YOUTHINDONESIAN—Realisasi belanja negara hingga September 2026 tercatat Rp2.660,5 triliun atau 69,2 persen dari pagu APBN Rp3.842,7 triliun. Angka tersebut tumbuh 19 persen secara tahunan, dengan komponen belanja K/L Rp1.069,4 triliun yang antara lain untuk program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan bansos, serta belanja non K/L Rp991,9 triliun untuk pensiun, subsidi dan kompensasi BBM dan listrik.
Kenaikan belanja tersebut perlu dibaca bersamaan dengan sisi pendapatan. Hingga akhir September, pendapatan negara terkumpul Rp2.341,5 triliun atau 74,2 persen dari target Rp3.153,6 triliun dan tumbuh 25,5 persen yoy, lebih tinggi dari pertumbuhan belanjanya. Menteri Keuangan Suahasil Nazara menilai kedua sisi masih on track karena akhir September merupakan tiga perempat tahun anggaran, dan percepatan belanja sengaja didorong agar tidak menumpuk di Desember.
Dengan pendapatan yang tumbuh 25,5 persen dan belanja 19 persen, defisit APBN tercatat Rp319 triliun atau 1,24 persen dari PDB, masih di bawah target defisit tahunan Rp689,1 triliun atau 2,68 persen PDB. Pemerintah menegaskan APBN sejak awal memang didesain defisit agar belanja bisa lebih tinggi dari pendapatan untuk mendorong ekonomi.

0Komentar