YOUTHINDONESIAN – Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mulai memberikan dampak yang dirasakan secara langsung oleh masyarakat di sejumlah wilayah Banten dan Lampung. Selain suara gemuruh dan dentuman yang terdengar dari kawasan sekitar gunung, sejumlah warga mengaku merasakan getaran. Abu vulkanik yang terbawa angin juga mulai jatuh dan menempel di lingkungan permukiman, bahkan terlihat menumpuk di teras dan halaman rumah warga.
Kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat di beberapa daerah ikut terganggu. Abu vulkanik tidak hanya terlihat di ruang terbuka, tetapi juga menempel pada kendaraan, halaman rumah, dan fasilitas di sekitar permukiman. Sejumlah warga juga merasakan dampak terhadap kesehatan, seperti mata perih dan ketidaknyamanan saat menghirup udara yang bercampur abu. Situasi ini menunjukkan bahwa dampak erupsi mulai dirasakan hingga ke lingkungan tempat tinggal masyarakat.
Berdasarkan pemantauan pada 6 September 2026, sebaran abu vulkanik Anak Gunung Krakatau terpantau mencapai sejumlah wilayah, dengan ketinggian kolom abu yang dapat mencapai sekitar 20.000 hingga 50.000 kaki. Arah penyebaran sangat dipengaruhi kondisi angin sehingga wilayah yang terdampak dapat berubah. Masyarakat diimbau tetap tenang, menggunakan masker ketika berada di luar rumah, serta mengutamakan informasi resmi dari PVMBG, BMKG, BNPB, dan pemerintah daerah untuk menentukan langkah kewaspadaan dan evakuasi.

0Komentar