Full width home advertisement

Opini

Serba Serbi

Post Page Advertisement [Top]


YOUTHINDONESIAN - Umat manusia mungkin saja boleh berbangga dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat. Berbagai pekerjaan menjadi lebih mudah dengan adanya bantuan teknologi, bahkan komunikasi pun jadi semakin cepat, seolah tak ada jarak.

Dengan kemajuan teknologi, banyak berbagai masalah yang dialami manusia jadi lebih mudah untuk diatasi. Mulai dari masalah kesehatan, transportasi, pendidikan, ekonomi, hukum dan lain sebagainya. Sekarang, untuk konsultasi kesehatan tidak perlu lagi mengantri panjang di klinik atau rumah sakit, cukup melalui telemedicine atau aplikasi kesehatan.

Begitu pun dengan pendidikan, belajar tak harus lagi berada di satu ruangan, dengan memanfaatkan beragam aplikasi teleconference atau video streaming, belajar jadi lebih mudah, bisa di akses di mana pun dan kapan pun.

Belanja atau bisnis pun sudah merambah pada digitalisasi. Penemuan obat dan vaksin terhadap pandemi, penyakit atau virus tertentu, jadi lebih cepat ditemukan, semuanya serba mudah dan relatif cepat. Manusia hampir bisa dikatakan jika dalam buku Yuval Noah Harari, manusia sedang menuju "Homo Deus alias mendekati tingkat Dewa", dengan keunggulan sains dan ilmu pengetahuan yang terus dikembangkan, umat manusia sudah mulai bisa mengatasi berbagai masalah yang menimpa kaumnya.

Pertanyaannya adalah, untuk siapa kah segala kemudahan dan kemajuan teknologi tersebut, siapa yang dapat menikmatinya?

Jawabannya adalah untuk mereka yang memiliki uang, manusia yang memiliki kekayaan dan sumber materi yang besar. Segala kemajuan teknologi dan kemudahan yang dimilikinya, hanya diperuntukkan bagi si Kaya, tapi tidak bagi si miskin.

Akses teknologi yang mahal hanya mampu dijangkau oleh si Kaya, bukan si miskin. Tak ada istilah keadilan teknologi atau kesetaraan dan hak yang sama bagi umat manusia dalam ranah teknologi.

Jika misalnya di Jerman telah ditemukan alat untuk mengobati penyakit kanker, maka alat canggih itu hanya untuk si Kaya, bukan untuk si Miskin.

Jika telah ditemukan berbagai penemuan canggih untuk mempermudah kehidupan manusia, yakinlah, penemuan itu hanya diperuntukkan bagi si Kaya.

Penemuan obat dan medis pun demikian, jika ditemukan obat terhadap penyakit tertentu, maka yang bisa mendapatkannya terlebih dahulu adalah si Kaya. Si miskin tetap menderita dengan penyakit yang dideritanya, walau pun obat dan alat untuk menyembuhkan penyakit tersebut telah ditemukan, tetap saja, si miskin tak bisa mengaksesnya.

Jadi, kemajuan teknologi disediakan dan diciptakan untuk siapa? untuk umat manusia yang berduit, yang memiliki uang dan sumber materi yang banyak.

Akan kah ada keadilan teknologi bagi seluruh umat manusia, entahlah?***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini

Bottom Ad [Post Page]