Mengenal Pesimistik Positive


Apa itu pesimistik positive, emang ada ya? Penasaran kan, baca terus sampai selesai okey


Youthindonesian - Tak cukup hanya bersikap optimistik, tak cukup hanya membuat atau pun merencanakan planning indah nan menawan, tak cukup hanya selalu berpikir positive, justru, hal itu adalah racun halus yang tak disadari.


Berpikir optimistis memang baik, namun, segala sesuatu ada takarannya, optimis adalah hal yang baik dalam kadar dan kondisi tertentu. Tapi, dalam kondisi lain, bisa jadi ia malah akan menjadi racun yang tak kau sadari. Kamu akan terjebak pada harapan dan bayangan indah yang semu.


Selain membekali diri dengan sikap optimis, diri juga mesti dibekali dengan sikap pesimis, pesimis tidak selalu buruk, selama dalam takaran yang tepat, pesimis juga bisa membantu arah hidupmu menjadi lebih baik dan realistis. Ketika diri dibekali dengan sikap pesimis, ia tak hanya memandang sesuatu hanya dari sisi "ena-ena", tak hanya berpikir tentang enaknya saja, tapi juga melihat sesuatu dari kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.


Dia sadar bahwa hidup tak selalu berjalan mulus, mimpi tak selalu seindah yang dibayangkan, sehingga, ketika dirinya menyadari hal tersebut, ia pun telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi hal-hal buruk yang mungkin bisa saja terjadi dalam perjalanan hidup.


Diri juga mesti dibekali dengan kemampuan untuk menghadapi kemungkinan hal-hal paling pahit atau pun kejadian paling buruk dari setiap proses dalam hidup.


Kebanyakan orang akan kaget, karena selama ini ia tak pernah menyangka atau pun menduga bahwa akan ada hal-hal buruk dan pahit.


Memandang hidup dari sisi pesimistik, justru akan menjadikan ia sebagai alert atau peringatan dini bagi sang diri, bahwa hidup tak selalu seindah yang dibayangkan.


Misalnya, ada seseorang yang di lingkungannya "ngebet nikah muda", lingkungannya selalu mendorong dirinya untuk nikah muda, ia tahu bahwa menikah dan memiliki pasangan itu enak menurut cerita rekan-rekannya, tapi, ia juga memandang dari sisi pesimistik, bahwa menikah pun tak seindah yang orang ceritakan, akan ada banyak hal yang dihadapi, mulai dari karakter pasangan, kondisi ekonomi, sosial, keluarga, pekerjaan, anak dan lain sebagainya. Sehingga, ketika ia memutuskan untuk menikah pun tidak sembarangan, tidak hanya berpikir soal "ena-ena"-nya saja, tapi juga mempersiapkan diri untuk menghadapi hal tidak "ena" di dalam pernikahan tersebut.


Setelah memiliki kacamata pesimistik yang positive, maka ia pun akan belajar dan terus mempersiapkan diri, agar kelak, jika menghadapi hal pahit atau buruk, setidaknya ia sudah siap untuk menghadapi hal itu.


Atau misalnya, ketika kamu sudah bersusah payah belajar untuk beasiswa S2, ikut kursus, ikut TOEFL dan lain sebagainya, sudah banyak biaya yang dikeluarkan, dan saat pengumuman ternyata tidak lolos. Tapi, karena kamu sudah memiliki kesadaran melihat dari kacamata pesimistik, kamu tak akan kaget dan heran, karena memang bisa saja hal pahit terjadi di dalam proses hidup.


Jadi, kamu akan menyikapi kegagalan atau hal pahit dengan lebih dewasa dan matang, kemudian kamu akan mencoba mencari alternatif lain untuk setiap mimpi dan cita-cita hidupmu. Inilah yang dinamakan pesimistik positive, memandang hidup tak hanya dari sisi enaknya saja, tapi juga dari sisi pahitnya juga.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama