Demi Misi Kemanusiaan, Pemuda Belia ini Rela Jauh dari Keluarga dan Tanah Kelahiran -->

Demi Misi Kemanusiaan, Pemuda Belia ini Rela Jauh dari Keluarga dan Tanah Kelahiran

Admin
Sabtu, 30 Januari 2021

(saat kegiatan psikososial untuk anak-anak penyintas)


Di saat rekan-rekan se-usianya lebih banyak memilih untuk hang out dan bersenang-senang, tenggelam dalam masalah percintaan kaum muda, nongkrong sana-sini. Justru pemuda ini lebih memilih menggunakan waktunya untuk ikut serta dan terjun di dunia sosial kemanusiaan, membantu mereka yang membutuhkan uluran tangan.

Usianya masih belia, baru sekitar 20 tahun, Ifan Apriyana pemuda asal Panimbang, Pandeglang-Banten ini sudah terjun dalam dunia sosial kemanusiaan dan kerelawanan, sudah tak terhitung banyaknya lokasi bencana yang ia datangi, terjun langsung di lokasi untuk membantu para penyintas. Selain itu, Ifan juga memiliki kemampuan fotografi jurnalistik, kemampuannya sebagai seorang fotografer dan videographer sangat membantu para tim relawan untuk mengabarkan kondisi terkini di lokasi bencana.

(menghibur anak-anak penyintas bencana)


“Awalnya Ifan juga gak tahu bakal terjun di dunia relawan kayak gini, ya senang aja rasanya kalau Ifan bisa bantu orang lain. Karena, Ifan juga inget waktu dulu kejadian musibah tsunami selat sunda di Banten, itu Kawasan sekitar tempat tinggal Ifan juga ada yang kena, dari situ Ifan lihat ada relawan-relawan banyak yang bantuin masyarakat, tolongin masyarakat, dari situ tergerak untuk masuk di dunia relawan,”
Ungkap Ifan

Ifan diberangkatkan oleh HRI (Harfa Rescue Indonesia) ke Majene Sulawesi Barat untuk membantu para penyintas dan mengabarkan kondisi terkini dan perkembangan yang terjadi di sana, ia tidak sendiri, ia berangkat bersama anggota HRI Muhamad Iswandi dan ketua Desk Relawan Banten Ii Irfan yang juga merupakan ketua Harfa Rescue Indonsia.

(bermain bersama anak-anak penyintas bencana Majene)

“Sebenarnya udah sering diberangkatkan ke lokasi bencana, cuma ini yang menurut Ifan lumayan jauh, harus nyebrang pulau, harus ninggalin keluarganya jauh banget. Pas mau berangkat sempat kepikiran juga Mamah dan adik di di rumah, semua perasaan campur baur sih di situ. Tapi Ifan yakin dan kuatin hati, bahwa Ifan di sana mau nolongin orang-orang”

Ketika tim YI (Youth Indonesian) menanyakan pengalamannya selama di terjun di lokasi bencana Majene, ia menjelaskan bahwa beberapa kali ada gempa susulan yang membuatnya sempat cemas dan khawatir.

“Iya waktu Ifan lagi bantu-bantu di lokasi, tiba-tiba badan kayak oleng dan gerak ke sana-sini, terus orang-orang pada lari, yaa Allah ada gempa susulan lagi. Disitu banyak berdoa dan istighfar aja, Ifan pasrah dan serahin ama Allah, semuanya pada menyelamatkan diri. Waktu itu Ifan gak mikirin apa-apa, cuma inget keluarga di rumah, inget Mamah dan icha (red-adik perempuannya),”

Sesekali pikirannya terlempar jauh ke tempat kelahirannya di Banten, ke rumah dan keluarganya, ada rasa rindu untuk bertemu dan ingin memeluk keluarga di rumah.

(Bermain bersama anak-anak penyintas)

“Kadang-kadang kepikiran juga keluarga di rumah, kangen suasana Banten, kangen ama temen-temen, Ifan udah seminggu lebih di Majene. Kalau pulang, pengen banget peluk Mamah dan Icha. Tapi Ifan jadi seneng saat lihat anak-anak di sini jadi terhibur, anak-anak kecil disini bisa tersenyum, Ifan merasa bahagia saat bisa bikin mereka tersenyum lagi,”

Ia pun berharap agar bencana yang terjadi di Indonesia bisa lekas pulih, pandemi bisa segera lekas mereda, dan masyarakat bisa beraktifitas lagi seperti sedia kala.

“Ifan berharap semoga bencana yang terjadi bisa segera mereda, bisa segera pulih, apalagi lagi di kondisi pandemi juga. Kita berdoa semoga Allah angkat segala bencana yang terjadi. Dan, semoga para relawan selalu diberikan kesehatan dan kekuatan untuk terus  bergerak membantu mereka yang membutuhkan” Pungkasnya