Full width home advertisement

Opini

Serba Serbi

Post Page Advertisement [Top]


Ulakan adalah salah satu basis penyebaran dan pengembangan Islam mula-mula di Indonesia, khususnya Minangkabau. Secara geografis Ulakan terletak di pantai barat Sumatera yang menghadap langsung ke Samudera Hindia, sejak jatuhnya Malaka dan ditutup oleh Portugis pada 1511, Ulakan menjadi salah satu bandar internasional dalam berlabuhnya kapal-kapal dagang internasional abad-16. 


Adalah Syeikh Burhanuddin Ulakan, ulama besar abad 17 yang bergelar Syeikhul Islam Nusantara pada zamannya, merupakan murid utama dari Syeikh Abdurrauf Singkil yang meneruskan dakwah Islamiyah di Nusantara, pada era dakwahnya terjadi kompromi luar biasa antara kalangan adat yang diwakili kaum aristokrat di satu sisi dan ulama di sisi yang lain. Dimana secara konstitusi Minangkabau syariat Islam di jadikan basis dalam bernegara. 


Keluarlah undang-undang bernegara yang bunyinya, _"Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Syarak mangato adaik mamakai"_ terjemahan bebasnya, Adat (Negara) berlandaskan kepada Syariat Islam, yang berlandaskan kepada kitab Allah, dimana syariat menjadi dalil dalam kehidupan bernegara. Undang-undang ini dikeluarkan di bukit Marapalam pada abad-17, sehingga terkenal dengan perjanjian bukit Marapalam, yang kelak di akhir abad 19 juga terjadi rekonsiliasi yang kedua antara kaum adat dan ulama ditempat yang sama di zaman perang Padri, yang meneguhkan kembali posisi syariat Islam dalam konstitusi bernegara di Minangkabau. 


Jasa besar Syeikh Burhanudin Ulakan dalam meneguhkan konstitusi negara di Minangkabau berdasarkan syariat, telah mengubah cara pandang dan jalan hidup _(worldview)_ masyarakat Minangkabau menjadi Islami. 


*Ziarah di Bulan Safar*

Bulan Safar adalah bulan yang diyakini, dimana Syeikh Burhanuddin Ulakan kembali pulang keharibaan Ilahi, bertepatan dengan 10 safar hari rabu tahun 1111 hijriyah. Dalam tinjauan syariat, berziarah ke makam guru dan orang tua adalah salah satu amalan yang dianjurkan. Penegasan ini sebagaimana Rasulullah bersabda: 


كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا



Artinya: Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian. (HR Muslim).   


Dalam riwayat yang lain, Rasulullah tidak hanya memerintahkan ziarah kubur, tapi nabi juga menjelaskan manfaat-manfaat dalam melaksanakan ziarah kubur. 



   كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ أَلَا فَزُورُوهَا، فَإِنَّهُ يُرِقُّ الْقَلْبَ، وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ، وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ، وَلَا تَقُولُوا هُجْرً



Artinya: Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan hati, menitikkan (air) mata, mengingatkan pada akhirat, dan janganlah kalian berkata buruk (pada saat ziarah). (HR Hakim).   


Ziarah kubur adalah salah satu perbuatan yang mengalami perubahan _(nasikh-mansukh)._ Pada zaman awal-awal Islam, Rasulullah melarang melakukan praktik ini, kemudian larangan tersebut _mansukh_ (diubah) menjadi suatu perbuatan yang diperbolehkan bahkan dianjurkan, setelah akidah Islam tertanam kuat.   


Perilaku ziarah kubur juga dilakukan oleh Rasulullah, setelah malaikat Jibril menemuinya seraya berkata:



إِنَّ رَبَّكَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَأْتِيَ أَهْلَ الْبَقِيْعِ فَتَسْتَغْفِرُ لَهُمْ 



Artinya: Tuhanmu memerintahkanmu agar mendatangi ahli kubur Baqi’ agar engkau memintakan ampunan buat mereka. (HR Muslim)   


Setelah adanya perintah dari Allah untuk menziarahi kuburan ahli Baqi’, Rasulullah membiasakan menziarahi tempat tersebut. Hal ini seperti tercantum dalam hadits yang diriwayatkan Sayyidah ‘Aisyah: 



   كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- - كُلَّمَا كَانَ لَيْلَتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- - يَخْرُجُ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ إِلَى الْبَقِيعِ فَيَقُولُ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَأَتَاكُمْ مَا تُوعَدُونَ غَدًا مُؤَجَّلُونَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لأَهْلِ بَقِيعِ الْغَرْقَدِ



Artinya: Rasulullah setiap kali giliran menginap di rumah ‘Aisyah, beliau keluar rumah pada akhir malam menuju ke makam Baqi’ seraya mengucapkan salam: Salam sejahtera atas kalian wahai penghuni kubur dari kalangan kaum mukmin. Segera datang apa yang dijanjikan pada kalian besok. Sungguh, kami Insya Allah akan menyusul kalian. Ya Allah ampunilah penghuni kubur Baqi’ Gharqad. (HR Muslim).   


Berdasarkan dalil-dalil dalam hadits di atas, tidak dapat disangsikan lagi bahwa ziarah kubur adalah hal yang dianjurkan atau bagian dari sunnah. 


Anjuran ziarah kubur bersifat umum, baik menziarahi kuburan orang-orang shalih ataupun menziarahi kuburan orang Islam secara umum apalagi menziarahi kubur orang tua dan guru. Hal ini seperti ditegaskan oleh Imam al-Ghazali sebagaimana keterangan berikut: 



   زيارة القبور مستحبة على الجملة للتذكر والاعتبار وزيارة قبور الصالحين مستحبة لأجل التبرك مع الاعتبار



Artinya: Ziarah kubur disunahkan secara umum dengan tujuan untuk mengingat (kematian) dan mengambil pelajaran, dan menziarahi kuburan orang-orang shalih disunahkan dengan tujuan untuk tabarruk (mendapatkan barakah) serta pelajaran. (Al-Ghazali, Ihya’ Ulum ad-Dien, juz 4, halaman: 521). 


Uraian diatas jelas menempatkan amalan ziarah kubur sebagai amalan yang berlandaskan akan _nash_ wahyu kenabian, bukan suatu perkara yang baru dibuat-buat atau _bid'ah_. Ziarah ke makam orang-orang shaleh khususnya guru dan orang tua bukanlah berarti menyembah kepada kuburan, sebagaimana orang jahiliyah menyembah berhala. 


Terlebih, jaringan keilmuan Syeikh Burhanuddin Ulakan sampai hari ini masih memiliki transmisi yang tidak putus, dalam sebuah riwayat, sebagaimana doa Syeikh Abdurauf Singkil kepada murid kesayanganya ini, _"Ku doakan engkau (Syeikh Burhanuddin) memiliki murid yang tak terhingga dan tidak putus sampai hari kiamat"_ 


Doa Syeikh Abdurrauf mustajab, transmisi keilmuan atau sanad guru-murid jaringan Syeikh Burhanuddin Ulakan masih terjaga sampai hari ini dan kelak sampai akhir zaman, yang bahkan terlembaga dalam institusi pendidikan surau Minangkabau, dimana secara akademik melahirkan ulama surau bergelar Tuanku, sebagai representasi keilmuan yang bersanad kepada Syeikh Burhanuddin Ulakan. 


Tradisi Basapa atau berziarah dibulan Safar, menziarahi Waliyullah Syeikh Burhanuddin Ulakan bersama-sama adalah salah satu bentuk rasa syukur kepada Allah atas nikmat Islam yang diberikan pada masyarakat Minangkabau, juga mengamalkan sunnah Nabi yang mulia, tentu sebagai orang yang tidak lupa akan sejarah, maka perlu dikenang jasa luar biasa Syeikh Burhanuddin Ulakan yang merubah _worldview_ jahiliyah menjadi _worldview_ Islamiyah. Dan sebagai murid yang bersanad kepada Syeikh Burhanuddin Ulakan, adalah kewajiban baginya untuk mendoakan guru, betapa beruntung mereka yang memiliki guru. 


Dalam kitabnya _Lubabul Hadits,_ Imam Suyuthi menulis,



وقال النبي صلى الله عليه وسلم: {مَنْ زَارَ عَالِمًا فَكَأَنَمَّا زَارَنِي، وَمَنْ صَافَحَ عَالِمًا فَكَأَنَّما صَافَحَنِي، وَمَنْ جَالَسَ عَالِمًا فَكَأَنَّما جَالَسَنِي في الدُّنْيَا، وَمَنْ جَالَسَنِي في الدُّنْيَا أَجْلَسْتُهُ مَعِيْ يَوْمَ القِيَامَةِ}. 


Nabi saw. bersabda, “Siapa yang (berziarah) mengunjungi seorang yang berilmu maka seakan-akan ia mengunjungiku, siapa yang berjabat tangan dengan orang yang berilmu, maka seakan-akan ia berjabat tangan denganku, siapa yang duduk dengan orang yang berilmu, maka seakan-akan ia duduk denganku di dunia, dan siapa yang duduk denganku di dunia, maka aku akan menjadikan ia duduk bersamaku di hari Kiamat.”


Penulis : Jemmy Ibnu Suardi, Tuanku Sidi 

Mudhir Ma'had Aly Surau Miftahul Istiqamah Banten. Magister Pendidikan dan Pemikiran Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini

Bottom Ad [Post Page]