YOUTHINDONESIAN.COM | Jakarta — Sebuah laporan yang beredar di beberapa platform media sosial dan kanal berita internasional menyebut bahwa intelijen dari Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) berhasil mengungkap rencana serangan udara rahasia Amerika Serikat, yang menurut klaim itu merupakan bagian dari strategi militer pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap Iran. Pernyataan tersebut menjadi perbincangan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Menurut klaim yang beredar, informasi mengenai rencana serangan udara AS itu diduga bocor dan kemudian diungkap oleh IRGC, sehingga merusak unsur kejutan yang semestinya dimiliki operasi militer semacam itu. Namun, detail operasi, termasuk tanggal, target, dan bukti spesifik terkait kebocoran tersebut, belum dikonfirmasi oleh sumber resmi kedua belah pihak. Berbagai video dan unggahan online yang memuat topik ini menyebar cepat di platform berbagi video, meskipun tidak disertai dokumentasi atau verifikasi independen.

Klaim semacam ini muncul di tengah ketegangan yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran, terutama setelah konflik bersenjata dan serangan udara yang terjadi di wilayah tersebut sepanjang tahun lalu. Banyak laporan intelijen juga sebelumnya mengalami bocoran yang memicu kritik dan debat di Washington, termasuk diskusi soal efektivitas serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran. Laporan intelijen awal sempat menunjukkan bahwa serangan tersebut mungkin hanya menghambat program nuklir Iran beberapa bulan, dan bukan menghancurkan secara total seperti diklaim oleh pejabat AS.

Sementara itu, Iran secara konsisten menolak tuduhan bahwa program nuklirnya merupakan ancaman dan menyatakan klaim serangan udara AS sebagai bagian dari propaganda musuhnya. Belum ada klarifikasi resmi dari pemerintah AS maupun militer Iran terkait detail laporan yang menyebut kebocoran strategi dan keterlibatan IRGC dalam pengungkapannya.

Para pengamat keamanan internasional memperingatkan bahwa situasi seperti ini mudah memicu eskalasi ketegangan karena menyentuh isu sensitif terkait strategi militer, intelijen, dan kredibilitas operasional kedua negara yang saling curiga. Bahwa sampai saat ini, bukti independen terkait kebocoran strategi militer ini belum tersedia di luar narasi yang beredar di media sosial dan kanal tertentu.