![]() |
| Ilustrasi anak sekolah menaiki rakit |
YOUTHINDONESIAN.COM | Jakarta, 19 Januari 2026 – Di tengah janji pemulihan cepat pasca-bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, realitas di lapangan justru memilukan: anak-anak sekolah di Aceh Timur dan Aceh Utara masih terpaksa menyeberang sungai menggunakan rakit setiap hari hanya untuk sampai ke sekolah. Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) sendiri mengakui hal ini dalam rapat koordinasi di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, pada 15 Januari 2026.
"Jadi ada beberapa kabupaten di Aceh, yaitu Aceh Timur dan juga Aceh Utara masih menggunakan rakit, Pak. Dan ada sekolah naik rakit pergi sekolah, pergi apa, pergi semuanya," ungkap Mualem dengan nada yang seolah pasrah.
Fakta ini menyoroti kegagalan sistematis dalam pemulihan infrastruktur. Menurut Mualem, jembatan nasional memang sudah 60% diperbaiki, tetapi jembatan penghubung antar-desa dan kecamatan—yang paling vital bagi masyarakat pedalaman—masih "belum tersentuh" sama sekali. Hasilnya? Anak-anak harus mempertaruhkan keselamatan mereka di atas rakit tradisional yang rapuh, sementara 50.000 hektar sawah terendam lumpur dan sedimentasi mengancam mata pencaharian 25% penduduk Aceh yang bergantung pada nelayan.
Ini bukan kasus baru—sejak 2025, berbagai laporan serupa muncul di Aceh Tengah, Aceh Timur, hingga Aceh Singkil, di mana siswa SD hingga SMA terpaksa turun ke sungai atau menggunakan jembatan gantung yang sudah reyot. Bahkan, ada kasus baut jembatan Bailey dicuri, yang membuat Mualem sendiri naik pitam menyebutnya "kurang ajar" karena menyulitkan rakyat.
Pertanyaan besarnya: Mengapa setelah berbulan-bulan pasca-bencana, prioritas tetap pada jalan nasional sementara akses dasar pendidikan dan ekonomi masyarakat kecil dibiarkan terabaikan? Anggaran triliunan untuk rekonstruksi seolah tak sampai ke desa-desa terpencil.
Apakah ini bukti ketimpangan pembangunan yang kronis, di mana anak-anak miskin di Aceh terus jadi korban birokrasi lambat dan alokasi dana yang salah sasaran?
Mualem meminta bantuan pusat untuk sedimentasi dan infrastruktur, tapi tanpa tindakan tegas dan transparansi anggaran, janji-janji pemulihan hanya akan jadi kata-kata kosong. Sementara itu, generasi muda Aceh terus "naik rakit" demi masa depan—di negeri yang katanya kaya sumber daya.
Sudah saatnya pemerintah pusat dan provinsi bertanggung jawab: Perbaiki jembatan sekarang, sebelum tragedi terjadi! Jangan biarkan anak sekolah Aceh terus bertaruh nyawa hanya untuk belajar.
#JembatanRusakAceh #AnakNaikRakit #PemulihanGagal #AcehPeduli
"Jadi ada beberapa kabupaten di Aceh, yaitu Aceh Timur dan juga Aceh Utara masih menggunakan rakit, Pak. Dan ada sekolah naik rakit pergi sekolah, pergi apa, pergi semuanya," ungkap Mualem dengan nada yang seolah pasrah.
Fakta ini menyoroti kegagalan sistematis dalam pemulihan infrastruktur. Menurut Mualem, jembatan nasional memang sudah 60% diperbaiki, tetapi jembatan penghubung antar-desa dan kecamatan—yang paling vital bagi masyarakat pedalaman—masih "belum tersentuh" sama sekali. Hasilnya? Anak-anak harus mempertaruhkan keselamatan mereka di atas rakit tradisional yang rapuh, sementara 50.000 hektar sawah terendam lumpur dan sedimentasi mengancam mata pencaharian 25% penduduk Aceh yang bergantung pada nelayan.
Ini bukan kasus baru—sejak 2025, berbagai laporan serupa muncul di Aceh Tengah, Aceh Timur, hingga Aceh Singkil, di mana siswa SD hingga SMA terpaksa turun ke sungai atau menggunakan jembatan gantung yang sudah reyot. Bahkan, ada kasus baut jembatan Bailey dicuri, yang membuat Mualem sendiri naik pitam menyebutnya "kurang ajar" karena menyulitkan rakyat.
Pertanyaan besarnya: Mengapa setelah berbulan-bulan pasca-bencana, prioritas tetap pada jalan nasional sementara akses dasar pendidikan dan ekonomi masyarakat kecil dibiarkan terabaikan? Anggaran triliunan untuk rekonstruksi seolah tak sampai ke desa-desa terpencil.
Apakah ini bukti ketimpangan pembangunan yang kronis, di mana anak-anak miskin di Aceh terus jadi korban birokrasi lambat dan alokasi dana yang salah sasaran?
Mualem meminta bantuan pusat untuk sedimentasi dan infrastruktur, tapi tanpa tindakan tegas dan transparansi anggaran, janji-janji pemulihan hanya akan jadi kata-kata kosong. Sementara itu, generasi muda Aceh terus "naik rakit" demi masa depan—di negeri yang katanya kaya sumber daya.
Sudah saatnya pemerintah pusat dan provinsi bertanggung jawab: Perbaiki jembatan sekarang, sebelum tragedi terjadi! Jangan biarkan anak sekolah Aceh terus bertaruh nyawa hanya untuk belajar.
#JembatanRusakAceh #AnakNaikRakit #PemulihanGagal #AcehPeduli

0Komentar