Emak Pembaharu -->

Emak Pembaharu

Iman Musa
Kamis, 06 Januari 2022


Sekira dua puluh tiga tahun yang lalu aku dilahirkan di sebuah desa di ujung paling timur Kabupaten Serang, tepatnya Cikande. Ketika badai krisis moneter menerjang bangsa Indonesia dan carut marut tatanan sosial politik masyarakat sedang dalam masa transisi menuju reformasi yang diharap dapat mengantarkan bangsa ini menuju negara yang unggul. Aku lahir ke dunia pada 4 April 1999 dari seorang emak yang sederhana dengan sambutan situasi bangsa yang tengah mengalami pertikaian, potensi perpecahan dan instabilitas. Oleh karenanya aku tak mudah pulang meski aral melintang, tak mudah goyah meski badai menerjang.


Emak ku adalah seorang wanita penuh dedikasi dan perjuangan yang kelak menjadi sosok pembaharu dalam keluarga dan masyarakat. Setelah berjalan waktu dan pengembaraan kehidupan ini membawa ku ke berbagai ruang berpikir. Aku baru mendapatkan jawaban tentang berbagai tindakan dan keputusan yang emak lakukan selama ini adalah sebuah gerakan pembaharuan untuk melawan budaya dan stigma keliru dalam interaksi sosial keluarga dan masyarakat.


Karena emak memiliki analisa berpikir yang tajam, rasional dan visioner itu akhirnya ia secara kritis melakukan koreksi terhadap berbagai macam bentuk budaya dan stigma keliru dalam masyarakat yang sebenarnya sudah tertanam sedemikian kuat. Namun ia secara perlahan dan bertahap mampu memberikan pengaruh untuk menghapusnya. Budaya dan stigma itu berkisar pada problem patriarki, subordinasi perempuan, relasi suami-istri, pola kerjasama dalam keluarga dan pandangan masyarakat tentang peran lelaki dan perempuan.


Memang secara konsepsional dan teoritikal, emak tak pernah menyadari apa yang ia lakukan adalah gerakan reformis. Emak hanya tergerak atas dasar keresahan yang ia analisa melalui penalaran rasional. Lalu menerapkan gagasannya dengan memperhatikan syariat agama.


Sebagaimana banyak diketahui tentang budaya patriarki yang banyak tertanam dalam benak masyarakat, bukan hanya dimiliki (secara tidak sadar) oleh lelaki namun juga terdoktrin pula di banyak kalangan perempuan hingga mereka (secara tidak sadar) menerima dan pasrah dengan keadaan subordinasi. Sedangkan emak, berawal dari keresahan dan pertanyaan dibenaknya, mendapatkan kesadaran setelah ia secara rasional mengurai problem patriarki di sekitarnya. Tentang kenapa ada beberapa suami kerap mencatut dalil agama untuk sebuah pembenaran sebagai upaya melegitimasi perilakunya padahal keliru? Hal itu tidak lain merupakan kooptasi berlebih kepada isteri. Meski ia memiliki pertanyaan demikian, bukan berarti ada upaya menerobos batasan syariat agama dalam rumah tangga. Titik fokus pembaharuannya terletak pada upaya menghapus ekses (dampak buruk) dari kepemimpinan keluarga yang cenderung mengarah pada diktator rumah tangga.


Bukan saja pada ranah rumah tangga, emak secara tidak langsung juga memberi kontribusi pengaruh terhadap ruang yang seringkali diasumsikan sebagai wilayah netral gender yakni komunitas (termasuk di dalamnya klan, komunitas adat, organisasi masyarakat dan LSM), negara dan pasar. Dalam lingkup kecil, komunitas masyarakat di tataran kampung halaman yang sebelumnya memiliki stigma keliru terhadap peran lelaki dan perempuan kini mulai bergeser menuju ke arah berimbang. Tentu perubahan ini berjalan begitu lama karena gerakan yang emak lakukan adalah sebuah langkah alamiah dari keresahannya. Bukan suatu strategi yang terorganisir secara sistematis. Sehingga durasi pembaharuan yang emak lakukan sampai saat ini tak lain mengikuti umur pernikahannya sendiri dengan bapak hingga akhir hayat kelak. Emak dan bapak menikah sekitar 27 tahun yang lalu sejak Mei 1995, selisih satu tahun dengan usia Kakak ku yang lahir pada 19 Agustus 1996. Dan pembaharuan ini akan terus berlanjut selama realitas yang emak lihat tak sesuai dengan idealitasnya.


Tentu perubahan yang muncul disekitar lingkungan kampung halaman belum dapat dikatakan total maksimal bahwa stigma patriarkal itu hilang. Dalam hal ini aku menekankan pada adanya pengaruh emak yang merambat di pikiran para tetangga. Jika sebelumnya anak lelaki tidak pernah terlihat melakukan pekerjaan domestik rumah tangga, melainkan hanya bermain, ngopi dan membantu bapak melakukan pekerjaan kasar seperti mencangkul di kebun, memperbaiki bangunan rumah yang rusak dan sejenisnya. Kini anak lelaki tak lagi dipandang hanya sebatas melakukan hal itu, masyarakat melihat ada perbedaan yang ternyata rasional terjadi di rumah emak bahwa ketiga anak-anak lelakinya kerap membantu pekerjaan domestik rumah tangga yang oleh opini patriarki diklasifikasikan hanya sebagai peran perempuan, seperti menyapu, mencuci alat makan-minum, mencuci-menggosok baju dan sejenisnya. Padahal pada hakikatnya, peran-peran itu semua adalah hal yang sebaiknya di miliki oleh setiap insan, baik perempuan maupun lelaki.


Terhadap fenomena subordinasi perempuan, emak tak pantang tumbang. Meski syariat agama secara eksplisit hanya mewajibkan nafkah dilakukan seorang suami, ia tak ingin berpangku tangan. Selama dirinya masih bisa dan mampu membantu ekonomi keluarga maka ia dengan senang hati bergerak menjemput rezeki dengan kemampuan apapun yang bisa dilakukan. Emak tak pilah pilih dalam bekerja, selama hal itu halal. Pahit getir dan asam garam pekerjaan sudah menggunung ia rasakan. Menjadi buruh cuci pakaian, pembantu rumah tangga, pengasuh anak, jasa pijat sampai kini menjadi pekerja sosial dalam gerakan PKK Pemerintah Desa yang pada akhirnya banyak mengantarkan emak dengan relasi pemangku kebijakan. Potensi yang dimiliki itu ia optimalkan dengan menyalurkan bantuan pemerintah kepada keluarga penerima manfaat secara tepat sasaran. Emak dan bapak tak gentar dihardik dan dihina orang, semangat juang hidupnya yang kuat untuk kebahagiaan anak-anak selalu menjadi panutan yang mulia. Tidak dapat dipungkiri oleh ku bahwa kecerdasan emak sangat hebat dan kini aku semakin yakin kecerdasan itu banyak disumbang dan diwarisi dari DNA-nya.




Pola kerjasama dalam rumah tangga direkonstruksi sedemikian rupa oleh emak. Seperti pembahasan sebelumnya mengenai pekerjaan domestik rumah tangga, emak secara teratur melakukan manajerial pengurusan rumah agar dilakukan secara gotong royong. Tidak hanya orang tua, anak-anak juga diberikan ruang olehnya untuk ikut serta berperan dalam kerjasama pengurusan rumah. Tentu emak memperhatikan dan mempertimbangkan kondisi, usia serta kesiapan anak, tidak sewenang-wenang.


Melihat realitas gerakan pembaharuan perempuan dalam masyarakat, negara dan dunia, tindakan-tindakan kecil yang telah emak lakukan adalah sebuah potensi berharga bagi masa depan untuk upaya perbaikan. Sementara dewasa ini, gerakan pembaharuan perempuan sudah sampai merambah pada tataran institusi dan kebijakan politik negara. Hal itu menjadi progres yang memberi nafas semangat masa depan perempuan menuju cita-citanya yakni keseimbangan peran, menghapus diskriminasi, subordinasi, marginalisasi dan kriminalisasi terhadap mereka.


Namun gerakan pembaharuan perempuan itu juga tak hanya satu pihak. Banyak kalangan dari berbagai pemikiran tentang metode juang perempuan saling berkompetisi menempatkan ideologinya. Dalam hal ini aku tidak sedang menyatakan keberpihakan kepada pemikiran tertentu, baik kiri atau kanan, feminis atau non-feminis. Aku berlepas diri dari keduanya. Sebab sejauh ini aku hanya bersandar pada penalaran rasional pribadi dengan berbagai dasar sumber yang aku dapat, lalu di formulasi melalui sebuah tulisan-tulisan. Silahkan jika ada yang keberatan, wajar dan biasa dalam kehidupan. Aku pun sudah tak aneh mendapat judgmen bermacam kata dari para pembaca. Karena kehidupan dunia ini senantiasa dilingkupi oleh dua kutub pro-kontra. Sementara mungkin aku duduk di atas strip keduanya.


Bukan tanpa resiko, jika dapat membuat konsensus untuk kiri dan kanan, nasib baik yang datang. Namun jika tak sampai muncul konsensus, yang berdiri di "antara" akan berpotensi mendapat counter menarik dari keduanya. Aku sebut menarik, karena memang asyik. Kenapa? Karena jika tak memuaskan dan terkesan tidak berpihak ke kiri, aku akan mendapat cap fundamentalis-konservatif. Namun jika hal itu dirasakan oleh pihak kanan, aku akan mendapat cap sekuler-liberal. Tidak masalah, aku akan terus saja berpikir, tiada berhenti.


Kini gerakan pembaharuan perempuan saling berkompetisi. Siapa yang paling relevan pemikiran dan metode juangnya dalam masyarakat? Siapa yang mampu menarik simpati massa rakyat? Dan seberapa kuat tesis masing-masing gerakan diuji dalam tataran operasional? Merekalah yang akan menang. Akhirnya, kini kehidupan rumah tangga berjalan seimbang. Budaya dan stigma keliru dalam masyarakat kampung ku perlahan menuju ke arah pembaharuan. Pola kerjasama dalam keluarga berjalan dinamis saling mengisi. Terimakasih emak dan bapak.


(Emak)


Namun aku juga meyakini bahwa ada banyak emak reformis di lain tempat yang juga melakukan gerak langkah pembaharuan dalam masyarakat. Hanya saja mungkin belum terekspose dan terlihat oleh banyak mata. Belum tersampaikan dalam sebuah tulisan-tulisan kecil sederhana seperti ini. Emak, aku narasikan cerita, gagasan dan gerak langkah pembaharuan mu karena aku adalah jiwa yang kau lahirkan. Aku mewarisi kecerdasan dari emak Cucum Kulsum dan kebijaksanaan dari bapak. Dilatih berpikir oleh kakak.