Melihat Islam dari sudut pandang Orientalis dan rekayasa sosial yang berhasil mereka buat



Membedah dan melihat Islam dari sudut yang berbeda, bagaimana para orientalis melihat, menanggapi dan menyikapi apa yang mereka cari dan temukan di dalam Islam. Ini menjadi salah satu tema yang saya sukai. Karena, dengan demikian, seolah kita bisa melihat diri kita sendiri tanpa melibatkan subyektifitas yang terkait dengan label dan identitas yang melekat pada diri kita. 

Hal yang paling menarik bagi saya adalah tentang bagaimana peran para orientalis dan keberhasilan mereka dalam membuat social engineering alias rekayasa sosial.

Misalnya, kita akan membahas tentang betapa kesal dan betenya, kita sebut saja "kaum kolonial" (Tapi kebanyakan kita menyebutnya sebagai penjajah). Ketika mereka berhadapan dengan para pejuang muslim di tanah jajahan. Mereka kesel bukan main, karena ini orang Islam gak ada matinya, gak ada takutnya untuk melakukan perlawanan.

Mereka sampai geleng-geleng kepala "ini apa isi otaknya, dibunuh gak takut, malah senang dan bahagia", akhirnya mereka banyak menerjunkan para orientalis yang sekaligus juga antropolog untuk mempelajari dan mengetahuinya " Kenapa sih ini orang Islam kok ngelawan terus, dan gak takut mati".

Setelah diteliti, ternyata di Islam ada rukun tentang Jihad, yaitu sebuah doktrin dan ajaran tentang mempertahankan diri, berjuang dan mempertahankan martabat serta kehormatan yang berkaitan dengan Islam dan identitas Islam, dan bagi mereka yang melakukan jihad akan mendapatkan ganjaran yang begitu besar dan mulia dari Tuhan. Itulah yang menyebabkan mereka selalu berani melawan dan tak takut mati, dan menganggap bahwa kematian yang dihadapi seolah taman indah yang memang begitu dinanti.

Kita lihat studi kasus di India, setelah Kolonial Inggris tahu nih apa yang jadi penyebab perlawanan tiada henti umat Islam di India, akhirnya mereka membuat sebuat rekayasa sosial tentang ajaran Islam yang mau legowo menerima penjajahan, salah satunya yaitu dengan mendukung dan mengembangkan ajaran Ahmadiyyah, sependek pengetahuan saya, di Ahmadiyyah itu tidak ada rukun tentang jihad, mereka (ahmadiyyah) tahu tentang jihad, cuma gk terlalu ditonjolkan. 

Akhirnya, corak pemikiran Ahmadiyyah yang mengaku masih dalam naungan Islam, tidak melakukan perlawanan seperti kelompok Islam yang lain, yang ada malah bekerjasama dengan Inggris. Monggo dipelajari lagi tentang doktrin Ahmadiyyah terkait jihad, takutnya saya ada yang salah. Oleh karena itu, Ahmadiyyah itu jarang ofensif, dan kalau dipersekusi dan lain-lain, mereka jarang melakukan perlawanan.

Alih-alih melakukan penindasan dan tindakan kasar kepada umat Islam, para orientalis ini ngasih masukan dan saran kepada pemangku kebijakan di tanah jajahan, ini para orientalis hebat banget, mereka menyitir ayat "ulil amri minkum" kemudian membuat tafsir bahwa ini para pribumi kudu nurut kepada para penjajah sebagai ulil amri, karena kalau melawan nanti dosa, melawan pemimpin itu dosa, cerdas banget kan mereka.

Orientalis ini ngasih tahu sama tuan mereka, kalau mau Islam gak ngelawan, jangan ganggu ibadah mereka, kuasai ekonominya dan matikan politiknya. Nanti juga mereka nurut dan gak akan ngelawan.

Udah gitu, para orientalis juga ngasih saran agar pemerintah kolonial mendukung dan melestarikan aliran-aliran kebathinan agar tetap tumbuh dengan subur, utamanya aliran kebathinan yg sifatnya asketis, dan coraknya tasawuf ekstrim. Buat apa tujuannya, asketis dan tasawuf ekstrim titik tolaknya adalah menghindari dunia, ajaran ini untuk membuat umat Islam agar abai terhadap urusan dunia, biar fokus ibadah aja, dan menerima keadaan sesusah apapun. Walau diperlakukan tidak adil, dgn adanya ajaran kebathinan yang asketis ini, umat Islam akan nrimo dan menganggap ini sebagai takdir Tuhan. Jadinya fatalis.

Rukun Jihad ini bener-bener bikin repot kaum penjajah, mulai dari perang paderi yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol, perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro. Bahkan, Aceh baru bisa ditaklukkan sekitar tahun 1900-an, Belanda bete banget ama orang Aceh, ini salah satu daerah yang paling sulit dikuasi ama Belanda, akhirnya Belanda menerjunkan Snouck Hurgronje untuk mempelajari kultur dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat Islam yang ada di Aceh.

Jihad memang menjadi suatu yang begitu ditakuti oleh para penjajah, ketika Kyai Hasyim Asy'ari mengeluarkan fatwa Jihad di Surabaya untuk melawan NICA, tepatnya pada 10 November. 

Dalam fatwa tersebut dikatakan bahwasannya Jihad berperang dan menolak penjajah hukumnya adalah fardu ain, yang diserukan ini bersifat fardu a'in bagi mereka yang berada dalam jangkauan lingkaran 94 KM dari tempat masuk dan kedudukan musuh.

Itu langsung aja arek-arek Surabaya turun dan siap berperang, NICA pun tunggang langgang. Perjuangan dan perlawanan yang dilancarkan dengan nilai-nilai jihad memang memiliki kekuatan psikologis yang dahsyat.

Nah itu juga tuh yang bisa bikin Taliban bisa bertahan selama dua dekade dalam melakukan perlawanan terhadap Amerika dan sekutunya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama