YOUTHINDONESIAN.COM | Jakarta, 19 Februari 2026 – Pemerintah Indonesia telah menyiapkan stimulus ekonomi signifikan menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026. Dana sebesar Rp 911,16 miliar dialokasikan untuk program diskon transportasi, sementara Rp 11,92 triliun ditujukan untuk bantuan pangan. Inisiatif ini bertujuan untuk menjaga daya beli masyarakat, mendorong konsumsi, dan memfasilitasi pergerakan mudik yang aman dan terjangkau.
Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, anggaran untuk diskon transportasi bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta sumber non-APBN. "Sebagai respons terhadap libur nasional besar, pemerintah menyediakan stimulus berupa diskon. Total dana yang disiapkan mencapai Rp 911,16 miliar dari APBN dan non-APBN," ujarnya dalam konferensi pers pada Selasa (10/2/2026).
Program diskon transportasi mencakup berbagai moda angkutan untuk memudahkan masyarakat selama periode mudik. Berikut rinciannya:

  • Kereta Api: Potongan harga 30 persen untuk tiket pada periode 14-29 Maret 2026, dengan target 1,2 juta penumpang.
  • Kapal Laut (PT Pelni): Diskon 30 persen untuk tiket dari 11 Maret hingga 5 April 2026, menyasar 445.000 penumpang.
  • Pelabuhan (PT ASDP): Potongan hingga 100 persen untuk biaya pelabuhan pada 12-31 Maret 2026, dengan sasaran 2,4 juta penumpang dan sekitar 945.000 kendaraan.
  • Pesawat Domestik: Diskon 17-18 persen untuk tiket kelas ekonomi pada 14-29 Maret 2026, ditargetkan untuk 3,3 juta penumpang.
Selain itu, pemerintah menerapkan kebijakan bekerja dari mana saja (work from anywhere) bagi aparatur sipil negara (ASN) pada 24-27 Maret 2026. Kebijakan ini juga didorong untuk diterapkan di sektor swasta guna mengurangi kepadatan lalu lintas selama musim mudik.
Untuk memperkuat daya beli masyarakat, bantuan pangan senilai Rp 11,92 triliun akan disalurkan kepada 5,04 juta keluarga dari kelompok desil 1 hingga 4. Setiap keluarga akan menerima 10 kilogram beras dan 2 liter minyak goreng per bulan selama dua bulan, dengan penyaluran dimulai pada bulan Ramadan.
Kebijakan ini terinspirasi dari pengalaman Lebaran 2025, di mana mobilitas masyarakat mencapai 154,62 juta orang. Saat itu, pertumbuhan ekonomi kuartal IV mencapai 5,39 persen, dengan keseluruhan tahun 2025 di level 5,11 persen. Dengan menggabungkan diskon transportasi, fleksibilitas kerja, dan bantuan pangan, pemerintah optimistis konsumsi rumah tangga akan tetap stabil di awal 2026.
Langkah ini diharapkan tidak hanya meringankan beban ekonomi masyarakat, tetapi juga mendukung pemulihan ekonomi nasional pasca-pandemi. Pemerintah terus memantau implementasi program ini untuk memastikan manfaatnya dirasakan secara merata di seluruh wilayah Indonesia.