat dan struktur kepengurusan. NU hidup di pesantren, masjid, langgar, majelis taklim, tahlilan, shalawatan, serta kehidupan masyarakat di akar rumput. Karena itu, apa pun yang terjadi dalam forum sebesar Muktamar ke-35 NU akan selalu menjadi perhatian warga, sebab marwah NU bukan hanya milik pengurus, tetapi juga milik jutaan masyarakat yang selama ini merawat tradisi dan perjuangan para pendirinya.
Perbedaan pandangan dalam muktamar tentu merupakan hal yang wajar. Organisasi sebesar NU tidak mungkin berjalan tanpa perbedaan kepentingan, gagasan, dan pandangan. Namun, NU kultural memandang bahwa perbedaan harus tetap diselesaikan dengan nilai yang selama ini menjadi kekuatan NU: adab, musyawarah, tawadhu, dan penghormatan kepada sesama.
Kericuhan seharusnya menjadi bahan introspeksi bersama. Jangan sampai kontestasi kepemimpinan membuat semua pihak lupa bahwa NU dibangun oleh perjuangan panjang para ulama dan warga yang mengabdi bukan karena jabatan. Struktur memang penting, kepemimpinan juga penting, tetapi keduanya tidak boleh lebih besar daripada kepentingan menjaga persatuan dan marwah jam'iyah.
Warga di akar rumput mungkin tidak selalu memahami seluruh dinamika yang terjadi dalam persidangan Muktamar. Namun mereka memahami satu hal sederhana: NU harus tetap menjadi rumah yang teduh. Rumah yang mampu menampung perbedaan, menyelesaikan konflik melalui musyawarah, dan tetap menjaga persaudaraan meskipun memiliki pilihan yang berbeda.
Muktamar ke-35 NU harus menjadi pengingat bahwa jabatan akan berganti dan kepengurusan akan berakhir. Tetapi tradisi, kepercayaan masyarakat, dan nama besar NU harus tetap dijaga.
Dalam pandangan NU kultural, kemenangan terbesar dalam sebuah muktamar bukanlah ketika satu kelompok berhasil memenangkan kontestasi, melainkan ketika seluruh pihak mampu pulang dengan tetap menjaga persaudaraan dan marwah NU.
Sebab NU terlalu besar untuk hanya menjadi arena perebutan jabatan. NU adalah warisan perjuangan, tradisi, dan rumah bersama yang harus dijaga.

0Komentar