Mengasah Nalar Agar Tetap Waras, Pemuda Ummfik LDK UIN, Gelar Diskusi tentang Islam dan Demokrasi -->

Mengasah Nalar Agar Tetap Waras, Pemuda Ummfik LDK UIN, Gelar Diskusi tentang Islam dan Demokrasi

Admin
Sabtu, 13 April 2019


 (Dokumentasi Saat Diskusi)

Youthpress.id | (12/11), Jumat. Sore itu terlihat para pemuda duduk melingkar di belakang area terbuka hijau di halaman belakang Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Unversitas UIN SMH Banten. Para pemuda itu adalah para pemuda Umfik, yaitu para mahasiswa yang tergabung di unit kegiatan mahasiswa LDK Ummul Fikroh.

Mereka menggelar diskusi bertema kenegaraan dan politik dengan judul besar "Demokrasi dalam Pandangan Politik Islam". Ajat Sudrajat selaku sekretaris umum LDK Ummul Fikroh menyatakan bahwa sudah selayaknya para pemuda generasi Islam juga melek tentang wawasan kenegaraan, khususnya pengetahuan politik.

Ajat Sudrajat juga mengatakan bahwa diskusi ini digelar untuk menumbuhkan nalar berpikir dan wawasan para pemuda, khususnya para pemuda Umfik, untuk mengetahui apa dan bagaimana Demokrasi dalam pandangan politik Islam, apakah Demokrasi itu haram seperti yang digembor-gemborkan beberapa kelompok dari kalangan Islam lainnya ataukah bagaimana.

Pemantik diskusi adalah Nursanik, S.H seorang akademisi dan alumni jurusan Siyasah Syari'iyyah. Saat awal dimulai, diskusi masih berjalan santai, Namun saat pemantik sengaja memunculkan pro kontra, para peserta mulai riuh menanggapi dengan melontarkan argumennya masing-masing, ada argumen yang berlandaskan dari dalil-dalil Al-Quran, Ilmu Politik dan beberapa metode Qiyas.
Pada awal diskusi, semua peserta diharuskan mengemukakan pemahamannya terkait Demokrasi, Islam dan Khilafah.

Dari awal, pemantik sengaja mengambil posisi anti terhadap Demokrasi,
Salah satu peserta yang paling vokal adalah Labib Marzuq dan Zaka Thayalisi yang begitu vokal mengemukakan pendapat bahwa tidak ada yang salah dengan Demokrasi, karena menurutnya Demokrasi pun memiliki banyak model, dan Demokrasi itu bukan hukum syariat, tapi bentuk pemerintahan. Mau bagaimana pun bentuk pemerintahannya maka tidak masalah, karena yang terpenting adalah bagaimana nilai-nilai  dan substansi Islam bisa diterapkan dalam kehidupan bernegara.

Dengan semakin kuatnya adu argumen, diskusi semakin seru, untuk meredakan suasana, sesekali peserta dan pemantik diskusi menyeruput kopi yang disediakan panitia. Seorang  peserta  bernama Ahlun, mahasiswa  jurusan HKI  yang awalnya  ragu, akhirnya menunjukan  dengan  tegas keberpihakannya terhadap Demokrasi, ia menanggapi dan mengemukakan teori serta beberapa argumen.

Diskusi berlangsung sampai menjelang maghrib. Setelah itu kegiatan diskusi diakhiri dengan sesi foto bersama dan ditutup langsung oleh ketua umum LDK Ummul Fikroh periode 2019, yaitu Imam Eka Fauzi. Sembari memberikan apresiasi yang diwakili oleh sekretaris umum LDK yaitu Ajat Sudrajat, untuk diberikan kepada pemantik diskusi