YOUTHINDONESIAN -  Sebanyak 126 mahasiswa Pendidikan Kimia Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) mengikuti kegiatan Latihan Kepemimpinan 1 (LK 1) yang diisi dengan pembekalan mengenai kepemimpinan, manajemen aksi, komunikasi publik, serta tantangan propaganda negatif dan cognitive warfare di era digital.

Dalam kegiatan tersebut, Emar Muamar memberikan materi yang menyoroti perubahan medan perjuangan generasi muda. Menurutnya, perkembangan teknologi membuat pertarungan gagasan tidak lagi hanya berlangsung melalui forum organisasi, ruang kelas, maupun aksi di jalan, tetapi juga terjadi di ruang digital.

Media sosial kini menjadi ruang yang sangat kuat dalam membentuk opini dan persepsi publik. Di sisi lain, ruang tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan propaganda negatif, disinformasi, hoaks, provokasi, dan manipulasi emosi.

“Hari ini pertarungan tidak selalu dilakukan dengan kekuatan fisik. Pikiran manusia juga bisa menjadi medan pertarungan. Ketika persepsi seseorang berhasil dipengaruhi melalui informasi yang dimanipulasi, maka cara berpikir, emosi, sikap, bahkan keputusan orang tersebut dapat ikut diarahkan,” ujar Emar Muamar.

Emar menjelaskan bahwa propaganda dapat digunakan untuk memengaruhi pikiran, sikap, keyakinan, maupun perilaku audiens. Persoalan menjadi berbahaya ketika propaganda digunakan secara negatif untuk memanipulasi fakta, membangun kebencian, menciptakan ketakutan, menyebarkan kecurigaan, serta mempertajam polarisasi di tengah masyarakat.

Kecepatan media sosial membuat sebuah narasi dapat menyebar dalam waktu singkat. Bahkan, konten yang mengandung provokasi dan membangkitkan emosi sering kali lebih mudah mendapatkan perhatian dibandingkan informasi yang membutuhkan proses verifikasi.

“Propaganda negatif sangat berbahaya karena yang diserang bukan hanya pendapat seseorang, tetapi bisa sampai pada cara seseorang melihat realitas. Ketika kebohongan diulang terus-menerus, emosi terus dipancing, dan masyarakat hanya diberikan informasi dari satu sudut pandang, kemampuan untuk berpikir objektif bisa semakin melemah,” jelasnya.

Dalam materi tersebut, Emar juga menjelaskan konsep cognitive warfare atau perang kognitif, yaitu bentuk pertarungan pengaruh yang menjadikan proses berpikir manusia sebagai salah satu sasaran.

Informasi dapat membentuk persepsi, persepsi memengaruhi emosi, emosi membentuk sikap, dan sikap pada akhirnya dapat memengaruhi perilaku.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa manipulasi informasi bukan persoalan sederhana. Narasi tertentu dapat dirancang untuk membuat masyarakat takut, marah, curiga, bahkan membenci kelompok atau pihak tertentu.

“Cognitive warfare tidak harus membuat seseorang merasa sedang diserang. Justru salah satu bahayanya adalah ketika seseorang merasa keputusan yang diambil sepenuhnya merupakan pemikirannya sendiri, padahal persepsinya sudah dibentuk oleh arus informasi yang terus-menerus dikonsumsi,” kata Emar.

Karena itu, mahasiswa perlu memiliki ketahanan kognitif agar tidak mudah menjadi korban manipulasi informasi.

Sebagai kelompok intelektual, mahasiswa Pendidikan Kimia Untirta didorong untuk tidak hanya memiliki keberanian dalam menyampaikan pendapat, tetapi juga kemampuan memverifikasi informasi dan memahami konteks sebuah persoalan.

Kebiasaan memeriksa sumber, membandingkan berbagai perspektif, membedakan fakta dengan opini, serta tidak terburu-buru menyebarkan informasi menjadi bagian penting dalam menghadapi propaganda negatif.

“Jangan sampai mahasiswa hanya menjadi konsumen informasi. Jadilah penyaring informasi. Jangan percaya hanya karena sebuah konten viral, jangan membenci hanya karena sebuah narasi ramai dibicarakan, dan jangan menyebarkan sesuatu hanya karena sesuai dengan apa yang ingin kita percayai,” tegas Emar.

Selain membahas cognitive warfare, materi LK 1 juga mengaitkan kepemimpinan mahasiswa dengan manajemen aksi dan komunikasi publik.

Emar menekankan bahwa gerakan mahasiswa harus memiliki tujuan yang jelas, kajian yang kuat, strategi yang terukur, koordinasi yang baik, serta komunikasi yang bertanggung jawab.

Kritik terhadap kebijakan maupun kondisi sosial tetap penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, kritik harus dibangun berdasarkan fakta dan argumentasi, bukan melalui fitnah, hoaks, kebencian, maupun provokasi.

“Mahasiswa boleh kritis, mahasiswa boleh melakukan perlawanan terhadap kebijakan yang dianggap tidak tepat, tetapi perjuangan harus tetap menggunakan akal sehat. Kritik harus berbasis fakta, bukan fitnah. Perbedaan pendapat harus menjadi ruang dialog, bukan alasan untuk saling membenci,” ujar Emar.

Melalui kegiatan yang diikuti 126 mahasiswa Pendidikan Kimia Untirta tersebut, Emar berharap mahasiswa mampu menjadi generasi yang tidak hanya berani memimpin, tetapi juga memiliki kemampuan menghadapi derasnya arus informasi dan berbagai bentuk manipulasi narasi.

“Lawan propaganda negatif bukan dengan propaganda negatif yang baru. Lawan dengan fakta, data, nalar, dan kedewasaan berpikir. Jangan biarkan emosi kita menjadi alat yang digunakan orang lain untuk mencapai kepentingannya,” pungkasnya.

Kegiatan LK 1 tersebut menjadi momentum bagi mahasiswa untuk memahami bahwa medan kepemimpinan dan perjuangan di era digital telah berubah. Pertarungan tidak hanya terjadi di ruang fisik, tetapi juga di ruang informasi dan persepsi.

Karena itu, membangun ketahanan kognitif, literasi informasi, berpikir kritis, dan etika komunikasi menjadi bagian penting dari kepemimpinan mahasiswa.

Sebab dalam era cognitive warfare, menjaga pikiran tetap kritis bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga bentuk tanggung jawab untuk menjaga diri, organisasi, dan persatuan masyarakat. ***