Writing Competiton 2019 : The Queen

(Sumber Gambar Google Images)


Byurrrr!!!!
Debur ombak terdengar nyaring di telingaku. Menemaniku menuliskan sebuah kisah. Kisah seorang perempuan yang kupanggil dengan sebutan 'emak'
Merak, 1990

" saya ikhlas kalau dia jadi milik kamu. Saya merasa tidak pantas bersanding dengan wanita sholehah sepertinya." ucap seorang pemuda di sudut sebuah rumah warga yang sedang mengadakan tasyakuran kelahiran anaknya.
Temaram lampu patromak menambah ketegangan pembicaraan kedua pemuda disudut itu.
" kamu yakin?" hanya itu yang keluar dari mulut pemuda satunya.
Dia memang sudah menginginkan sang 'bunga' sejak lama, tapi kalau untuk ditawarkan menikahinya seperti ini, tak pernah terlintas dalam benaknya.
" saya yakin. Menurut saya, kamulah orang yang tepat. Saya bahagia walau hanya menjadi kekasih sesaatnya. Dia terlalu baik buat saya yang masih jauh dari kata sempurna. Setidaknya, kalau bersama kamu, saya bisa menjamin kebahagiaannya." ucapnya lagi.
Pemuda jangkung didepannya masih diam. Apa ini mimpi? Halusinasi? Atau khayalannya yang terlalu tinggi?

Gadis itu tidak cantik, tidak juga jelek. Hanya saja, menurutnya ia bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak. Herannya, kenapa pemuda yang menawarinya ini terlihat begitu mudah melepaskannya?
Apa benar gadis itu begitu sempurna? Ah, ia pun masih jauh dari kata itu. Bagaimana kekasih sang gadis begitu yakin memilihnya?

" dan, sekarang pemuda yang ditawari itu ada disini. Yang jadi bapak kalian. Dengan beraninya meminta emak ke kakek kalian setelah insiden tawar-tawaran itu." ucap emak sembari memeluk tangan bapak sayang.
Kami hanya bisa tersenyum menyaksikan adegan itu. Ah, mereka terlihat sangat mesra bukan?
Hidup ditengah perkampungan yang, bisa dibilang 'hutan' dengan jumlah penduduk yang sangat minim, tak membuat emak merasa minder jika bertemu sanak saudara yang lain.
Ya, kampungku sangat terpencil. Jauh dari keramaian. Tapi menurutku, itu asyik. Udara yang masih original. Tak tercemar debu atau polusi lainnya, membuat kami terjamin kesehatannya.
Emak, dengan kesholehahannya setia menemani bapak hingga hampir 30 tahun lamanya. Bagiku, tak ada kata lelah dalam kamus hidupnya. Setiap hari di laluinya dengan senyuman. Ah, betapa sulit membayangkannya jika aku yang berada di posisinya. Dengan semua keterbatasan akses hidup.
Keluarga kami bukan tidak pernah mengalami fase sulit seperti keluarga lainnya. Ketika kemarau tiba misalnya, emak harus menggendong bergalon-galon air dari kampung tetangga demi suami dan anak-anaknya tidak kekurangan air. Ia rela mengangkut berplastik-plastik pakaian kotor suami dan kelima anak-anaknya untuk kemudian dicuci dikampung tetangga.

Bukan hanya itu, ujian kesetiaan keduanya pun pernah aku saksikan. Dimana saat rizki melimpah, bukannya kesetiaan seorang lelaki di uji? Disanalah, aku menyaksikan emak dengan suara serak dan senggukan yang nyata menelfonku yang sedang menempuh ilmu di pesantren.
Tapi emak bukanlah sosok yang lemah dalam pandangan mata telanjangku, juga batinku. Ia senantiasa mengorbankan perasaannya hanya agar keluarganya tidak terjun kejurang kehancuran. Pisah bukanlah satu-satunya jalan bagi keduanya untuk menyelesaikan masalah.
Seringkali aku memergoki emak yang sedang menangis tersedu ditengah keheningan malam. Entah do'a apa yang ia panjatkan. Ia tampak lemah sekali didepan Rabb-nya. Sosok yang tak pernah kami saksikan jia ia sedang bersama kami.

Betapa mulianya kau wahai ibu. Dari susahnya mengandung, sakitnya melahirkan, repotnya menyusui hingga berpusing-pusing ria mengurus semua kebutuhan suami dan anak-anakmu. Itulah mengapa Allah mengangkat derajatmu tiga kali dibanding seorang ayah. Karna Dia tahu, kaulah makhluknya yang sempurna.

Ada pepatah yang bilang, 'tidak pernah disebut wanita sempurna hingga ia melahirkan. Atau menjadi ibu'. Dan itu benar menurutku.
Dan emak adalah inspirasi terbesarku untuk menjadi seorang ibu yang tangguh.
" kamu tahu, emak dulu gak pernah kebayang menikah dengan bapak, bahkan untuk sekedar 'suka' pun." emak tersenyum menerawang masa lalunya. Kembali menceritakan tentang kisahnya bersama bapak kepadaku dilain waktu. Diwaktu hanya ada kami berdua.
" tapi kamu tahu apa yang membuat emak mengiyakan lamaran bapak?" aku menggeleng dan tersenyum.
" keberaniannya. Dimana kekeasih emak pun tak berani meminta emak ke kakekmu. Tapi bapak, dengan keberaniannya datang dan langsung melamar."
" emak tahu, menikah itu tak semudah yang difikirkan gadis umur 16 tahun waktu itu. Tapi dengan kedewasaan bapakmu, ia bisa membimbing emak mengarungi bahtera rumah tangga hingga sekarang."
Aku tersenyum. Ai mata yang hendak turun kubendung sekuatku. Betapa mengharukan kisah ini.
" kalau cari suami itu yang sayang sama orang tuanya. Dijamin dia akan memuliakan kamu." ucap emak mengakhiri kalimatnya.
" iya mak." hanya itu. Cukup mewakili kalimat fahamku.
Kupu-kupu cinta, terbanglah tinggi menuju jalannya. Hinggaplah engkau dibunga yang indah. Terbang bersama hembus angin cinta
Dering lagu 'kupu-kupu cinta' nya sigma terdengar ditelingaku. Tertera tulisan 'my queen' memanggil. Ah, emak.
" iya mak."
Kalimat kekhawatiran segera menyambut kata-kataku. Sekarang, emak pasti sedang sibuk dengan mangkuk-mangkuk berisi kolak lezatnya, es buah segarnya, serta beraneka macam kudapan manis buatannya untuk menu berbuka.
" iya aku pulang sebentar lagi." klik! Telefon ditutup.
Laut, hari ini kau menjadi saksi kisahku yang lain. Dan senja, serta langit berwarna Aqua itu.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama