Kritik terhadap Anomali Ideologisasi Kader -->

Kritik terhadap Anomali Ideologisasi Kader

Iman Musa
Selasa, 20 April 2021


Tujuh filosofi gerakan sudah jelas menerangkan bahwa KAMMI merupakan organisasi pergerakan (Harokah Al-Amal) dan pengkaderan (Harakah Al-Tajnid). Dua karakter tersebut melekat erat di dalam organisasi sebab keduanya merupakan entitas yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Menjadi suatu prasyarat bagi sebuah pergerakan untuk memulainya dengan sumber daya manusia yang tersedia agar tujuan yang menjadi sasaran untuk di wujudkan bisa terealisasi dan terjaga di kemudian hari. KAMMI –maupun organisasi lainnya- dalam upaya mewujudkan tujuan tidak lepas dari agenda-agenda pengkaderan sebagai usaha regenerasi kepemimpinan. oleh karena itu, kader merupakan subjek vital organisasi untuk di perhatikan dan di bimbing.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kader adalah orang yang diharapkan akan memegang peran yang penting dalam pemerintahan, partai dan sebagainya atau kumpulan orang yang dibina oleh suatu lembaga kepengurusan dalam sebuah organisasi, baik militer maupun sipil, yang berfungsi sebagai pemihak dan atau membantu tugas dan fungsi pokok organisasi tersebut.

Sebagai sebuah organisasi berskala nasional, dan sudah berumur dua dekade lebih menjadi suatu keniscayaan bahwa KAMMI telah melewati berbagai konflik internal maupun eksternal, permasalahan serta pengalaman situasi ketika melemahnya semangat perjuangan, terutama yang menjadi fokus pengamatan; KAMMI Komisariat Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Sejak di deklarasikan oleh Hasan Basri pada tahun 1998 setelah beberapa bulan KAMMI Pusat di deklarasikan. Di kampus yang terkenal dengan aksi demonstrasinya dan perilaku demonstran yang kerap menarik perhatian publik, KAMMI UIN Banten akhirnya memiliki keistimewaan tersendiri.

Kembali kepada pembahasan terkait kaderisasi, KAMMI UIN Banten rutin melakukannya setiap setahun sekali atau lebih sesuai dengan kebijakan pengurus. Dewasa ini gerakan KAMMI mulai mengalami carpal tunnel syndrome (sindrom mati rasa atau nyeri pada anggota tubuh). Kiranya tepat untuk menganalogikan keadaan –melemahnya pergerakan- KAMMI UIN Banten saat ini dengan jenis sindrom tersebut karena beberapa hal yang mensyaratkan hal itu terjadi. Pertama, budaya literasi dan diskusi yang mulai terkikis. Kedua, tiga tahun kebelakang antusiasme kader dalam menyelesaikan jenjang pengkaderan mengalami penurunan. Ketiga, ukhuwah yang hanya menjadi formalitas. Keempat, kurangnya pemahaman terhadap pola gerakan. Pada akhirnya mengantarkan KAMMI UIN Banten kepada jurang di antara dua tebing; apakah berupaya menghindar dan mundur dengan memalukan atau membangun jembatan heroik untuk sampai pada tebing berikutnya?

