Menjadi Manusia 4.0 di Era Digital



Di era disrupsi sekarang ini, jika ingin bertarung, (ah sepertinya bahasa bertarung terlalu mengerikan, kita ganti saja bahasanya menjadi berkompetisi, biar gak kena mental.) Jika ingin berkompetisi di jagad evolusi kapitalis era digital, maka setidaknya kita harus memiliki beberapa kemampuan, ingat ya! beberapa, bukan hanya satu.


Kenapa harus memiliki beberapa kemampuan? jawabannya mudah, ya kalau anda tidak memiliki kemampuan lain, anda akan tersingkirkan, sebab, saingannya bukan lagi antar manusia, tapi manusia vs mesin kecerdasan. Coba lihat sekarang, sudah banyak pekerjaan yang digantikan oleh mesin cerdas yang mampu berjalan secara otomatis.


Gerbang tol tak perlu lagi dijaga oleh manusia, pabrik-pabrik sudah mulai menggunakan komputerisasi mesin dan robot, lebih hemat biaya dan bisa kerja lembur bagai kuda (bisa menghasilkan cuan lebih banyak).


Pekerjaan yang masih berpeluang dan memiliki potensi di antaranya ada di bidang-bidang kreatif ataupun yang sifatnya human centered. Sebab, mesin dan komputer yang serba "saklek" tersebut, tak memiliki daya kreasi dan imajinasi, mesin hanya bergerak berdasarkan perintah ataupun analisis data yang kaku.


Inilah peluang yang bisa diambil, dan kalau bisa tentu saja si mesin dan tools-tools itulah yang harusnya dimanfaatkan oleh manusia, bukan manusia yang kemudian dikendalikan dan ketergantungan pada mesin-mesin cerdas tersebut.


Bagaimana pun, manusia diberikan anugerah yang tak dimiliki oleh mesin atau makhluk apapun di muka Bumi, yaitu daya kreasi dan imajinatif (eh tapi itu buat manusia yang mau mikir juga sih). Tapi, setidaknya, manusia memiliki potensi itu, hanya saja, tinggal individu dari tiap manusia tersebut, apakah mau mengembangkan dan mendayagunakan potensi kreatifitasnya tersebut ataukah membiarkannya begitu saja.


Dan, saya menyebut manusia-manusia kreatif tersebut dengan sebutan manusia 4.0, manusia yang bisa memanfaatkan peluang di era digital, tidak ketergantungan terhadap mesin-mesin cerdas tersebut, tapi justru bagaimana caranya agar mesin-mesin cerdas tersebut bisa memberikan dampak manfaat.


Bagaimana caranya menjadi manusia 4.0, ya tentu saja dengan belajar, mesin aja belajar supaya makin cerdas, makanya disebut machine learning, masa manusia gak mau belajar. Kecuali kalau kita mau hidup asketis, hidup sederhana di pedesaan, hidup cukup dari tanam-tanaman dan hasil kebun atau beternak, itu silakan saja. Tapi kalau memilih untuk hidup sebagai masyarakat urban di dunia evolusi kapitalistik, maka kudu siap berkompetisi. Mari terus belajar.


Artikel ini sudah pernah ditayangkan di Mengenal Manusia 4.0 di Era Digital


#digital  #data  #machinelearning #kecerdasan #evolusidigital

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama