Jakarta, 19 Maret 2026 — Polda Metro Jaya merilis gambar para pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, sebagai bagian dari upaya membuka proses penyelidikan kepada publik. Foto-foto tersebut diambil langsung dari rekaman CCTV yang merekam perjalanan pelaku sebelum dan sesudah kejadian. Kepolisian menegaskan bahwa seluruh gambar yang dipublikasikan merupakan hasil asli tanpa rekayasa atau pengolahan digital.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imannudin, menjelaskan bahwa langkah ini dilakukan untuk memastikan masyarakat memperoleh informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Ia menegaskan bahwa bukti visual tersebut bukan hasil artificial intelligence, melainkan rekaman nyata dari kamera pengawas di sepanjang jalur yang dilalui para pelaku.

Gambar yang dipublikasikan memperlihatkan dua orang eksekutor yang mengendarai sepeda motor, mengenakan pakaian bermotif batik dan pakaian berwarna biru. Salah satu pelaku yang dibonceng terlihat menyiramkan cairan kimia ke arah korban saat insiden terjadi. Rekaman tersebut menangkap aktivitas pelaku sebelum tiba di lokasi hingga saat meninggalkan tempat kejadian.


Penyelidikan Internal TNI: Respons terhadap Keprihatinan Publik

Selain pengungkapan oleh kepolisian, TNI juga melakukan penyelidikan internal untuk menjawab isu publik terkait dugaan keterlibatan oknumnya. Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen Aulia Dwi Nasrullah, menyampaikan bahwa langkah investigasi internal dilakukan sejak awal kejadian untuk memastikan proses berjalan profesional dan transparan. Ia meminta masyarakat memberi waktu agar penyelidikan dapat dilakukan secara menyeluruh dan objektif.

Pernyataan ini memperlihatkan bahwa institusi militer turut mengambil peran dalam memastikan akuntabilitas, terlebih karena isu keterlibatan aktor berseragam sering menjadi perhatian publik dalam kasus kekerasan terhadap aktivis.


Langkah Transparan untuk Memperkuat Kepercayaan Publik

Publikasi bukti CCTV tanpa rekayasa serta keterlibatan dua institusi dalam pemeriksaan menunjukkan bahwa negara berupaya membuka proses hukum secara transparan. Hal ini menjadi sinyal positif bahwa setiap dugaan tindak kekerasan—terutama terhadap pegiat hak asasi manusia—direspons secara serius dan tidak dibiarkan tanpa pengusutan.

Komitmen ini penting untuk memastikan:

  • penegakan hukum berjalan berdasarkan bukti yang dapat diverifikasi,
  • penyelidikan dilakukan terbuka untuk pengawasan publik,
  • dan perlindungan terhadap aktivis maupun pembela HAM tetap menjadi prioritas negara.

Kasus penyiraman terhadap Andrie Yunus menegaskan bahwa tindak kekerasan terhadap warga, apa pun motivasinya, harus ditangani secara profesional dan transparan. Langkah-langkah yang diambil kepolisian dan TNI menunjukkan bahwa negara memiliki mekanisme untuk memastikan akuntabilitas dan menjawab keresahan masyarakat.