Pergerakan yang melemah tersebut sebab utamanya ialah karena inkonsistensi jati diri kader dan pembinaan yang kurang maksimal. Anomali yang terjadi pada diri setiap kader bisa berimplikasi terhadap semangat juang pergerakan. Hal itu bisa di amati melalui beberapa poin. Pertama, motivasi awal memasuki KAMMI menjadi salah satu penentu akan bagaimana seorang kader berproses selanjutnya. Dari beberapa ingatan yang coba saya ambil kembali, tidak banyak motivasi serius yang di dapat melainkan hanya sekadar ikut-ikutan, di intruksikan oleh alumni atau hanya memuaskan rasa penasaran saja. Tetapi bukan berarti tidak ada motivasi yang benar-benar pertimbangan pribadi. Apabila di persentasi yang memiliki pertimbangan pribadi mungkin hanya ada 3 dari 10 orang yang mengikuti Daurah Marhalah Ula. Secara objektif, hal itu bisa menjadi hipotesa sementara untuk menentukan langkah apa yang harus dilakukan untuk mengikat kader yang masih kurang rasa emosionalnya terhadap organisasi. Kedua, karakter individu yang dimiliki oleh setiap kader, hal itu sudah tentu bervariasi. Karakter individu bisa juga menentukan terhadap peroses ideologisasi kader, beruntung apabila karakter individu dengan kultur budaya KAMMI tidak memiliki gap atau jarak yang jauh sehingga proses ideologisasi bisa berjalan beriringan dengan karakternya. Menjadi masalah apabila karakter individu kader bersifat kontradiktif dengan kultur budaya KAMMI. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia memang dikenal dengan budayanya yang konservatif dan implementatif dalam pengamalannya terkait ajaran islam seperti pembatasan interaksi ikhwan dan akhwat, sebagian besar ikhwan tidak merokok serta dzikir pagi dan petang atau Al-Ma’tsurat bersama. Selain itu ada pula kebiasaan hidup komunal dan kegiatan makan bersama untuk menumbuhkan sifat kekeluargaan dan melatih jiwa amal jama’i setiap kader. Apabila budaya tersebut tidak bisa diterima oleh karakter individu maka akan sulit ideologisasi terhadap kader karena disebabkan gap diantara keduanya sehingga akan timbul rasa tidak nyaman, kemudian dampak terburuk yang akan terjadi dari ketidak nyamanan itu ialah memilih vakum atau keluar dari organisasi. Persoalan ini bukanlah masalah yang bisa diselesaikan dengan cepat tepat dan mudah, ini merupakan suatu seleksi alamiah dari suatu regenerasi, menurut saya kita tidak bisa menghentikannya secara total tetapi kita bisa menghambat dan meminimalisir sekecil mungkin dampak buruk yang akan terjadi. Ketiga, faktor eksternal, hal itu bisa mempengaruhi pola pikir seorang kader dalam prosesnya memahami ideologi dan pola gerakan. Ketika keadaan lingkungan luar yang berupaya mendoktrin atau secara tidak langsung mendoktrin maka kader akan terkena pengaruh doktrinasi tersebut apalagi dengan di tambah rasa kecewa dan tidak nyaman terhadap organisasi, doktrinasi luar akan secara cepat menjalar dalam otak dan pikirannya. Namun hal ini bukan berarti harus mengungkung atau membuat sekat dengan berbagai ideologi dan budaya organisasi lain, kita tetap bisa berinteraksi bersama mereka yang tidak se-fikrah dengan catatan silahkan membaur tetapi tidak melebur. Membaur dan melebur secara sekilas terlihat sama, namun sebenarnya memiliki arti yang berbeda, membaur berarti masuk ke dalam (pergaulan atau golongan) sehingga serupa dengan yang dimasuki, dari penjelasan arti tersebut tegas tersirat bahwa tetap ada perbedaan. Lain hal dengan melebur yang memiliki arti membubarkan diri kemudian bergabung dengan yang lain, secara jelas melebur tegas menerangkan penyatuan dan pelepasan jati diri sebelumnya kepada pola pikir pemahaman yang baru. Jadi, interaksi dengan lingkungan dan paham yang berbeda di bolehkan dengan tetap mengingat untuk tidak melebur dan hal ini hanya bisa dilakukan oleh kader yang sudah kuat tertanam jati diri dan ideologi ke-KAMMI-annya bukan kader yang tidak stabil pemikirannya.

