YOUTHINDONESIAN.COM | Di antara hembusan angin malam yang membawa rahasia langit, terukir sebuah cerita tentang Syeikh Abdul Aziz Ad-Dabagh, seorang sufi agung yang bagaikan bintang terang di langit tasawuf. Ia, yang dikenal sebagai ulama luhur, ahli ibadah yang tak kenal lelah, dan termasuk dalam golongan para kekasih Allah, pernah menjadi saksi sebuah mukjizat takdir yang menggetarkan jiwa. Lauhil Mahfudz, papan suci tempat segala nasib tertulis sejak azali, mencatat namanya sebagai penghuni neraka yang gelap gulita. Malaikat, dengan sayap kasihannya yang gemetar, turun ke bumi dan menyapa sang wali: "Wahai Abdul Aziz, mengapa engkau menumpuk amal saleh bagai gunung yang menjulang, sementara aku melihat catatan takdir mu di lembaran abadi itu menyatakan engkau akan terjerumus ke api neraka? Ibadah sebesar apa pun takkan mengubah akhir yang telah ditetapkan."
Dengan mata yang tenang bagaikan danau pagi, Abdul Aziz menjawab, suaranya mengalir seperti sungai keikhlasan: "Wahai utusan langit, surga dan neraka bukanlah urusanku. Aku diciptakan oleh Sang Pencipta semata untuk menyembah-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam Kitab Suci: 'Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.' Apakah aku akan bersemayam di taman abadi atau di lautan api, itu hak prerogatif-Nya semata." Kagum akan keikhlasan yang murni bagai embun pagi, malaikat kembali ke singgasana takdir. Di sana, ia menyaksikan mukjizat: nama Abdul Aziz telah diubah oleh tangan Ilahi menjadi penghuni surga yang harum semerbak.
Dengan hati berbunga, malaikat kembali dan menyampaikan kabar bahagia: "Wahai Abdul Aziz, lihatlah keajaiban ridha-Nya! Nama mu kini terukir di antara para penghuni surga." Namun, sang wali, dengan senyum yang lembut bagai cahaya rembulan, berkata: "Alhamdulillah, wahai malaikat. Namun sekali lagi, surga dan neraka bukanlah tujuanku. Aku menyembah hanya untuk meraih keridhaan-Nya. Bila Ia ridha aku di neraka, itulah puncak kebahagiaanku." Malaikat, terpesona oleh keikhlasan yang bagai samudra tanpa batas, berkata: "Ikhlas mu inilah yang membuat Allah ridha dan mengubah takdir mu."
Penasaran bagai daun yang bergoyang dalam angin, Abdul Aziz bertanya: "Jika ikhlas ku yang membalikkan murka-Nya menjadi rahmat, maka dosa apa gerangan yang sempat membuat-Nya murka, hingga aku tercatat sebagai anak neraka?" Malaikat menceritakan kisah masa kecilnya, ketika usia baru menginjak lima belas musim semi: "Ingatlah saat engkau berbaring di kamar tidur mu, mendengar langkah kaki ibu mu mendekat untuk menyuruh mu ke pasar. Engkau, yang sebenarnya telah terjaga, pura-pura terlelap agar terhindar dari tugas itu. Ibu mu, dengan hati yang penuh kasih, melihat mu 'tertidur' dan urung menyuruh mu. Kebohongan kecil itu, bagai duri tersembunyi di taman, membuat Allah murka dan menorehkan nama mu di lautan api."
Mendengar itu, Abdul Aziz tersungkur dalam istighfar yang dalam, air matanya mengalir bagai sungai pertobatan. Sejak saat itu, di sisa hayatnya yang bagaikan matahari senja, ia tak pernah lelah berceramah tentang bakti kepada orang tua. Setiap jiwa yang mendekat kepadanya diwasiatkan untuk menyirami taman kasih sayang kepada ayah dan ibu, baik yang masih bernafas di dunia maupun yang telah kembali ke pelukan Ilahi.
Kisah ini, bagaikan permata hikmah yang berkilau, mengajarkan kita untuk tidak meremehkan dosa kecil yang tampak sepele bagai debu jalanan. "Jika pura-pura tidur saja bisa mendatangkan murka-Nya," renungkanlah, "bagaimana dengan mereka yang membentak ibu mereka, atau memasamkan wajah di hadapan ayah mereka?" Marilah kita ringankan lisan untuk mendoakan mereka, dan sucikan hati untuk berbakti, agar takdir kita pun berubah menjadi taman surga yang abadi.