Mengenal Pluralisme Sosial bagi Milenial

PLURALISME SOSIAL, Inilah yang kemudian digaungkan oleh Nurkholis Majid agar kehidupan yang serba beragam ini bisa berdampingan dan harmonis. Bahwa kita semua tidak bisa mengelak bila keragaman dan kemajemukan adalah sebuah keniscayaan, bahkan dalam satu keluarga belum tentu memiliki pemikiran yang sama. Seperti Ibrahim pada Ayahnya, Kana'an pada Nuh atau Muhammad pada Pamannya.

Bahkan si kembar identik pun belum tentu memiliki pandangan dan pemikiran yang sama. Akan tetapi budaya main hakim sendiri dan justifikasi seolah telah menjadi akar budaya di negara +62 ini (Indonesia). Tidak ikut budaya arus utama maka akan dihabisi, berbeda pandangan akan digilas, apalagi yang berhubungan dengan hal yang sifatnya Teologis, bukan hanya digilas, tapi dicincang habis-habisan sampai tak bersisa. Seperti kasus Ahmadiyah beberapa tahun lalu di Cikeusik.

Alih-alih berjuang atas nama Tuhan, nama Tuhan dibawa-bawa dan diikutsertakan. Padahal nyatanya adalah pemenuhan nafsu atas dasar ego untuk mengklaim kebenaran hanyalah miliknya pribadi, kebenaran hanya milik golongannya, kerdil. Biasanya Orang-orang yang seperti ini badaniyahnya dipenuhi dengan simbol-simbol dan segala atribut untuk menunjukan betapa religiusnya golongan kami. Begitu bangga dengan atribut dan simbol.

Padahal Tuhan tidak membutuhkan itu semua, bila pun engkau beriman pada-Nya, Dia sudah tahu tanpa kamu menunjukan simbol dan atribut itu.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama