YOUTHINDONESIAN.COM | Presiden Prabowo Subianto mencetuskan gagasan ”gentengisasi” nasional sebagai bagian dari kebijakan hunian yang mempertimbangkan kondisi iklim tropis Indonesia. Ide ini diangkat bukan hanya soal estetika bangunan, tetapi juga terkait kesehatan masyarakat, kenyamanan ruang tinggal, serta keberlanjutan pembangunan di negara beriklim panas dan lembap seperti Indonesia.
Selama ini, banyak rumah di Indonesia menggunakan atap seng, karena murah dan mudah dipasang. Namun berbagai kajian menunjukkan bahwa atap logam seperti seng menyerap dan memantulkan panas secara berlebihan ke ruang di bawahnya. Akibatnya, suhu di dalam rumah meningkat secara signifikan dan bertahan hingga malam hari, yang pada gilirannya dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan penghuni. Grup paling rentan yang sering terpengaruh adalah balita dan lansia, yang memiliki kemampuan menyesuaikan suhu tubuh lebih terbatas.
Para ahli menyebutkan suhu ruang yang terlalu tinggi bisa memicu heat stress, dehidrasi, gangguan tidur, hingga penurunan daya tahan tubuh. Ketika suhu ini terus berlangsung, dampaknya tidak selalu muncul sebagai kasus medis yang tercatat secara resmi, tetapi memengaruhi produktivitas, kualitas tidur, dan pengeluaran rumah tangga karena kebutuhan pendingin udara dan perawatan kesehatan meningkat.
Karena itu, kebijakan gentengisasi diusulkan sebagai intervensi preventif berbasis lingkungan. Genteng yang terbuat dari tanah liat atau material bermassa termal tinggi memiliki kemampuan menyimpan dan melepaskan panas dengan lebih stabil dibandingkan seng. Penggunaan genteng dapat menurunkan suhu ruang, meningkatkan kenyamanan termal, dan mengurangi risiko masalah kesehatan akibat panas dalam rumah.
Dampak dari kebijakan ini juga bersifat multi-dimensi. Selain meningkatkan kenyamanan hunian, gentengisasi dipandang dapat membuka peluang industri lokal di desa-desa, memanfaatkan bahan baku lokal serta limbah industri untuk produksi genteng, serta menciptakan lapangan kerja baru. Hal ini dinilai sejalan dengan upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis wilayah.
Dalam konteks perubahan iklim yang menyebabkan suhu global semakin meningkat, kolom opini itu menyimpulkan bahwa gentengisasi bukan sekadar soal mengganti material atap, tetapi merupakan solusi struktural yang berdampak luas. Dimulai dari atap rumah warga, kebijakan ini diharapkan bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

0Komentar