Keempat, pemahaman kader terhadap ideologi dan pola gerakan. Ketika kader sering absen dalam agenda-agenda kaderisasi maka akan bisa menimbulkan ketidak pahaman kader terhadap ideologi dan pola gerakan. Persoalan ini merupakan hal urgen yang mesti di perhatikan secara ekstra karena pemahaman yang kurang, bisa mengakibatkan kerancuan berfikir kader terhadap organisasi dan bisa berimplikasi terhadap jati diri ke-KAMMI-annya. Agenda Madrasah KAMMI Klasikal, Daurah Qur’an, Mabit, Training Organisasi, Madrasah KAMMI khos dan KAMMI Camp dan lain-alin, merupakan agenda yang jangan sampai kader meninggalkannya karena pada agenda tersebut mereka bisa memahami KAMMI tanpa ada mata rantai yan terputus dan secara menyeluruh. Pemahaman kader terhadap ideologi dan pola gerakan menjadi suatu hal yang penting karena pemahaman yang komprehensif akan menjadi benteng utama dalam menangkal doktrin-doktrin dari pihak luar. Kelima, intensitas pertemuan MK Khos. Agenda Madrasah KAMMI Khos bagi saya adalah metode pengikat kader diluar agenda-agenda ke-KAMMI-an yang bersifat formal. Di dalam lingkaran ini kader akan mendapat bimbingan dan pengetahuan terutamanya dari seorang  (murabbi) yang memberikan arahan kepada mereka (muttarabbi), selain itu kader juga bisa saling tukar pengetahuan dengan kader lainnya di dalam lingkaran tersebut dan berbagai hal lain yang bersifat informal. Pada setiap pertemuan MK Khos inilah kader bisa di perhatikan dan di bimbing secara berkala setiap satu minggu sekali atau minimal dua minggu sekali. Intensitas yang banyak dalam pertemuan MK Khos akan menjadi sangat berpengaruh terhadap pengembangan dan pemahaman kader menuju indeks yang positif. Berbeda apabila kader jarang atau bahkan tidak pernah mengikuti MK Khos, mereka akan cenderung minim rasa ukhuwah dan persahabatannya serta lemah ikatan emosional terhadap organisasi. Kemudian yang terakhir, keenam, ketaatan kepada kiyadah (pemimpin). Dari pembahasan poin-poin di atas, kesemuanya akan berimplikasi terhadap ketaatan kader kepada kiyadah. Ketika motivasi hilang, karakter individu kontradiktif dengan KAMMI, pengaruh lingkungan luar yang indoktrinatif di tambah kurangnya pemahaman kader terhadap ideologi dan pola gerakan serta kurangnya intensitas pertemuan MK Khos maka sudah bisa dipastikan akan memberi indikasi ancaman kader membelot dan tidak taat kepada kiyadah disebabkan ketidak pahamannya terhadap pola gerakan. Hal itu menjadi suatu bom waktu yang berbahaya. Tapi bukan berarti tidak bisa di cegah dan di hentikan. Di pahami dengan cerdas bahwa bom waktu, sesuai dengan namanya memiliki durasi yang menjadi syarat untuk bom itu meledak. Oleh karena itu, kita memiliki peluang untuk bisa menghentikannya ketika waktu menuju peledakan sedang berlangsung. Taat kepada kiyadah adalah hal penting untuk memelihara soliditas jamaah agar tidak tercerai berai dengan menerapkan konsep qiyadah wal jundiyah karangan Syeikh Mustafa Masyhur.

Beberapa pembahasan dibicarakan dalam konsep tersebut yaitu di antaranya Beberapa perilaku anggota yang harus di amalkan: ketaatan kepada arahan, taat dengan cara gerakan dan seluruh langkahnya sebagai mana yang telah ditentukan jamaah untuk mewujudkan tujuannya yang agung, menjadi pelindung terpercaya terhadap tujuan jamaah, ujian adalah sunattullah dalam dakwah, berkewajiban menanam dan mempersubur benih cinta-mencintai persaudaraan sesama anggota, membiasakan diri melaksanakan perintah pimpinan jamaah, harus bersungguh-sungguh memperbaiki hubungan dan komunikasi sesama aktifis.

Beberapa petunjuk pergaulan antara pemimpin dan anggota: pemimpin harus pandai memilih orang yang layak memegang jabatan, tidak boleh bersikap pesimis dan buruk sangka, pemimpin senantiasa bergaul rapat dengan anggotanya, selalu membangkitkan semangat kerja sama yang penuh kejujuran dengan anggota, harus membiasakan diri bermusyawarah dengan anggotanya, mengadakan pertemuan rutin untuk menyelaraskan gerakan, semua anggota bekerja semata-mata karena Allah, anggota tidak boleh diberi amanah kecuali ia telah menguasai bidang tersebut, meningkatkan moral anggotanya jika mengalami peristiwa ketidak beruntungan (Q.S Ali-Imran : 139-141).

Dari pengamtan dan analisis di atas itulah beberapa penyebab terjadinya anomali atau penyimpangan dalam proses penanaman ideologi kepada kader. Mereka cenderung menyimpang dari arah gerakan dan tidak taat kepada seruan pimpinan. Menjadi pekerjaan utama bagi bidang kaderisasi dan umumnya untuk kita semua sebagai aktifis dakwah. Intensitas bimbingan dan pembinaan murabbi harus sangat diperhatikan karena MK Khos merupakan mata rantai penting untuk penguatan uapaya regenerasi mencetak kader berikutnya. Oleh karena itu terutama Madrasah KAMMI Khos jangan sampai terbengkalai dari pengawasan dan pembinaan, saya sangat menitik beratkan kesuksesan regenerasi itu terhadap keberlangsungan agenda Madrasah KAMMI Khos. Semoga gerakan bisa bangkit kembali, menunjukan karakter dan ke istimewaannya dalam berjuang. Hidup Mahasiswa!!! Salam Muslim Negarawan!!!

“Da’i itu bukan orang biasa yang sekadar orasi dan berbicara ini itu, akan tetapi justru sibuk memikirkan perubahan untuk ummat. Karena dakwah adalah perubahan, perpindahan, pemberdayaan sehingga orang tersebut semakin mendekat dan mencintai Allah dan Islam”

~ Sayyid Quthb ~

Penulis : Iman Karto