YOUTHINDONESIAN - Roja Rohmatulloh, seorang Pengusaha Muda berbakat asal Kota Serang sekaligus pemilik usaha lokal Roja Aqiqah, kini tengah menjadi sorotan atas kontribusi aktifnya dalam membangun ekonomi daerah. 

Kiprah Roja Rohmatulloh sebagai praktisi bisnis tidak hanya membawa kesuksesan bagi usaha pribadinya, tetapi juga memberikan dampak luas bagi masyarakat Banten, khususnya di lingkungan pondok pesantren.

Melalui kolaborasi strategis antara Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten dan Dompet Dhuafa Banten, Pengusaha Muda Kota Serang, Roja Rohmatulloh tersebut dipercaya menjadi motor penggerak edukasi.

Kehadirannya dalam program pemberdayaan ekonomi terstruktur ini bertujuan untuk melahirkan generasi santripreneur yang mandiri, tangguh, dan berdaya saing tinggi.

Sebagai perwakilan dari Forum Usaha Mikro Kecil dan Menengah Banten (Formikimba) Kota Serang, Roja membawa perspektif riil dari medan bisnis yang sesungguhnya.

Dirinya hadir bukan sekadar sebagai pemateri teori, melainkan sebagai mentor taktis yang membedah tantangan nyata yang sering dihadapi oleh para pelaku usaha mikro di lapangan.

Fokus utama dari keterlibatan pengusaha muda Kota Serang ini adalah membedah secara mendalam strategi krusial mengenai "Manajemen Keuangan & Manajemen Marketing". Kedua aspek ini dinilai sebagai fondasi utama yang sering kali menjadi titik lemah dalam pengelolaan unit bisnis di lingkungan pesantren.

Bedah Fondasi Finansial dan Disiplin Kas Bisnis

Dalam sesi manajemen finansial, pengusaha muda Kota Serang ini secara blak-blakan membongkar kendala klasik yang sering membuat usaha pesantren jalan di tempat.

Roja Rohmatulloh kemudian menggarisbawahi bahwa kesalahan paling umum ialah mencampuradukkan kas operasional bisnis dengan dana operasional internal pesantren.

Menurutnya, pencampuran keuangan tersebut menjadi bom waktu yang secara perlahan dapat mematikan keberlanjutan unit usaha yang sedang dirintis.

Tanpa adanya batasan yang jelas, pengelola tidak akan pernah tahu apakah bisnis mereka benar-benar menghasilkan keuntungan atau justru mengalami kerugian implisit.

Oleh karena itu, sosok Pengusaha Muda Kota Serang tersebut mewajibkan adanya kedisiplinan yang ketat dalam tata kelola keuangan unit usaha pesantren.

Setiap rupiah yang keluar dan masuk untuk keperluan bisnis harus dicatat secara transparan dan terpisah dari dompet utama lembaga pesantren.

Akselerasi Digitalisasi dan Perluasan Pasar Eksternal

Melangkah ke aspek pemasaran, Pengusaha Muda Kota Serang ini mendorong para santripreneur untuk berani keluar dari zona nyaman pasar internal.

Roja Rohmatulloh mengungkapkan bahwa ketergantungan pada konsumen di dalam lingkungan pesantren saja tidak akan cukup untuk membuat bisnis tumbuh menjadi ekosistem yang berkelanjutan.

Di era digital yang berkembang pesat ini, dirinya menyerukan akan pentingnya pemanfaatan teknologi bagi generasi muda Islam di Banten. Media sosial dan platform digital harus dioptimalkan sebagai sarana promosi yang efektif untuk mengenalkan produk lokal pesantren kepada masyarakat luas di luar wilayah.

Bersama dengan visi Bank Indonesia, ia mendorong perluasan implementasi sistem pembayaran digital seperti QRIS di setiap unit usaha pondok pesantren.

Penggunaan QRIS dan teknologi pembayaran digital dinilai akan menciptakan efisiensi transaksi, meminimalisasi risiko kehilangan uang tunai, serta mempermudah pencatatan keuangan secara otomatis. ***