Writing Competition 2019 : Perempuan Itu (bukan) Pelacur -->

Writing Competition 2019 : Perempuan Itu (bukan) Pelacur

Admin
Jumat, 31 Mei 2019



(Ilustrasi dari Google Images)

Prakkk, brukkk aku memukul meja dan medorong ke arahnya, aku melakukannya karena menghindarinya, sudah muak aku dengannya, tidak perduli siapapun dia. Aku hendak pergi.
04.15 jam paling kesiangan di sini, karena semua sudah berhamburan meninggalkan dunia mimpinya di tempat ternyaman menurut mereka, untuk  melaksanakan kewajiban sholat subuh. Aku bangun pada jam di atas, paling terakhir.

“Sophi? Sophia?” aku sudah menduga suara teriakan dari luar itu pasti Ane, selama dua tahun terakhir ini teriakan ia lah yang menjadi alarmku di panti, dan bel untuk membubarkan lamunanku. Aku belum sempat menghiraukannya karena aku memikirkan sesuatu yang mengganjal di kepalaku. Tumben sekali saat aku bangun tidur aku memikirkan sosok perempuan itu, perempuan sial itu.

“Sophia? Apa yang kau lakukan? Kamu tidak bosan setiap hari kita dimarahi terus? Ayo bangun” teriak Ane. Dia berhasil membubarkan lamunanku yang kedua kalinya, dan berhasil membuat aku langsung lompat dari kasur lipat tipisku yang busanya kini sudah tidak karuan. Maklum saja, Kasur ini aku temukan di gudang panti, bau pesing, tapi sekarang sudah wangi, karena aku sirami dengan air deterjen, lalu ku jemur. Jadi pantas saja busanyapun menggumpal-gumpal tidak rata. Ini hanya bagian paling kecil dari derita dalam hidupku, jadi aku tidak terlalu perdulikanya.

Aku dan Ane bersahabat, sudah ku anggap dia sebagai saudara perempuanku, walaupun aku tidak tahu dia menganggapku sama atau tidak, atau kurasa dia hanya menganggapku salah satu anak panti yang kebetulan mempunyai nasib sama dengannya, tanpa ibu. Mama Ane meninggal saat Ane hendak masuk Sekolah Menengah Pertama, papanya lebih dulu. Ane masuk panti setelah menerima kenyataan bahwa dia yatim piatu. Malang sekali anak baik itu. Tapi ada yang lebih malang darinya, yaitu aku.
“kamu sedang apa?” tiba-tiba Ane menghampiriku sambil menepuk pundakku. “aku sedang memikirkan kenapa kita tidak bisa memilih dilahirkan oleh rahim siapa” Ane menelan ludah, menatapnya ia ke langit-langit. Kami berdua membisu, sampai kami memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan kami.
Aku suka membuat puisi, apalagi ketika malam hari. Kali ini kubuat puisi dan mementaskannya dalam hatiku. “aku tahu perempuan itu, tapi aku anggap tak mengetahuinya, aku tahu aku dilahirkan dari rahimnya, tapi kuanggap itu hanya kebetulan saja, anak manapun pasti akan melakukan hal yang sama. Setiap malam perempuan itu pergi dan kembali pada pagi hari. Yang aku tahu dari cerita anak-anak lain, bahwa ibu merupakan perempuan terhebat bagi anaknya. Yang katanya ibuku, dia hanya hebat membohongiku, mentelantarkanku lantas meninggalkanku, dan seakan tidak perdulikan semua demi menjadi hebat bagi lelaki peminatnya. Aku larut dalam puisi yang kuambil dari derita hidupku, seperti aku larut dalam penyesalanku.
Aku sangat menyesal saat kudapati informasi yang sangat menyesakkan, bibiku tiba di panti dengan mata sembab dan paras kecewa, yang sebelumnya dia meneleponku dan menyuruhku pulang. Jelas aku tidak mau, malas sekali aku menemui perempuan itu, fikirku. Rasanya dia marah denganku, karena aku membangkang dan tidak menurutinya. Ternyata dia ceritakan semuanya, kesalahfahaman kurang lebih lima tahun ini. Perempuan itu ternyata bukan pelacur, dia kerja keras sendiri untuk menghidupi seorang anak yang kurang ajar sepertiku. Ya, perempuan itu adalah ibuku. Dia memang menemani laki-laki, tapi itu adalah saudaraku, tetapi buruknya yaitu untuk menemani bermain judi, itupun terpaksa karena dia mengancam akan membongkar rahasia ibu kepadaku tentang penyakit kanker rahim yang dideritanya selama beberapa tahun. Hanya aku keluarganya yang tidak mengetahui penderitaan ibu, karena egoku.  Ibu tidak ingin aku tahu, karena dia tidak ingin aku sedih memikirkan siapa yang akan menjagaku. Tentang pekerjaannya, menurut saudaraku yang meminta ibu menemaninya, ibuku membawa keberuntungan saat dia main judi. Jadi itulah alasan dia memaksa ibu. 
Pantas saja, setiap kali kubertanya, ibu selalu menjawab, “Ibu sedang bekerja membantu orang”. Itu ternyata sungguhan, tidak mengada-ada sama sekali.
"Ayo bi sekarang kita pulang!" Sambil menangis keras aku mengajak bibi segera pulang, karena aku ingin memeluk, mencium kakinya, dan meminta maaf pada ibu. Bibiku menjawab "ibumu sudah dimakamkan tadi pagi, kalau mau bibi antar kamu ke makamnya".
Kemudian, pada pementasan acara perpisahan di panti, saat itu semua murid maju satu persatu untuk berbicara. Seisi studio menangis dan kesal, bahkan ada yang meraung-raung. Entah mereka haru atas ceritaku atau malah membenci dan bahkan mengutukku. Dan aku setuju pada mereka.

Oleh : Nina Far’aini